Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Ketika Perempuan Tidak Lagi Membutuhkan Laki-Laki, Apa yang Tersisa dari Maskulinitas?

Saidatun Nisa'
· Diperbarui 10 August 2026

Ada satu pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup mendistract pola pikir kita dalam memahami relasi laki-laki dan perempuan. Pertanyaan menggeletik, ketika perempuan sudah mampu berdiri sendiri, apa sebenarnya yang membuat laki-laki merasa dirinya tetap dibutuhkan?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika melihat realita masa kini dengan semakin banyak perempuan yang berpendidikan tinggi, bekerja, memperoleh penghasilan sendiri, menjadi pemimpin, hingga sampai hal yang krusial mengambil keputusan atas hidupnya  untuk menikah ataupun tidak.

Sejatinya hak seperti itu bersifat general, tidak untuk perempuan saja tetapi juga hak atas diri masing-masing manusia termasuk juga laki-laki. Akan tetapi paradigma relasi antar keduanya sudah seharusnya ditelaah kembali, karena bagaimana pun tujuan adanya pasangan adalah untuk meneruskan generasi, terutama mencegah kepunahan manusia.

Selama berabad-abad, laki-laki dibentuk dengan sebuah konstruksi sosial yang sederhana namun juga berat, laki-laki memiliki jiwa provider dan harus merasa dibutuhkan.

Laki-laki harus menjadi tulang punggung utama dalam mencari nafkah. Ia harus menjadi pelindung, menjadi pemimpin dan  harus lebih kuat. Berani dan mampu mengambil keputusan, memiliki kemampuan menytabilitaskan ekonomi keluarga dan juga harus menjadi tempat perempuan untuk bersandar, begitulah nalurinya bermain.

Masalah muncul ketika perempuan tidak lagi selalu membutuhkan semua itu di saat semua  karakter laki-laki sudah dapat wanita miliki, bahkan bisa dikatakan melebihi. Hal demikian menjadikan kegelisahan atas pertanyaan posisi fungsional laki-laki dan secara tidak langsung juga memperlihatkan betapa sempitnya konstruksi tentang maskulinitas yang selama ini kita pahami.

Jika satu-satunya alasan laki-laki merasa berharga adalah karena perempuan bergantung kepadanya, maka kemandirian perempuan tentu akan terasa seperti ancaman. Ketika perempuan tidak lagi membutuhkan perlindungan ekonomi, laki-laki yang terbiasa mendefinisikan dirinya sebagai “penyedia” dapat merasa kehilangan identitas. Ketika perempuan mampu mengambil keputusan sendiri, laki-laki yang terbiasa menjadi “pengambil keputusan” dapat merasa kehilangan otoritas. Dan ketika perempuan tidak takut hidup sendirian, laki-laki yang terbiasa merasa dirinya sebagai satu-satunya jalan menuju keamanan dapat merasa tidak lagi memiliki posisi istimewa.

Di sinilah ruang feminis menjadi penting untuk dibicarakan. Feminisme pada dasarnya tidak hanya mempertanyakan mengapa perempuan dibatasi oleh konstruksi gender, tetapi juga membuka ruang untuk mempertanyakan konstruksi yang membentuk laki-laki. Ketika perempuan mengatakan, “Saya tidak harus bergantung kepada laki-laki untuk hidup,” sebenarnya muncul pertanyaan yang tidak kalah penting “Apakah laki-laki juga harus terus-menerus hidup dengan keyakinan bahwa ia harus menjadi penyelamat perempuan?”

Selama ini, pembebasan perempuan sering dipahami sebagai proses keluar dari ketergantungan, padahal pembebasan gender juga berarti membebaskan laki-laki dari kewajiban untuk selalu menjadi pihak yang paling kuat atas segala larangan, seperti laki-laki tidak boleh menangis, tidak boleh takut dan terlalu lembut. Laki-laki tidak boleh meminta pertolongan dan harus mampu menyelesaikan semuanya sendiri.

Kalimat-kalimat tersebut sering dianggap sebagai nasihat untuk membentuk laki-laki yang tangguh. Tanpa disadari, kalimat yang sama juga dapat membuat laki-laki kehilangan hak untuk menjadi manusia yang utuh.

