Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Orang Biasa, Cak Di Telah Menginspirasi

Mukani

“Mas, Cak Di meninggal dunia, ini jenasahnya mau dimandikan, tadi saya lupa ngabari Sampean.” Itu suara adik penulis di kampung halaman Nganjuk sana mengabari kepergian Bapak Padi sebelum Dzuhur.

Saat itu saya sedang istirahat siang di tempat dinas. Tanpa berpikir panjang, saya berkemas untuk mudik. Tentu setelah izin atasan dan meninggalkan tugas bagi para murid tercinta.

Kepergian almarhum yang mendadak tidak disangka semua orang. Bahkan penuturan salah satu tetangga, Cak Di terlihat masih menyapu teras saat para petani berangkat ke sawah di pagi hari itu.

Egaliter

Nama aslinya Padi. Pria kelahiran 30 Desember 1961 ini sekarang memiliki dua putra dan tiga cucu. Di Desa Mlorah, menikah dengan Mbah Jawi, kakak sepupu dari ibu kandung saya.

Di kalangan keluarga dan tetangga, almarhum sering dipanggil Cak. Ini karena dia kelahiran Dusun Karangtimongo Desa Denanyar Kota Jombang.

lstilah Cak agak asing untuk daerah Matraman seperti di Desa Mlorah Nganjuk, dimana almarhum tinggal setelah menikah. Pada umumnya, di daerah kami memanggil dengan istilah Kang, Pak Lek ataupun Pak Dhe.

Cak Di sebenarnya dari urutan kekeluargaan kami juga salah persepsi. Dari urutan keturunan, Cak Di masih termasuk paman dengan saya. Ini karena istrinya masih dihitung sebagai bibi saya.

Sapaan Cak Di menunjukkan identitasnya yang egaliter dan grapyak dengan semua pihak. Meski tergolong pendiam, almarhum Cak Di ramah dengan semua orang yang lewat depan rumah. Terutama keluarga kami yang mudik dan parkir kendaraan di jalan depan rumahnya.

Meski memanggil Cak Di, kami semua para keponakannya menaruh hormat dan respect kepada almarhum. Di samping urutan kekeluargaan yang masih paman, sosok almarhum tidak banyak bicara dengan orang lain. Biasanya memang menyapa dengan orang yang lewat.

Sapaan Cak Di itulah yang kadang kami guyon beliau warga naturalisasi. Ini karena dia aslinya Jombang dan hidup di wilayah Matraman bernama Desa Mlorah. Tapi karakternya yang sebagai arek Jombang tetap ditunjukkan hingga meninggal dunia.

Penyabar

Dalam benak penulis, Cak Di dikenang sebagai sosok yang sabar. Ini terlihat saat almarhum dengan tekun shalat berjamaah di Langgar Dua, mushola kecil yang berada di belakang rumahnya.

ltu dilakukannya secara istikomah. Terutama dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktu. Tidak jarang suara merdunya menjadi mu’adzin di mushola yang dulunya berdinding gedeg itu.

Di era 1980-an, saat mushola masih berupa angkringan bambu, sosok Cak Di sudah aktif menjadi jamaah. Posisi shalat biasanya di barisan paling depan pojok sisi kanan.

Saat itu yang menjadi imam rawatib adalah Kang Giman. Rumahnya depan mushola persis. Kepada anak-anak seperti kami ketika itu, sosok Cak Di tidak menunjukkan wajah marah saat kami guyon. Bahkan belum mau shalat meski sudah tidur hampir setiap malam di mushola.

Cak Di memang sudah tiada. Tapi keteladanan akan terus hidup tidak bisa ditelan waktu. Tetap menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk menjalani hidup.

Konsistensinya untuk memegang tradisi Jawa, dengan tetap disapa Cak Di, meski hidup di kultur Matraman, menjadi teladan bagi kita semua dalam memegang tradisi di tengah arus deras teknologi dan globalisasi. Dia akan terus memegang jati diri sebagai salah satu anak negeri.

Ketekunannya untuk melaksanakan ajaran Islam, berupa shalat berjamaah di langgar sederhana, menjadikan teladan di tengah krisis keteladanan menyapa anak bangsa. Agama menjadi sumber spirit kebaikan dalam berinteraksi sosial di tengah masyarakat.

Cak Di memang orang biasa. Tapi jika jernih, tentu kita semua akan angkat topi tentang apa yang telah dilakonkan.

Sugeng tindak Cak Di.

Oleh: Mukani, pengurus Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU Jawa Timur

Mukani
Ditulis oleh

Mukani

Panelis Debat Calon Bupati Nganjuk (2024)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer