Balaghah

Bedeh Beddhenah Beddhe’ Peddhe dalam Pelajaran Balaghah

Ahmad Husnulyakin

Coba baca bait syair ini:

وليس قُربَ قَبْرِ حَزبٍ قَبْرُ

Ada berapa huruf Ra’ (ر) dalam penggalan bait itu?

Atau contoh yang ini!

كريمٌ مَتَى أَمْدَخْهُ أَمْدَحْهُ والوَرَى معي، وإذاما لُمْتُهُ لُمْتُهُ وَحدِي

Jika kita cermati, ada dua kata yang diulang dua kali.

Konon orang Arab dinyatakan kesulitan melafalkan beberapa kalimat di atas. Para ulama balaghah menamai kesulitan tersebut dengan tanafur al-kalimat.

Di dalam kitab Aqshal Qurb karya Al-Qadhi At-Tanukhi, terdapat keterangan yang mengarah pada kesimpulan bahwa fashahat (kefasihan) itu mutlak hanya ada pada penuturan orang Arab, sedangkan balaghah (keindahan makna) bisa ditemukan di semua bahasa.

Pandangan ini tampaknya perlu ditinjau ulang. Bahauddin al-Subki dalam ‘Arus al-Afrah secara tidak langsung membuka ruang sanggahan: setiap bahasa di dunia ini memiliki potensi cacat berupa susunan huruf yang kaku, kosakata ganjil, serta penyimpangan kaidah. Oleh karena itu, jika suatu kalimat non-Arab berhasil bersih dari cacat-cacat tersebut, maka definisi fasih secara otomatis juga berlaku dan sah disematkan padanya. (Baca: Bahauddin Ahmad bin ‘Ali al-Subki, ‘Arūs al-Afrāḥ fī Syarḥ Talkhīṣ al-Miftāḥ, cet. 1 (Beirut: Al-Maktabah al-‘Aṣriyyah, 2003), vol. 1, hal. 97.)

Fenomena tanafur nyatanya bukan monopoli bahasa Arab. Jika kita membawa pisau analisis Balaghah ini ke dalam ruang lingkup bahasa Indonesia, kita akan menemukan gejala yang cenderung persis.

Sama halnya dengan fenomena pada kalimat di atas, cacat estetika ragam ini bukanlah hanya terjadi di sastra Arab klasik. Sifat tanafur ini bekerja secara universal di semua bahasa, menjelma menjadi apa yang dalam linguistik modern kerap kita kenal sebagai tongue twister atau permainan pelintir lidah. Gejala ini jamak ditemukan dalam bahasa daerah maupun bahasa Indonesia, sering kali sengaja diciptakan sebagai guyonan lokal yang menguji kepekaan intuisi (rasa bahasa) kita.

Dalam masyarakat Madura, misalnya, terdapat frasa klasik yang sangat menguras kerja alat ucap: “Bedeh Beddhenah beddhe’ peddhe” (Ada wadahnya bedak pecah). Rentetan letupan bunyi dental dan vokal yang mirip di dalamnya memaksa lidah bekerja ekstra presisi agar tidak tergelincir menjadi bunyi yang keliru. Di pelintiran ini kita setidaknya diajak orang Madura untuk belajar beberapa penggunaan huruf dan membedakan antara de, dhe dan dhe’.

Jika kita membawa pelajaran balaghah ini ke dalam bahasa Indonesia, kita akan menemukan sekumpulan kalimat yang memiliki efek kelelahan artikulasi yang cenderung persis dengan bait puisi Arab di atas:

  • “Ular melingkar-lingkar di atas pagar kata dokter aku pintar.” (Kekakuannya lahir dari pengulangan getaran huruf r yang beruntun, memaksa ujung lidah mengetuk langit-langit tanpa jeda yang ideal).
  • “Kuku kaki kakek koki kakakku kaku-kaku.” (Sebuah penumpukan konsonan hambat k yang monoton, menciptakan efek ketukan yang kaku di pangkal lidah).
  • “Satu ribu biru, dua ribu biru, tiga ribu biru.” (Transisi cepat antara vokal dan getaran r-b-r-b yang menjebak memori artikulasi).
  • “Kelapa diparut, kepala digaruk.” (Sebuah permainan oposisi fonem antara l-p dan p-l yang sangat potensial memicu selip lidah).
  • “Dudung ambilkan dandang di dinding dong, Dung!” (Dominasi bunyi dental d yang beruntun, membuat rongga mulut terasa penuh).
  • “Satu soto sapi sama seratus tusuk sate sapi.” (Aliran desis huruf s yang berjejal, menguras kestabilan embusan napas).
  • “Rika tarik-tarik rok Rina dan Rina tarik-tarik rok Rika.” (Pertukaran nama dan objek yang repetitif, menjebak kesadaran subjek dan predikat).

Walhasil, rangkaian kalimat di atas memberikan kita sebuah kesadaran teoretis yang penting.

Ketika hubungan antar-kata mengabaikan kenyamanan indra pendengaran dan kesiapan alat ucap, maka runtuhlah aspek estetika dari kalam tersebut. Rasa bahasa yang sehat akan selalu menolak kepadatan bunyi yang saling menjegal, dan sebaliknya, akan selalu merindukan kalimat yang mengalir jernih, runtut, serta ringkas tanpa beban.

Namun walaupun demikian, walau terbilang bukan gabungan kalimat yang fasih menurut bahasa Arab dan mungkin bahasa Indonesia juga, bukankah kita suka bersilat lidah dan bermain-main dengan game pelintir lidah?

Kalau iya, ayo kita main, katakan tok kettokeh kokoh (Ketokan kuku: Madura)!.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer