Membanjirnya konten keagamaan, termasuk ada buku yang tengah banyak diperbincangkan “Islam Ala Ala” di media sosial. Ada satu jenis konten yang diam-diam terus tumbuh dan bahkan mampu bersaing dengan konten hiburan arus utama: konten agama. Tidak sedikit orang yang mulanya sekadar mengunggah bacaan Al-Qur’an atau renungan singkat, lama-kelamaan berubah menjadi figur publik dengan ribuan bahkan jutaan pengikut.
Menarik untuk dicermati, sebab ketenaran yang lahir dari konten agama membawa dinamika yang berbeda dibanding ketenaran pada umumnya. Terutama karena ada nilai kesucian yang harus dijaga di tengah logika media sosial yang serba mengutamakan visibilitas dan popularitas.
Sebuah studi yang dilakukan terhadap para penghafal Al-Qur’an di sejumlah kampus keislaman di Jawa Timur, sebagaimana dipaparkan dalam jurnal “Balancing the Sacred and the Aesthetic”, memberi gambaran yang cukup jelas tentang bagaimana proses menuju ketenaran ini sebenarnya berlangsung.
Baca Juga
Pandangan Al-Qur’an Terhadap PerempuanDalam studi tersebut dijelaskan bahwa bacaan Al-Qur’an yang dibawakan dengan penuh penghayatan menjadi semacam modal utama yang membedakan seorang penghafal Al-Qur’an dari kreator konten pada umumnya. Rekaman suara yang jernih, disertai penampilan visual yang sederhana namun mendukung, mampu membangun kesan sebagai sosok yang saleh dan kredibel di mata audiens.
Dari titik inilah biasanya ketenaran mulai terbentuk, sebab audiens digital cenderung mudah tersentuh oleh sesuatu yang terasa tulus dan autentik, jauh dari kesan dibuat-buat.
Namun menariknya, jalan menuju ketenaran lewat konten agama ini tidak semulus kelihatannya. Studi tersebut menunjukkan bahwa algoritma media sosial ikut berperan sebagai semacam sutradara tak kasat mata yang menentukan konten seperti apa yang akan lebih banyak dilihat orang.
Untuk bisa terus muncul di beranda audiens, kreator konten agama pada akhirnya dituntut menyesuaikan gaya penyampaian mereka agar lebih menarik secara visual, entah lewat pemilihan musik latar, transisi video, atau format yang sedang tren. Di titik inilah muncul ketegangan yang cukup pelik: semakin seseorang ingin dikenal luas, semakin besar pula godaan untuk menambahkan unsur hiburan yang sebenarnya berpotensi menggeser esensi pesan keagamaan itu sendiri.
Ketenaran lewat jalur media sosial juga ternyata membawa risiko yang tidak kalah besar, yaitu hilangnya kredibilitas. Ketika unsur hiburan mulai mendominasi dan mengalahkan substansi pesan, audiens perlahan bisa mulai meragukan ketulusan sang kreator.
Kesan yang semula dibangun sebagai sosok yang saleh dan bersahaja bisa runtuh seketika, lalu berganti menjadi kesan sebagai penghibur biasa yang kebetulan mengangkat tema agama. Studi tersebut menyebutnya sebagai gangguan pertunjukan, sebuah momen ketika audiens berhenti percaya pada keaslian sebuah penampilan karena elemen hiburan dirasa terlalu berlebihan dibanding muatan spiritual yang dibawakan. Bagi banyak kreator konten agama, menjaga agar hal ini tidak terjadi menjadi tantangan tersendiri yang harus terus-menerus dikelola, bukan sekali jadi lalu selesai.
Yang tidak kalah menarik, bahwa tidak semua orang yang punya kapasitas keagamaan besar justru ingin dikenal luas. Sebagian penghafal Al-Qur’an yang diteliti justru memilih untuk tidak menonjolkan identitas keagamaannya di media sosial. Meski mereka memiliki kemampuan menghafal yang mumpuni. Alasannya sederhana namun cukup mendalam, yaitu kekhawatiran akan riya’ atau keinginan untuk dipuji dan diakui orang lain.
Bagi mereka, ketenaran yang datang dari menampilkan ibadah justru berisiko menggeser niat yang semula murni karena Allah menjadi niat untuk mendapatkan pengakuan sosial berupa jumlah pengikut, komentar pujian, atau validasi dari banyak orang. Pilihan untuk tetap “diam” di ruang digital, dalam konteks ini, bukan tanda ketidakmampuan, melainkan justru bentuk kehati-hatian dalam menjaga kemurnian niat.
Dengan begitu, menunjukkan bahwa ketenaran melalui konten agama sesungguhnya berjalan di atas dua kutub yang saling tarik-menarik. Di satu sisi, ketenaran bisa menjadi jalan yang efektif untuk menyebarkan nilai-nilai agama kepada audiens yang jauh lebih luas dibanding cara-cara konvensional, sehingga pesan kebaikan bisa menjangkau siapa saja tanpa batas ruang dan waktu.
Namun di sisi lain, ketenaran juga menyimpan jebakan yang bisa menggeser tujuan awal. Dari semula ingin berdakwah menjadi sekadar ingin dikenal dan disukai banyak orang. Kredibilitas seorang kreator konten agama pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa besar jumlah pengikutnya, melainkan dari sejauh mana ia mampu menjaga konsistensi antara apa yang ditampilkan di layar dengan apa yang benar-benar dijalani dalam kesehariannya, jauh dari sorotan kamera.
Pelajaran yang bisa diambi, bahwa ketenaran melalui konten agama sejatinya bukan tujuan akhir. Melainkan menjadi efek samping dari konsistensi menyampaikan pesan kebaikan dengan cara yang tulus. Ketika ketenaran justru dikejar sebagai tujuan utama, di situlah risiko kehilangan makna sesungguhnya mulai muncul. Sebaliknya, ketika seseorang tetap fokus menjaga kualitas dan ketulusan pesan yang disampaikan. Kalau kata teman saya “di akhir hayat nanti terkenal itu tidak perlu, yang dibutuhkan adalah bisa mengucap asyhadu (syahadat)”.