KEDIRI — Islam tidak hanya berkaitan dengan kehidupan setelah kematian, tetapi menjadi pedoman dalam menjalani seluruh kehidupan manusia. Pesan tersebut disampaikan Habib Husein Ja’far Al Hadar pengajian bersama masyarakat dalam acara Syiar Bank Indonesia Kediri di Balai Kota Kediri, Jumat (4/9/2026) malam.
Dalam ceramahnya, Habib Ja’far menekankan bahwa gaya hidup seharusnya tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga diarahkan pada nilai-nilai Islam dan syariah. Menurutnya, gaya hidup syariah bukan sekadar pilihan yang berkaitan dengan aturan agama, tetapi menjadi cara menjalani kehidupan agar manusia memperoleh kebaikan di dunia sekaligus kebahagiaan di akhirat.
“Gaya hidup seharusnya adalah gaya hidup Islam dan gaya hidup syariah itu yang sebenar-benarnya gaya hidup. Gaya hidup syariah itu adalah gaya hidup yang bukan hanya menyelamatkan kita di dunia, tapi membahagiakan kita di akhirat.”paparnya.
Habib Ja’far mengingatkan bahwa pemahaman terhadap syariah tidak cukup berhenti pada mengetahui sesuatu sebagai halal atau haram. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memahami alasan dan makna di balik berbagai ketentuan tersebut.
Menurutnya, proses belajar melalui pengajian menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mengetahui aturan, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya. “Ngaji-ngaji seperti ini penting agar kita tahu apa maknanya.”terangnya.
Ia juga menyinggung pandangan yang selama ini menganggap agama sebagai sesuatu yang membatasi gaya hidup. Menurut Habib Ja’far, Islam memang memiliki aturan, tetapi Islam tidak semata-mata berbicara tentang hukum. Di dalamnya terdapat nilai rahmat, kasih sayang, kepedulian, akhlak, dan keteladanan.
Karena itu, menjalankan agama tidak seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang selalu berat. Habib Ja’far menyampaikan prinsip bahwa agama memiliki kemudahan melalui ungkapan Adinu yusrun.
Dalam kaitannya dengan gaya hidup, Habib Ja’far juga mengajak masyarakat memperhatikan berbagai hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia menyebut makanan, minuman hingga perbankan sebagai bagian yang perlu diperhatikan dalam penerapan gaya hidup syariah.
“Perbankan kita, makanan kita, minuman kita semua yang melengket kepada diri kita, pastikan sesuatu yang halalan thayyiban mubarakan. Yang halal lagi baik dan berkah.”ungkapnya.
Menurutnya, prinsip yang ada di dalamnya memiliki dimensi kemanusiaan sehingga dapat digunakan oleh siapa pun. Hal itu sejalan dengan pandangan bahwa Islam merupakan rahmatan lil alamin.
Ia menegaskan bahwa Islam tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi kematian atau kehidupan akhirat. Islam juga mengatur dan memberikan nilai bagi kehidupan manusia ketika masih berada di dunia.
“Islam itu bukan hanya way of die, bukan hanya jalan untuk kematian nanti, bukan hanya kita pengin husnul khatimah ketika mati. Islam itu way of life, jalan hidup kita.” terangnya.
Ia kemudian mempertegas bahwa Islam tidak hanya berkaitan dengan masjid maupun urusan akhirat. “Islam itu bukan hanya urusan akhirat. Islam itu bukan hanya urusan masjid. Islam itu urusan dunia. Segala urusan kita harus sesuai dengan nilai-nilai Islam.”tegasnya.