Yogyakarta_ Sore itu setelah pembelajaran di kelas tak sengaja aku bertemu teman baru, namanya (baca: Aqib). Aqib ini sama sepertiku, mahasiswa baru di Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tampaknya Aqib juga habis mengikuti mata kuliah di kelasnya. Kita bertemu tanpa janjian, ia masih menenteng buku tebal sedangkan aku masih setia dengan tas usang yang terbeli lima tahun silam.
Kursi pojok sebelah pos satpam menjadi sasaran duduk untuk melanjutkan perbincangan. Walaupun Aqib ini terbilang kawan baru, tapi model komunikasi, humor, dan bicaranya terasa cocok seolan-olah kita sudah kenal lama. Perbincangan sore itu pun mengalir tanpa kopi maupun gorengan, hanya tiga batang rokok, itu pun hanya untuk Aqib karena aku tidak pernah merokok.
Topik pembicaraan berangkat dari masalah pekerjaan, satu topik yang mulai aku diskusikan sejak umur menginjak kepala dua. Aqib cerita bahwa dirinya adalah mantan budak korporat yang pernah mendekam di kantor selama tujuh jam perharinya. Walaupun gajinya terbilang memadai, pekerjaan itu ditinggalkan karena beberapa sebab yang bertentangan dengan prinsipnya. Gaung bersambut, pasca resign ia memilih menjadi pebisnis yang kini sudah menghasilkan cuan. Disclaimer, aku tidak hendak bercerita tentang pekerjaannya, aku akan bercerita bagaimana teologi, latar belakang, dan pengetahuan saling bekerja secara simultan.
Baca Juga
Pesantren dan Masa Depan IndonesiaAku lupa, ia membahas apa sebelumnya. Satu hal yang aku ingat dia mengatakan secara jelas, “aku ini termasuk orang yang belum begitu percaya tuhan mas.” Sedikit terkejut, karena aku jarang bertemu dengan orang di luar mainstream pikiran konservatifku. Tapi aku segera menyadari bahwa ini adalah Kota Jogja, Kampus UIN SUKA, celakanya Mazhab Sapen juga. Lingkungannya mengajarkan bahwa semua potensi terjadi dan kebenaran tidak ada yang absolut. Kita putuskan diskusi ini terus berlanjut walaupun sambil nahan kencing yang sudah di pucuk tanduk.
Aqib adalah seorang agnostik yang kini sedang berada pada fase pencarian batin spiritual. Ia mengaku, sejak kelas 2 SMA sudah tidak pernah melakukan salat apa lagi puasa. Keluarganya termasuk tokoh muslim yang dihormati di kampung karena memilik pesantren, masjid, dan Yayasan sosial. Penghafal Al Qur’an yang lulus dari Pesantren Tahfiz ternama di Jawa Timur ini juga lulusan S1 dari kampus yang bernaung atap pesantren dengan konsentrasi pada keilmuan Al Quran dan tafsir. Sekali lagi aku tegaskan, sedikitpun di kepalaku tidak ada justifikasi ataupun cemoohan kepada Aqib. Justru aku merasa senang bisa kenal dan diskusi secara terbuka dengannya.
Aqib dengan leluasa menceritakan perjalan batin dan spiritualnya kepadaku, mulai dari buku yang dibacanya hingga doktrin positivistik yang dianutnya dan dari doktrin keluarganya hingga bertemunya dengan sosok misterius di daerah Jombang Jawa Timur. Menurutnya esensi ketuhanan itu sudah cukup ada dan terlihat, namun tidak dengan pengaplikasiannya. Pengaplikasian nilai ketuhanan menurutnya tidak bisa diimplementasikan karena pada hakikatnya partikel dan organ tubuh bekerja secara organik, terstruktur, dan pada kodratnya sendiri. Jadi tuhan tidak campur tangan.
Aku mendengarkan paparan dan argumentasinya dengan saksama. Dia kutip banyak referensi baik yang berasal dari kaum teoritisi orientalis ataupun oksidentalis. Bahkan sesekali dia membandingkan penafsiran Al Qur’an dan teks keagamaan lainnya dengan realitas yang wujud secara empiris dan kasat mata. Sekilas penjelasan panjang yang tidak bisa aku paparkan dalam tulisan ini membawaku memahami bahwa inklusifitas terhadap gejala sosial dan nilai kemanusiaan itu sangat penting.
Aqib yang dengan santai dan terbuka bercerita kepadaku jelas tidak mungkin tanpa dasar apapun. Setidaknya dia paham bila aku tidak mugkin memberikan justifikasi ataupun bantahan atas argumentasi ataupun keyakinan yang dianutnya, dan fakta ini memang betul. Harus aku katakan secara jujur, bahwa aku suka dengan pikiran yang terbuka dan kirits. Orang yang seperti itu, bahkan dengan berani menyatakan bahwa dirinya adalah seorang yang dalam tanda kutip “masih agnostik” adalah tanda bahwa dia seorang pemikir. Terlepas urusan kepercayaan, suaka pengetahuan yang dibangun di kampus yang sedang kita gunakan belajar ini mengajarkan nilai kemanusiaan dan inklusifitas.
Perdebatan sesekali terjadi, walaupun pasti kita selingi dengan candaan dan guyonan. Pertemuan kita akhirnya menyimpulkan satu hal bahwa kampus UIN Sunan Kalijaga yang kini menjadi kawah candradimuka bagi kita adalah kampus yang memainkan peran secara adaptif. Mahasiswa dianggap sebagai aplikasi yang berhak menerima semua fitur teori pada ilmuan. Dengan bekal teori itu mahasiswa bisa menggunakan pola dan kerangka di waktu dan situasi yang tepat. Kampus mengambil posisi yang tepat karena tidak meletakkan suaka akademiknya pada dimensi teologis, melainkan pada simpul akademik dan pengetahuan. Sederhananya, mahasiswa diajarkan banyak sekali teori bukan dengan maksud mendoktrin atapun memasukan unsur teologis peribadatan. Kampus mengajarkan banyak pola pandang untuk kemudian bisa dijadikan sebagai teropong realitas keagamaan dan sosial secara beradab dan berakademis. Ingat, ini Mazhab Sapen