Ada perjalanan menarik dalam sosok Dr. Mahrus, M.Ag. Ia tidak tumbuh hanya sebagai seorang birokrat, tetapi juga dikenal sebagai akademisi, peneliti, dan filolog yang sejak lama menaruh perhatian pada khazanah intelektual Islam Nusantara. Ketertarikannya terhadap pesantren, manuskrip, sejarah Islam, dan tradisi keilmuan lokal kemudian membawanya ke dalam berbagai ruang pengabdian. Kini, perjalanan tersebut memasuki babak baru setelah ia dipercaya sebagai Direktur Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Non Formal Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI. Ia dilantik bersama sejumlah pejabat lain pada 29 September 2026 oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Nama Mahrus cukup dikenal dalam lingkungan kajian Islam dan pernaskahan Nusantara dengan nama Mahrus eL-Mawa. Ia lahir di Cirebon pada 25 Januari 1974. Latar belakangnya sangat dekat dengan tradisi pendidikan Islam. Dalam riwayat hidupnya, Mahrus mencatat pengalaman belajar di lingkungan pesantren, termasuk Pesantren Salafiyah Kauman Pemalang dan Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi yang kemudian membentuk ketertarikannya terhadap tradisi intelektual pesantren.
Namun, perjalanan Mahrus tidak berhenti pada pendidikan pesantren. Ia kemudian menempuh pendidikan tinggi dengan konsentrasi yang semakin mengarah pada kajian keislaman dan pemikiran. Ia menyelesaikan pendidikan Tafsir Hadis pada 1998, kemudian melanjutkan studi Filsafat Islam di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menyelesaikannya pada 2002. Ketertarikannya terhadap sejarah pemikiran Islam dan warisan intelektual Nusantara selanjutnya membawanya ke Universitas Indonesia untuk mendalami filologi. Di sana ia meneliti naskah-naskah Cirebon, khususnya yang berkaitan dengan tradisi Tarekat Syattariyah.
Baca Juga
Orang Biasa, Cak Di Telah MenginspirasiFilologi kemudian menjadi salah satu ciri penting perjalanan intelektual Mahrus. Baginya, manuskrip bukan sekadar benda lama yang disimpan di perpustakaan atau koleksi pribadi. Di dalamnya terdapat jejak pemikiran, pengetahuan, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat masa lalu. Dalam berbagai tulisannya, ia menunjukkan bagaimana naskah kuno dapat digunakan untuk memahami perkembangan Islam di berbagai wilayah Nusantara.
Perhatian tersebut terlihat dalam penelitiannya mengenai manuskrip Cirebon. Mahrus, misalnya, meneliti naskah Syattariyyah wa Muhammadiyyah serta berbagai manuskrip keislaman lainnya. Karya-karyanya mengenai Cirebon juga banyak membahas hubungan antara Islam, budaya lokal, dan sejarah perkembangan masyarakat. Repository UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mencatat sejumlah karya Mahrus mengenai Cirebon, termasuk kajian tentang Islam Cirebon, Sunan Gunung Jati, dan rekonstruksi kejayaan Islam di Cirebon.
Bagi Mahrus, menjaga manuskrip berarti menjaga bagian dari memori intelektual masyarakat. Ia pernah menyampaikan bahwa naskah-naskah klasik pesantren yang masih tersebar di masyarakat perlu dilacak dan dikaji. Menurutnya, manuskrip dapat memperlihatkan kekhasan lokal suatu tradisi keislaman, termasuk bagaimana pengetahuan agama berinteraksi dengan budaya setempat. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa perhatian Mahrus terhadap pesantren tidak hanya berada pada aspek kelembagaannya, tetapi juga pada warisan pengetahuan yang berkembang di dalamnya.
Perjalanan sebagai peneliti kemudian berjalan beriringan dengan aktivitasnya sebagai akademisi. Sejak 2003, Mahrus tercatat menjadi dosen di STAIN Cirebon yang kemudian berkembang menjadi IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Ia juga terlibat dalam pendirian Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon dan pernah dipercaya menjadi Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat serta Dekan Fakultas Ushuluddin. Di lingkungan STAIN/IAIN Cirebon, ia juga terlibat dalam pengembangan penelitian dan metode riset partisipatoris.
Kiprah akademiknya menghasilkan sejumlah karya. Ia menulis tentang sejarah Islam Cirebon, pemikiran Islam, tarekat, manuskrip, serta hubungan Islam dan kebudayaan lokal. Salah satu karya yang tercatat adalah Kajian Filologis dalam Berbagai Aspek: Pengayaan Perspektif dalam Studi Islam di PTAI. Ia juga berkontribusi dalam berbagai kajian mengenai budaya Islam Nusantara. Dalam publikasi akademiknya, Mahrus terlihat konsisten menghubungkan kajian teks dengan realitas sosial masyarakat.
Pengalaman akademik tersebut pada akhirnya bertemu dengan dunia birokrasi. Mahrus kemudian dipercaya menjalankan berbagai tugas di lingkungan Kementerian Agama, terutama yang berkaitan dengan pendidikan tinggi keagamaan dan pesantren. Salah satu posisi yang pernah diembannya adalah Kepala Subdirektorat Pendidikan Ma’had Aly. Dalam posisi ini, ia terlibat dalam pengembangan pendidikan tinggi berbasis pesantren, termasuk penguatan riset, peningkatan kapasitas akademik, dan pengembangan pembelajaran di Ma’had Aly. Profil yang lebih baru juga mencatat keterlibatannya dalam pengembangan pendidikan pesantren dan tradisi keilmuan Islam.
Pengalaman tersebut menjadi penting ketika Kementerian Agama mulai memperkuat struktur kelembagaan yang secara khusus menangani pesantren. Mahrus sebelumnya telah berada cukup dekat dengan persoalan pendidikan pesantren, terutama Ma’had Aly dan tradisi keilmuan turats. Karena itu, amanah barunya sebagai Direktur Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Non Formal memperluas ruang pengabdiannya ke bidang dakwah dan pendidikan nonformal pesantren.
Jabatan tersebut resmi diembannya setelah pelantikan pejabat eselon II Ditjen Pesantren pada 29 September 2026. Kementerian Agama menyebut pembentukan dan pengisian struktur Ditjen Pesantren sebagai bagian dari upaya membangun kelembagaan baru yang secara khusus memperhatikan masa depan pesantren dan santri. Dalam struktur tersebut, Mahrus mendapat tugas di bidang bina dakwah pesantren dan pendidikan nonformal.
Jika perjalanan Mahrus dilihat secara utuh, terdapat satu benang merah yang menarik: pengetahuan dan pesantren. Dari lingkungan pesantren, ia memasuki dunia akademik; dari dunia akademik ia mendalami manuskrip dan sejarah intelektual Islam; kemudian pengalaman tersebut membawanya ke birokrasi pendidikan Islam. Kini, ia kembali berada pada ruang yang sangat dekat dengan akar perjalanan intelektualnya, yakni pesantren.
Karena itu, jabatan baru Mahrus bukan sekadar kelanjutan karier birokrasi. Ia juga menjadi titik temu antara pengalaman sebagai santri, akademisi, filolog, peneliti, dan pejabat Kementerian Agama. Khazanah manuskrip yang dahulu menjadi objek kajiannya merupakan bagian dari warisan intelektual pesantren yang perlu terus dirawat dan dikembangkan. Sementara pesantren yang kini menjadi bagian dari tanggung jawabnya merupakan ruang hidup tempat tradisi keilmuan tersebut terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Perjalanan Dr. Mahrus, M.Ag. dengan demikian menggambarkan sebuah lintasan dari tradisi keilmuan menuju pengabdian kelembagaan. Dari Cirebon, dunia pesantren, ruang-ruang akademik, penelitian manuskrip, hingga birokrasi Kementerian Agama, setiap tahap perjalanan tersebut memiliki hubungan dengan perhatian utamanya terhadap Islam dan tradisi intelektual Nusantara. Kini, melalui amanah sebagai Direktur Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Non Formal, ia memasuki fase baru untuk turut mengambil bagian dalam pengembangan pesantren dan pendidikan keagamaan nonformal di Indonesia.