Suluk.ID
Monday, September 1, 2025
  • Home
  • Ngilmu
  • Pitutur
  • Kekabar
  • Panutan
  • Pepanggen
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Ngilmu
  • Pitutur
  • Kekabar
  • Panutan
  • Pepanggen
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Suluk.ID
Home Ngilmu

Kelas Akselerasi Mu’allimul Qur’an Metode Hanifa: Upaya Menstandarkan Bacaan Al-Qur’an Secara Komprehensif

by Ahmad Misbakhul Amin
May 28, 2025
in Ngilmu
Kelas Akselerasi Mu’allimul Qur’an Metode Hanifa: Upaya Menstandarkan Bacaan Al-Qur’an Secara Komprehensif
Share on Facebook

Dalam rangka meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an sekaligus menyiapkan generasi pengajar yang kompeten di bidang tahsin dan tajwid, Komunitas Hanifa Darul Hidayah menyelenggarakan program Kelas Akselerasi Mu’allimul Qur’an. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Nasional Pembibitan Mu’allimul Qur’an yang rutin dilaksanakan selama dua bulan yakni setiap hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad pukul 05.00–06.00 WIB (sesuai jadwal masing-masing peserta) secara daring melalui via Google Meet.

Kelas akselerasi ini bertujuan utama untuk meningkatkan dan menstandarkan bacaan Al-Qur’an para peserta, khususnya pada aspek penguatan pemahaman dan praktik ilmu tajwid. Tidak hanya berfokus pada teori, program ini juga menekankan pentingnya istima’ (memperdengarkan bacaan) dan koreksi langsung dari guru (mu’allim) agar setiap peserta benar-benar memahami letak kesalahan bacaannya, sesuatu yang sering kali luput tanpa bimbingan langsung.

Sesuai dengan prinsip kesempurnaan membaca Al-Qur’an yang digambarkan oleh Imam Ibnul Jazari dalam Manzhūmah al-Jazariyyah, setiap huruf Al-Qur’an harus diberikan hak dan mustahaqq-nya secara tepat baik sifat, makhraj, panjang-pendek (mad), maupun kejelasan suara. Hal ini menjadi fondasi dalam metode pembelajaran metode Hanifa yang dirancang secara terarah dan konseptual melalui buku panduan Nafahātu al-Rahmān fī Tahsīn Tilāwat al-Qur’ān.

Kegiatan diawali dengan doa bersama dan pembacaan Shalawat dari buku panduan, dilanjutkan dengan pengarahan teori oleh pendamping (Ustazah Aning) yang menyampaikan materi sesuai struktur buku. Peserta kemudian mengikuti contoh bacaan, yang dilanjutkan dengan sesi utama yakni tadarus dan koreksi bacaan oleh M’allim (Ustaz Fudzi). Dalam sesi ini peserta membaca Al-Qur’an satu persatu dan mendapatkan koreksi mendalam dari aspek tajwid dan fashahah.

Pada pertemuan kali ini fokus materi mencakup penguatan hukum Mad, khususnya Mad Thabi’i, Mad Wajib Muttashil, Mad Jaiz Munfashil, Mad Shilah Thawīlah (dikenal sebagai tanda layar satu dalam metode Hanifa), serta Mad Lāzim Mutsaqqal Kilmī dan Mukhaffaf Kilmī (tanda layar dua). Penekanan diberikan pada prinsip bahwa Mad harus dibaca melalui rongga mulut, bukan hidung, serta pentingnya menjaga keseimbangan panjang mad antar bacaan.

Sebagai contoh, Azza salah satu peserta membaca QS. Al-Baqarah ayat 24–25, dikoreksi pada kata waqūduhā al-nās, karena bacaan Mad-nya terdengar melalui rongga hidung, bukan mulut. Ia juga mendapat catatan pada kata ruziqnā karena qalqalah-nya kurang mantul, serta pada kata min qabl, di mana nun sukun belum cukup condong ke huruf qāf setelahnya. Koreksi serupa juga diberikan kepada peserta lainnya seperti Nana, Mega, dan Miranda sesuai dengan kualitas bacaan masing-masing.

Pembimbing juga menjelaskan bahwa dalam metode Hanifa, tanda Layar satu disarankan dibaca sepanjang lima harakat karena mengikuti riwayat Hafsh dari ‘Āshim, sedangkan tanda layar dua dibaca enam harakat. Ustaz Fudzi menegaskan kepada peserta untuk tidak berkecil hati jika mendapatkan banyak koreksi “Jangan minder ketika bacaan kalian mendapat catatan koreksi dari mu’allim. Jangan bangga pula yang tidak mendapatkan koreksi. Bisa jadi karena saking banyaknya kesalahan, Mu’allim bingung harus mulai dari mana. Justru yang ada salah bisa diperbaiki.”

Salah satu peserta, Azza, menyampaikan kesannya “Alhamdulillah metode Hanifa membuat belajar tahsin jadi Lebih terarah dan mendalam. Saya jadi sadar, hafalan saja tidak cukup—bacaan harus ditashihkan agar benar-benar sesuai kaidah. Koreksi dari mu’allim sangat membuka mata, dan istilah seperti tanda layar memudahkan saya memahami mad secara praktis. Metode Hanifa bukan sekadar belajar tajwid, tapi membentuk tanggung jawab terhadap bacaan AL-Qur’an.”

Ia pun berharap program ini bisa membawa manfaat lebih luas tidak hanya selesai pada penguatan bacaan tapi juga berlanjut ke tahap sertifikasi, menaqish, hingga menjadi muharrik yakni pelopor penyebaran bacaan Al-Qur’an yang benar di tengah masyarakat. Dengan semangat belajar yang tinggi dan sistem pembinaan yang terstruktur, program ini diharapkan menjadi model pembelajaran Al-Qur’an yang bukan hanya menekankan pada hafalan, tetapi juga memastikan kualitas bacaan yang benar, indah, dan bertanggung jawab secara sanad dan ilmu.

Penulis: Safira Azalia

Ahmad Misbakhul Amin
Ahmad Misbakhul Amin
Previous Post

Prabowo Subianto Dan Gagasan Kepemimpinan Islam : Dari Salahudin Al Ayubi Hingga Muhammad Al Fatih

Next Post

Dibuka Pendaftaran Graduate Forum: Hadirkan Ilmuan Dalam dan Luar Negeri

Related Posts

Memahami Tren Wacana Untuk Penyampaian Pesan Dakwah Islam

Memahami Tren Wacana Untuk Penyampaian Pesan Dakwah Islam

by Abdur Rohman Assidiis
August 19, 2025
0

Suluk.id, Akhir-akhir ini, dunia jagat maya sedang digencarkan oleh wacana perbincangan filsafat. Hal ini dipicu oleh salah satu sosok yang...

Memaknai Tiga Ekspresi Kemerdekaan

Memaknai Tiga Ekspresi Kemerdekaan

by Nur Aziz Muslim
August 9, 2025
0

Kemerdekaan bukan sekadar hanya bebas dari penjajahan secara fisik, akan tetapi harus dimaknai sebagai suatu keadaan yang disitu bebas dari...

Merangsang Guru PAI Gairah Berliterasi

Merangsang Guru PAI Gairah Berliterasi

by Mukani
July 29, 2025
0

Tradisi literasi di Indonesia masih perlu ditingkatkan karena masih jauh dibanding negara-negara lainnya. United Nations Education, Scientific and Cultural Organization...

AKULTURASI BUDAYA SEBAGAI PILAR MODERASI DI LINGKUNGAN SOSIAL

AKULTURASI BUDAYA SEBAGAI PILAR MODERASI DI LINGKUNGAN SOSIAL

by elhimmah
July 18, 2025
0

Kehidupan masyarakat yang majemuk, perjumpaan budaya dan agama menjadi realitas yang tidak bisa dihindari. Sebut saja di Indonesia. Sebuah negeri...

Next Post
Dibuka Pendaftaran Graduate Forum: Hadirkan Ilmuan Dalam dan Luar Negeri

Dibuka Pendaftaran Graduate Forum: Hadirkan Ilmuan Dalam dan Luar Negeri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sosial Media

Terkait

Rektor UIN SATU Ungkap Belasungkawa atas Wafatnya Affan, Ajak Semua Pihak Menjaga Kondusifitas

Rektor UIN SATU Ungkap Belasungkawa atas Wafatnya Affan, Ajak Semua Pihak Menjaga Kondusifitas

August 31, 2025
Muskercab PCNU Kabupaten Madiun Canangkan Empat Program Strategis

Muskercab PCNU Kabupaten Madiun Canangkan Empat Program Strategis

August 30, 2025
Diskusi Mahasiswa STIT UW Jombang, Tanggung Jawab Sosial Jadi Tugas Berat Mahasiswa

Diskusi Mahasiswa STIT UW Jombang, Tanggung Jawab Sosial Jadi Tugas Berat Mahasiswa

August 30, 2025
Suluk.id - Merawat Islam yang Ramah

Suluk.id termasuk media alternatif untuk kepentingan dakwah. Dengan slogan Merawat Islam Ramah serta mengajak beragama yang menggembirakan.

Suluk.ID © 2025

  • Redaksi
  • Tentang
  • Disclaimer
  • Kerjasama
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Ngilmu
  • Pitutur
  • Kekabar
  • Panutan
  • Pepanggen
  • Kirim Tulisan

Suluk.ID © 2025