Ada masa ketika sebuah negeri ingin bergerak sangat cepat. Sawah harus menghasilkan lebih banyak, lumbung harus penuh, rakyat harus punya cukup makanan untuk dimakan. Keinginan seperti itu terdengar wajar saja. Siapa, sih, yang tidak ingin panen melimpah?
Di tengah semangat besar itulah perhatian orang mulai tertuju pada makhluk kecil yang setiap hari beterbangan di atas ladang: burung pipit. Mereka datang bergerombol, hinggap di antara tanaman, mematuk biji-bijian satu per satu. Dari situ muncul hitungan yang kedengarannya masuk akal โ seekor pipit mungkin cuma makan sedikit, tapi kalau jumlahnya jutaan, berapa banyak hasil panen yang sebenarnya hilang? Kesimpulannya pun lahir dengan cepat: pipit adalah musuh panen.
Maka pada akhir 1950-an, Tiongkok di bawah Mao Zedong memasukkan burung pipit ke dalam sasaran kampanye Four Pests. Orang-orang keluar rumah, memukul panci dan wajan, membunyikan gong, merusak sarang, membuat burung-burung itu terus terbang tanpa sempat hinggap sampai akhirnya kelelahan dan mati. Untuk sementara waktu, semua ini kelihatan berhasil. Populasi pipit menurun drastis, dan orang merasa sudah menemukan musuh, sudah bertindak nyata.
Tapi alam ternyata punya cerita yang jauh lebih panjang daripada sebuah slogan. Betul, pipit memang makan biji-bijian. Yang luput dari perhitungan orang saat itu adalah pipit juga makan serangga. Begitu jumlah mereka anjlok, hama serangga kehilangan predator alaminya dan berkembang biak tanpa kendali, lalu merusak tanaman jauh lebih parah dari yang pernah dilakukan burung-burung itu. Di titik itulah baru terlihat ironinya: makhluk yang tadinya dianggap cuma masalah, ternyata justru bagian dari mekanisme yang selama ini menjaga keseimbangan.
Kisah ini biasanya diceritakan sebagai contoh klasik kegagalan kebijakan lingkungan. Tapi menurut saya, pelajaran yang paling penting darinya sebenarnya bukan tentang pipit sama sekali. Ini cerita tentang betapa mudahnya manusia jatuh cinta pada penjelasan yang sederhana.
Coba pikirkan, hampir semua persoalan besar yang kita hadapi punya banyak sebab sekaligus. Kemiskinan, pengangguran, pendidikan yang buruk, korupsi, kemacetan, konflik sosial โ semuanya rumit dan bermata rantai. Sayangnya, kerumitan seperti itu tidak enak dijadikan slogan. Jauh lebih gampang bilang “ini biang keladinya,” apalagi kalau biang keladi itu punya wajah yang jelas. Begitu satu penyebab ditunjuk, jalan menuju solusi pun terasa pendek: ada pipit yang makan padi? Basmi saja. Ada kelompok yang dianggap sumber masalah? Singkirkan.
Dunia politik menyukai jalan pintas seperti ini, karena penyederhanaan mudah dikomunikasikan dan mudah menggerakkan orang. Mengajak jutaan orang memahami cara kerja ekosistem jauh lebih sulit ketimbang cukup bilang, “pipit itu hama.”
Di situlah masalahnya bermula. Sebuah kebijakan bisa berangkat dari fakta yang benar, tapi berakhir pada keputusan yang keliru, karena sepotong kebenaran diperlakukan seolah itu sudah keseluruhan kebenaran. Pipit memang makan biji-bijian โ itu tidak salah. Tapi berhenti di situ membuat orang tidak sempat bertanya lebih jauh: apa lagi yang dimakan pipit, apa fungsinya bagi ekosistem, apa yang terjadi kalau satu mata rantai tiba-tiba dihilangkan. Dan semakin besar semangat untuk segera bertindak, pertanyaan semacam ini justru semakin dianggap penghalang โ orang yang bertanya dicap tidak mendukung tujuan bersama, sementara orang yang menawarkan jawaban sederhana terdengar lebih tegas dan meyakinkan.
Padahal kebijakan publik tidak selalu butuh pemimpin yang paling cepat berkata, “saya sudah tahu masalahnya.” Kadang yang dibutuhkan justru keberanian untuk mengaku, “kita belum sepenuhnya memahami masalah ini.” Kesalahan memang sulit dihindari sepenuhnya dalam kebijakan โ informasi yang tersedia tidak pernah sempurna, dan ahli pun bisa keliru. Yang benar-benar berbahaya adalah ketika sebuah kebijakan kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya mungkin salah. Karena itu kebijakan yang sehat butuh ruang untuk dikritik dan sewaktu-waktu diubah โ bukan supaya pemerintah jadi ragu-ragu, tapi karena dunia yang hendak diubahnya jauh lebih rumit daripada tabel perencanaan mana pun.
Tentu, kisah pembasmian pipit ini bukan satu-satunya sebab dari tragedi kelaparan besar yang menyusul pada masa Great Leap Forward. Sejarahnya jauh lebih rumit daripada sekadar “pipit dibunuh, lalu kelaparan datang” โ dan menyederhanakannya seperti itu justru akan mengulang kesalahan berpikir yang sedang kita bicarakan di sini. Tapi sebagai sebuah metafora, kisah ini tetap terasa kuat. Ia mengingatkan kita bahwa niat baik tidak pernah menjamin akibat yang baik. Panen yang lebih melimpah adalah tujuan yang baik. Menjaga pangan rakyat adalah tujuan yang baik. Menggerakkan masyarakat demi kepentingan bersama pun terdengar baik. Tapi tujuan yang baik tetap membutuhkan pemahaman yang baik pula tentang dunia yang sedang hendak diubah.
Mungkin pelajaran ini justru semakin relevan hari ini. Setiap kali kita mendengar persoalan besar dijelaskan hanya dengan satu penyebab tunggal โ dan segera disusul satu solusi besar yang meminta semua orang bergerak serentak menjalankannya โ ada baiknya kita sedikit curiga. Bukan berarti penjelasan sederhana selalu salah. Kita memang butuh penyederhanaan untuk bisa memahami dunia sama sekali. Tapi penyederhanaan seharusnya menjadi pintu masuk untuk memahami masalah, bukan pintu yang menutup kemungkinan penjelasan lain. Sebab masyarakat yang berhenti bertanya begitu menemukan satu penyebab memang mudah digerakkan. Tapi masyarakat yang mudah digerakkan belum tentu sedang bergerak ke arah yang benar.
Karena itu, setiap kali kita hendak “memburu pipit,” ada baiknya menunda sebentar kegembiraan menemukan musuh, lalu mengajukan satu pertanyaan kecil saja: kalau pipit ini hilang, apa lagi yang ikut berubah?
Pertanyaan itu memang tidak terdengar heroik. Tidak mudah dijadikan slogan. Tidak akan membuat orang beramai-ramai keluar rumah memukul panci. Tapi dalam kebijakan publik, satu pertanyaan yang mengganggu kadang jauh lebih berguna daripada seribu orang yang serempak menjalankan jawaban yang terlalu sederhana.