Di sinilah patriarki memiliki paradoksnya sendiri. Sistem patriarki memberikan privilese posisi yang lebih dominan dalam  struktur sosial, tetapi pada saat yang sama menciptakan standar maskulinitas yang dapat menekan laki-laki. Laki-laki diberi otoritas, tetapi dituntut untuk selalu siap menggunakannya. Laki-laki diberi posisi sebagai pelindung, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk mengakui bahwa dirinya juga membutuhkan perlindungan.

Karena itu, mengatakan bahwa laki-laki juga terdampak oleh patriarki tidak berarti menyamakan penderitaan laki-laki dengan perempuan. Perempuan tetap mengalami bentuk diskriminasi dan subordinasi yang berbeda dan, dalam banyak konteks, lebih sistemik. Namun, penting juga  melihat dampak patriarki terhadap laki-laki  agar pembicaraan tentang gender tidak berubah menjadi saling menyerang antara kedua relasi.

Sebab itulah istilah dari perempuan independen seharusnya tidak menjadi musuh maskulinitas. Justru, perempuan independen dapat menjadi kesempatan baru bagi laki-laki untuk menemukan bentuk maskulinitas yang baru. Seperti halnya laki-laki boleh kuat, tetapi kuat tidak harus berarti dominan, menjadi pemimpin, tetapi tidak berarti harus mengendalikan. Ataupun laki-laki boleh mencintai perempuan, tetapi cinta tidak boleh berubah menjadi kebutuhan untuk menguasai.

Begitu pula dengan perempuan. Mereka tidak perlu mengubur pendidikan ataupun impian  tinggi agar laki-laki merasa nyaman. Tidak perlu mengurangi ambisi agar dianggap layak dicintai ataupun perempuan tidak perlu menjadi lemah agar laki-laki dapat merasa kuat.

Kesadaran seperti itu akan memetakan perbedaan statement kebucinan dari “aku membutuhkanmu karena aku tidak mampu hidup tanpamu” yang berarti ketergantungan dengan statement,” aku memilihmu meskipun aku mampu hidup tanpamu.” yang berarti pilihan. Dan hubungan yang dibangun atas pilihan memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjadi hubungan yang setara. Dan di sinilah poinnya.

Pada akhirnya bertajuk pada perspektif kesalingan mubādalah, laki-laki dan perempuan tidak harus diposisikan sebagai dua pihak yang saling berkompetisi. Keduanya dapat dipahami sebagai subjek yang sama-sama memiliki martabat, tanggung jawab, hak, dan kesempatan untuk berkontribusi.

Perempuan mandiri bukan ancaman bagi laki-laki. Ia justru dapat menjadi pasangan yang mampu berjalan berdampingan, bukan seseorang yang harus selalu berjalan di belakang. Begitupun laki-laki, mampu menerima kemandirian perempuan juga bukan laki-laki yang kehilangan kekuasaannya. Barangkali inilah bentuk maskulinitas yang lebih matang dengan tidak lagi membutuhkan perempuan yang lemah untuk membuktikan bahwa dirinya kuat.

Inilah bentuk feminisme yang  perlu terus diwacanakan dengan tidak hanya membicarakan ruang kemandirian perempuan, tetapi juga menciptakan dunia di mana laki-laki pun tidak perlu terus-menerus berpura-pura bahwa ia tidak pernah membutuhkan siapa pun.

Keduanya tidak kehilangan identitas hanya karena tidak mengikuti peran gender yang selama ini dianggap “seharusnya”, karena  kesetaraan yang sesungguhnya bukan ketika perempuan menjadi seperti laki-laki atau laki-laki menjadi seperti perempuan, tetapi memiliki kebebasan untuk menjadi manusia apa adanya.

Akhirul Kalam, “laki-laki dibutuhkan untuk apa ketika perempuan sudah mandiri?”

Jawab dengan sederhana, Laki-laki tidak hadir karena perempuan tidak mampu hidup tanpanya. Laki-laki hadir karena, sebagaimana perempuan, ia adalah manusia yang memilih untuk mencintai, menemani, berbagi, dan tumbuh bersama manusia lain.

 

 

Saidatun Nisa'
Ditulis oleh

Saidatun Nisa'

Penulis belum menambahkan biodata singkat.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer