Faedah Berdzikir Bersama

Dzikir merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam untuk menjaga hati agar selalu ingat kepada Allah. Begitulah sekiranya yang disampaikan Agus Hidayat Nur Hasim dalam Rutinan Malam Rabu Kliwon di Mushollah Darul Muttaqin – Jatirejo dalam Ngaji Dampar: Kitab Risalah Ahlisunnah wal Jama’ah karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari 03 November 2026 M / 23 Jumadilawal 1448 H.

Sebagaimana Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memperbanyak dzikir:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุฐููƒู’ุฑู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)

Dzikir bisa dilakukan sendiri, tetapi dzikir yang dilakukan bersama-sama memiliki faedah tersendiri. Terlepas dari perdebatan boleh atau tidak (khilaf). Salah satunya adalah terbentuknya pembiasaan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain di sekitar.

Bagi diri sendiri, berdzikir bersama (aurad, hizib, roti, dll) menjadi sarana latihan yang berkelanjutan. Ketika dzikir dilakukan secara rutin dalam sebuah majelis, seseorang terdorong untuk tetap istikamah. Semangat jamaah menjaga kita dari rasa malas, meskipun dilakukan sekali setiap bulan dan lafaz dzikir yang diulang terus-menerus lama-kelamaan melekat dalam lisan dan hati. Allah menegaskan buah dari dzikir itu:

ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menyertai orang-orang yang berdoa dan berdzikir kepada-Nya:

ูˆูŽุงุตู’ุจูุฑู’ ู†ูŽูู’ุณูŽูƒูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆู†ูŽ ุฑูŽุจูŽู‘ู‡ูู…ู’ ุจูุงู„ู’ุบูŽุฏูŽุงุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุดููŠูู‘ ูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽู‡ู
“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa duduk bersama orang-orang yang berdzikir adalah perkara yang dianjurkan. Dzikir yang awalnya dilakukan karena ikut-ikutan akhirnya menjadi kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran sendiri.

Faedah yang sama dirasakan oleh orang lain, terutama mereka yang belum mengenal dzikir, bahkan belum bisa membacanya. Orang yang awam tidak dituntut langsung fasih. Cukup dengan hadir dan duduk bersama jamaah, mereka sudah mendapat kesempatan mendengar lantunan dan lafadz-lafad dzikir. Dari mendengar, mereka menjadi kenal. Dari seringnya mendengar, maka tidak menutup kemungkinan perlahan terekam dalam ingatan hingga akhirnya hafal. Proses ini berjalan alami, tanpa paksaan dan tanpa merasa digurui.

Membicarakan terkait dzikir, tentu saja ingatan kita merujuk pada salah satu dawuh Nabi Muhammad Saw:

ู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุนูุฏู ู‚ูŽูˆู’ู…ูŒ ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุนูŽุฒูŽู‘ ูˆูŽุฌูŽู„ูŽู‘ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุญูŽููŽู‘ุชู’ู‡ูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽู„ูŽุงุฆููƒูŽุฉู ูˆูŽุบูŽุดููŠูŽุชู’ู‡ูู…ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽู†ูŽุฒูŽู„ูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู ุงู„ุณูŽู‘ูƒููŠู†ูŽุฉู ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽู‡ูู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูููŠู…ูŽู†ู’ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู
“Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2700)

Keutamaan dzikir dan duduk di majlis dzikir pasti diperoleh seluruh anggota majelis, termasuk orang yang baru belajar. Berdzikir bersama pun menjadi sarana dakwah yang halus. Karena secara langsung memberikan contoh atau tauladan yang lebih mudah diterima daripada penjelasan panjang.

Orang yang belum bisa berdzikir tidak perlu merasa malu, karena suasana kebersamaan membuat mereka nyaman untuk belajar. Majelis dzikir pun berfungsi sebagai tempat belajar sekaligus tempat mempererat persaudaraan.

Berdzikir bersama bukan sekadar kegiatan membaca lafadz-lafadz khos (tertentu) secara serempak. Tetapi dapat melatih keistikamahan diri, memperkenalkan dzikir kepada orang-orang yang belum mengenalnya, dan menanamkan hafalan melalui kebiasaan mendengar. Minimal setiap orang yang hadir akan pulang dengan dzikir yang ia dengar, kenal, dan hafal, serta mendapat limpahan rahmat dan ketenangan dari majelis tersebut.

Oleh: Mohammad Thoriq Miftahuddin

Wallahu ‘alam

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer