Arsad Hidayat: Dari Pelayanan Haji hingga Amanah sebagai Sekretaris Ditjen Pesantren

Redaksi

Perjalanan karier seorang birokrat sering kali tidak hanya ditentukan oleh jabatan yang pernah diduduki, tetapi juga oleh pengalaman panjang dalam menjalankan berbagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dalam perjalanan Dr. H. Arsad Hidayat, Lc., M.A., pejabat Kementerian Agama Republik Indonesia yang telah melewati berbagai tugas di bidang pelayanan keagamaan, penyelenggaraan ibadah haji, pembinaan umat, hingga kini mendapat amanah sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI.

Amanah tersebut diterimanya pada 29 September 2026, ketika Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik Sekretaris dan empat Direktur pada Direktorat Jenderal Pesantren. Dalam pelantikan tersebut, Arsad Hidayat ditetapkan sebagai Sekretaris Ditjen Pesantren, sementara sejumlah pejabat lainnya mengisi posisi direktur di lingkungan yang sama. Pelantikan ini menjadi babak baru dalam perjalanan profesional Arsad setelah sebelumnya cukup lama berkecimpung dalam urusan haji dan pembinaan kehidupan keagamaan.

Jabatan barunya tidak datang dari ruang yang kosong. Sebelum memasuki lingkungan Ditjen Pesantren, Arsad telah memiliki pengalaman panjang di Kementerian Agama. Salah satu bidang yang paling menonjol dalam perjalanan kariernya adalah penyelenggaraan ibadah haji. Ia pernah dipercaya menjadi Direktur Bina Haji pada Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Penunjukan tersebut tercatat dalam pelantikan pejabat eselon II Kementerian Agama dan menjadi bagian dari perjalanan kariernya dalam menangani pembinaan jamaah serta petugas haji.

Pengalaman di bidang haji memberinya kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan yang dihadapi jamaah. Sebagai Direktur Bina Haji, ia tidak hanya berbicara mengenai aspek teknis ibadah, tetapi juga mengenai pentingnya pelayanan yang memperhatikan kondisi jamaah. Pada 2023, misalnya, dalam kegiatan sertifikasi pembimbing manasik haji dan umrah profesional di Bandung, Arsad menyoroti perlunya manasik yang menyesuaikan kondisi fisik jamaah lanjut usia. Menurutnya, pengalaman penyelenggaraan haji menunjukkan bahwa kebutuhan jamaah lansia harus menjadi perhatian dalam pembinaan dan bimbingan ibadah.

Perhatiannya terhadap kualitas pelayanan juga terlihat dalam pembinaan calon petugas haji. Dalam kegiatan bimbingan teknis calon petugas PPIH pada 2024, Arsad menekankan bahwa tugas petugas haji bukan sekadar menjalankan ibadah selama berada di Tanah Suci, melainkan memberikan pembinaan, pelayanan, bimbingan, kesehatan, dan perlindungan kepada jamaah. Penekanan tersebut menggambarkan orientasi pelayanan yang menjadi bagian penting dari tugasnya di bidang haji.

Jauh sebelum menduduki posisi-posisi strategis tersebut, Arsad memiliki latar pendidikan Islam yang menjadi salah satu dasar perjalanan profesionalnya. Gelar Lc. menunjukkan latar pendidikan keislaman yang ditempuhnya di luar negeri, sementara gelar magisternya memperkuat kapasitas akademiknya dalam bidang keislaman. Latar pendidikan tersebut kemudian bertemu dengan pengalaman birokrasi yang membuat kiprahnya berkembang dari pelayanan administratif menuju pengelolaan kebijakan dan program keagamaan pada tingkat nasional.

Setelah cukup lama berkecimpung dalam bidang haji, ruang pengabdiannya berkembang ke bidang Bimbingan Masyarakat Islam. Ia dipercaya menjadi Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama RI. Posisi tersebut membawa dirinya pada lingkup tugas yang lebih luas, termasuk persoalan pembinaan masjid, pengembangan pemahaman keagamaan, hisab dan rukyat, syariah, serta pemberdayaan masyarakat melalui lembaga-lembaga keagamaan. Pada 2025, misalnya, ia terlibat dalam program peningkatan kualitas sumber daya manusia pengelola masjid di Sulawesi Tengah. Dalam kegiatan tersebut, ia menekankan pentingnya pengelolaan masjid secara profesional dan terstruktur sehingga masjid dapat berfungsi sebagai pusat ibadah, pendidikan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Perhatian terhadap fungsi sosial lembaga keagamaan juga tampak dalam berbagai kegiatan yang diikutinya. Dalam program Masjid Berdaya Berdampak, Arsad menyampaikan gagasan bahwa masjid memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat pelaksanaan ibadah. Masjid dapat menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi masyarakat sekaligus berperan dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan. Gagasan tersebut juga terlihat dalam program Masjid Ramah Pemudik yang digelar pada akhir 2025.

Selain pembinaan masjid, Arsad juga terlibat dalam persoalan literasi keislaman dan penguatan kehidupan keagamaan generasi muda. Dalam program Ngabuburead: Literate to Elevate yang digelar Kementerian Agama pada 2025, ia menjelaskan bahwa literasi keagamaan perlu dikembangkan melalui ruang interaktif yang memungkinkan generasi muda tidak hanya membaca, tetapi juga berdiskusi dan memahami persoalan keislaman secara lebih luas.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa ruang lingkup pengabdiannya terus berkembang. Jika sebelumnya ia banyak berhadapan dengan persoalan penyelenggaraan haji dan pelayanan jamaah, kemudian ia menangani berbagai persoalan pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat. Pada 2025 hingga awal 2026, Arsad masih tercatat aktif sebagai Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah. Ia terlibat dalam berbagai agenda, mulai dari pembinaan masjid hingga pembahasan hisab dan rukyat serta kalender Hijriah.

Kini, perjalanan tersebut memasuki fase baru melalui penugasannya di Direktorat Jenderal Pesantren. Sebagai sekretaris, Arsad berada dalam struktur yang mendukung pelaksanaan tugas Ditjen Pesantren, sebuah direktorat jenderal yang menangani urusan strategis terkait pesantren. Amanah baru ini sekaligus mempertemukan berbagai pengalaman yang telah ia miliki: pendidikan keislaman, birokrasi, pelayanan masyarakat, pembinaan lembaga keagamaan, serta pengalaman mengelola program di tingkat nasional.

Jika perjalanan Arsad Hidayat dilihat secara keseluruhan, tampak sebuah lintasan pengabdian yang bergerak dari pelayanan langsung kepada jamaah menuju pembinaan masyarakat dan kelembagaan keagamaan. Pengalaman panjang di bidang haji memberinya pemahaman mengenai kebutuhan masyarakat dalam menjalankan ibadah. Sementara pengalaman di Bimas Islam memperluas cakrawala tugasnya ke persoalan masjid, syariah, literasi keagamaan, dan pemberdayaan umat.

Pelantikan sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pesantren pada 29 September 2026 karena itu menjadi kelanjutan dari perjalanan tersebut. Dari pelayanan jamaah haji, pembinaan kehidupan keagamaan, hingga kini berada dalam struktur yang menangani pesantren, Arsad Hidayat menjalani karier birokrasi yang erat dengan pelayanan dan pengelolaan urusan keagamaan. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari dinamika panjang pengabdian seorang aparatur Kementerian Agama dalam menjalankan berbagai amanah di tengah kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer