Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel
Muktamar NU ke-35

Muktamar NU ke-35: Dialektika Intelektual dan Warisan Pemikiran Mbah Wahab Hasbullah “Catatan Romli dan Romlah”

jamal ghofir

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) merupakan agenda lima tahunan yang tidak hanya berfungsi sebagai forum organisatoris, tetapi juga sebagai ruang dialektika gagasan. Muktamar ke-35 yang diselenggarakan di PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang menghadirkan suasana yang berbeda: tertib, penuh kekeluargaan, serta sarat dengan semangat intelektual kaum muda NU.

Perhelatan ini mengingatkan pada Muktamar ke-33 di Alun-alun Jombang, di mana dinamika administrasi dan perjuangan memperoleh kartu identitas peserta menjadi pengalaman berharga. Kini, sistem kepanitiaan yang lebih sigap menunjukkan kematangan organisasi dalam mengelola amanah besar.

Muktamar sebagai Pesta Warga NU.

KH. Ahmad Muwafiq Pengasuh PP Minggir Sleman Yogyakarta menegaskan bahwa Muktamar adalah “pesta warga NU” yang harus dihadirkan dengan riang gembira. Pesta ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum kebanggaan warga NU untuk menyumbangkan gagasan bagi bangsa dan dunia.

Di PP Bahrul Ulum, berbagai seminar kebangsaan, diskusi ekonomi, pendidikan, hingga peran perempuan menjadi bukti bahwa Muktamar adalah ruang penguatan pengetahuan. Ada juga sahabat yang berbagi kaos dengan berbagai ukuran sebagai ruang kehidmatan. Kaum muda NU hadir dengan idealisme, mengisi ruang hening administrasi dengan dialektika pemikiran yang segar.

Mbah Wahab Hasbullah dikenal sebagai tokoh yang melahirkan Tafsirul Afkar, sebuah tafsir pemikiran yang menekankan pentingnya kesadaran intelektual generasi muda.

Pokok-pokok pemikiran beliau antara lain:

  • Kebebasan berpikir: NU harus menjadi wadah terbuka bagi gagasan, tanpa kehilangan akar tradisi.
  • Dialektika gagasan: NU bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga ruang perdebatan sehat untuk melahirkan solusi bagi umat.
  • Kesadaran sosial: Ilmu harus berbuah pada amal, dan amal harus berpijak pada ilmu.

Warisan intelektual ini terasa hidup dalam Muktamar ke-35, di mana kaum muda NU menghadirkan forum-forum diskusi yang mencerminkan semangat Tafsirul Afkar.

Bahrul Ulum sebagai Episentrum Pergerakan Kaum Muda NU

Sejak Muktamar ke-33 hingga ke-35, Bahrul Ulum selalu menjadi episentrum pergerakan kaum muda NU. Alumni yang tergabung dalam IKABU melayani tamu dengan penuh keramahan, bahkan seorang bupati pun merasa nyaman diantar oleh ojek alumni.

Lebih dari itu, Bahrul Ulum menjadi ruang lahirnya gagasan baru. Kaum muda NU tidak larut dalam hiruk-pikuk pemilihan kepemimpinan, tetapi menghadirkan forum intelektual yang memperkaya arah pergerakan NU ke depan.

Catatan Romli dan Romlah tentang Muktamar NU ke-35 menegaskan bahwa Muktamar bukan hanya soal kepemimpinan, melainkan juga ruang pergerakan intelektual, sosial, dan budaya. Warisan Mbah Wahab Hasbullah hidup dalam semangat kaum muda NU yang menghadirkan dialektika gagasan di PP Bahrul Ulum.

Muktamar adalah pesta, tetapi juga madrasah intelektual. Ia adalah ruang riang gembira sekaligus ruang kesadaran, di mana NU meneguhkan dirinya sebagai organisasi yang menjaga tradisi, merawat kebangsaan, dan melahirkan gagasan untuk masa depan.

Dan siapapun yang terpilih menjadi Rois Syuriah dan Tanfidziah, kita tetaplah Romli dan Romlah.

jamal ghofir
Ditulis oleh

jamal ghofir

Dosen IAINU Tuban - Pasulukkan Literasi Nuswantoro

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer