Dr. H. Mastuki, M.Ag.: Merawat Pendidikan Islam, Menguatkan Pesantren

Redaksi

Perjalanan Dr. H. Mastuki, M.Ag. di lingkungan Kementerian Agama memperlihatkan pengalaman yang panjang dalam bidang pendidikan keagamaan, pengembangan sumber daya manusia, komunikasi publik, hingga pengelolaan kelembagaan. Berbagai posisi yang pernah dipercayakan kepadanya mempertemukan dirinya dengan beragam persoalan pendidikan Islam dan pelayanan keagamaan. Kini, pengalaman tersebut membawanya pada amanah baru sebagai Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Diniyah Formal Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI.

Jabatan tersebut resmi diembannya setelah Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik sekretaris dan empat direktur Ditjen Pesantren di Jakarta pada 29 September 2026. Dalam pelantikan tersebut, Mastuki ditetapkan sebagai Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Diniyah Formal, sebuah bidang yang berkaitan langsung dengan pengembangan pendidikan formal khas pesantren.

Amanah tersebut dapat dilihat sebagai kelanjutan dari perjalanan Mastuki yang selama bertahun-tahun bersentuhan dengan dunia pendidikan keagamaan. Sebelum memasuki posisi barunya di Ditjen Pesantren, ia telah menjalankan berbagai tugas strategis di Kementerian Agama. Ia pernah dipercaya sebagai Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Data dan Informasi Kementerian Agama, kemudian menjadi Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan. Pada 2022, Kementerian Agama secara resmi mencatat pengangkatannya sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan pada Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.

Jika melihat perjalanan tersebut, pendidikan tampak menjadi salah satu benang merah dalam pengabdiannya. Ketika memimpin lembaga pelatihan teknis pendidikan dan keagamaan, Mastuki berada pada posisi yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi aparatur dan tenaga pendidikan. Berbagai dokumen pelatihan Kementerian Agama pada 2024 juga mencantumkan namanya sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan. Dalam kapasitas tersebut, ia menjadi bagian dari pengembangan pelatihan bagi guru, tenaga kependidikan, penyuluh, dan aparatur di lingkungan Kementerian Agama.

Namun, jauh sebelum mendapatkan amanah sebagai pimpinan di bidang pengembangan kompetensi, Mastuki juga dikenal melalui perannya dalam komunikasi publik Kementerian Agama. Ketika menjadi Kepala Biro Humas, Data dan Informasi, ia menaruh perhatian pada pentingnya pengelolaan informasi yang akurat dan terintegrasi. Dalam sebuah kegiatan di Sulawesi Tengah pada 2019, misalnya, Mastuki menyampaikan bahwa data dan informasi merupakan aset penting organisasi yang perlu dikelola secara akurat, berkesinambungan, efektif, efisien, transparan, akuntabel, dan terintegrasi.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ruang kerja Mastuki tidak hanya berkaitan dengan persoalan pendidikan secara langsung, tetapi juga dengan bagaimana lembaga pemerintah mengelola informasi dan menyampaikan kebijakan kepada masyarakat. Pada periode tersebut, ia juga terlibat dalam berbagai agenda komunikasi Kementerian Agama, termasuk pengembangan pelayanan publik dan penguatan keterbukaan informasi. Dalam peresmian Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kanwil Kemenag DKI Jakarta pada 2018, Mastuki hadir sebagai Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Kemenag RI.

Perhatian Mastuki terhadap pendidikan keagamaan juga terlihat dari gagasannya mengenai karakter khas lembaga pendidikan Islam. Dalam pembahasan mengenai penerapan kebijakan lima hari sekolah, ia pernah menekankan bahwa madrasah, diniyah, dan pesantren memiliki karakteristik yang berbeda dari sistem pendidikan umum. Menurutnya, lembaga-lembaga tersebut memiliki kekhasan dalam pola pembelajaran dan pembentukan karakter keislaman sehingga kebijakan pendidikan perlu memperhatikan keragaman tersebut.

Pandangan mengenai kekhasan pendidikan keagamaan menjadi semakin relevan dengan amanah barunya. Pendidikan Muadalah dan Diniyah Formal merupakan bagian penting dari perkembangan pendidikan pesantren di Indonesia. Keduanya memiliki karakteristik yang tumbuh dari tradisi pendidikan pesantren sekaligus memperoleh pengakuan dalam sistem pendidikan nasional. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan pemahaman terhadap tradisi pesantren sekaligus kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan regulasi dan kebutuhan pendidikan modern.

Sebelum menjadi direktur, Mastuki juga memiliki pengalaman dalam lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Rekam jejak pemberitaan Kementerian Agama menunjukkan bahwa ia pernah terlibat dalam berbagai urusan pengembangan pendidikan Islam. Bahkan sejak 2010, namanya telah muncul dalam pembahasan pengembangan pendidikan tinggi keagamaan, termasuk ketika menjadi pejabat di lingkungan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa perjalanan Mastuki tidak berlangsung secara tiba-tiba. Ia telah melewati berbagai lapisan pekerjaan birokrasi pendidikan Islam, mulai dari pengelolaan informasi, pengembangan kelembagaan, peningkatan kompetensi tenaga pendidikan, hingga kebijakan pendidikan keagamaan. Pengalaman lintas bidang tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sebelum akhirnya masuk ke struktur baru Ditjen Pesantren.

Kini, sebagai Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Diniyah Formal, Mastuki berada pada bidang yang sangat strategis dalam perkembangan pendidikan pesantren. Tantangannya tidak hanya berkaitan dengan administrasi kelembagaan, tetapi juga bagaimana pendidikan pesantren tetap mempertahankan karakter dan tradisinya sembari memenuhi kebutuhan masyarakat dan perkembangan sistem pendidikan nasional.

Pesantren sendiri memiliki sejarah panjang dalam pendidikan Islam Indonesia. Pendidikan diniyah dan sistem pendidikan berbasis pesantren telah berkembang jauh sebelum hadirnya sistem pendidikan modern. Karena itu, pengembangan pendidikan muadalah dan diniyah formal tidak dapat dilepaskan dari karakter khas pesantren yang tumbuh secara mandiri di tengah masyarakat. Pandangan Mastuki mengenai kekhasan pendidikan keagamaan sebelumnya menjadi relevan dalam konteks ini.

Di sisi lain, pengalaman Mastuki dalam pengembangan sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya. Ketika memimpin pusat pendidikan dan pelatihan Kementerian Agama, ia berhadapan dengan kebutuhan peningkatan kompetensi tenaga pendidikan dan aparatur. Berbagai pelatihan yang diselenggarakan pada masa tersebut mencakup isu-isu seperti implementasi Kurikulum Merdeka, moderasi beragama, pembelajaran berdiferensiasi, asesmen, serta pengembangan kapasitas tenaga pendidikan.

Dengan demikian, perjalanan Dr. H. Mastuki, M.Ag. dapat dipahami melalui tiga bidang besar: pendidikan, kelembagaan, dan pelayanan publik. Pengalamannya sebagai pejabat humas mempertemukannya dengan persoalan komunikasi dan informasi; pengalamannya sebagai pimpinan pusat pelatihan memperkuat perannya dalam pengembangan sumber daya manusia; sementara amanah barunya di Ditjen Pesantren membawanya kembali pada persoalan pendidikan keagamaan yang memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren.

Pelantikan pada 29 September 2026 akhirnya menjadi babak baru dalam perjalanan tersebut. Sebagai Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Diniyah Formal, Mastuki mendapat amanah untuk turut mengembangkan salah satu bagian penting dari ekosistem pendidikan pesantren Indonesia. Pengalaman panjangnya di Kementerian Agama menjadi bagian dari bekal dalam menjalankan tugas tersebut, sementara pendidikan muadalah dan diniyah formal menjadi ruang baru untuk menerjemahkan pengalaman birokrasi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia ke dalam kebijakan dan pelayanan bagi pesantren.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer