Ketua PCI Muslimat NU Malaysia: Tingkatkan Kapasitas, Mahasiswa Indonesia Harus Aktif Berorganisasi

Mukani

Jombang – Ketua Pimpinan Cabang lstimewa (PCI) Muslimat NU Malaysia Hj Mimin Mintarsih memberikan orasi ilmiah dalam yudisium di kampus Institut Agama Islam Al-Urwatul Wutsqo (IAI-UW) Bulurejo Diwek, Senin (28/9).

Perempuan berkacamata ini tercatat sebagai aktivis pendidikan di Malaysia. Terutama bagi anak pekerja migran lndonesia di Malaysia. Tahun 2022 dia menerima penghargaan Pelindungan WNI Award dari Kementerian Luar Negeri Rl.

“Semua lembaga dan badan otonom sudah ada berdiri di PCINU Malaysia, termasuk Muslimat NU yang sudah berdiri di 10 negara,” ujar alumni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang ini.

“PCINU Malaysia berdiri tahun 1999, kebetulan saat itu deklarasinya di rumah saya,” ujarnya. “Bahkan sekarang sudah mendirikan Pondok Pesantren An-Nahdhoh,” tambahnya.

Banyak pengabdian yang bisa dilakukan para sarjana. Dia mencontohkan nasib pendidikan anak pekerja lndonesia di Malaysia. “Ada beasiswa Adem bagi kalangan NU, kalau beasiswa Adik untuk anak-anak dari Papua,” tambahnya.

“Di lembaga saya saja ada 175 siswa, belum termasuk jenjang PAUD, lembaga kami di bawah KBRl dan yang lulus dapat sertifikat,” jelasnya. “Banyak kampus di lndonesia yang saya minta KKN internasional di lembaga kami untuk membantu mengajar,” tambahnya.

Dirinya mendorong mahasiswa di Indonesia untuk aktif berorganisasi agar meningkat kapasitasnya. “Tidak hanya aktif di organisasi mahasiswa, karena itu sangat penting saat terjun ke masyarakat,” pesannya.

Sebanyak 163 mahasiswa IAI-UW ditetapkan sebagai calon wisudawan (yudisium). Mereka terdiri dari 110 mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam (PAl) dan 53 dari program studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Rektor IAI-UW Dr Zahrotun Ni’mah Afif menegaskan dukungan alumni penting dalam mengarungi kompetisi bersama banyak perguruan tinggi lainnya. “Apalagi kampus IAI-UW sudah punya banyak program studi,” ujarnya.

Dia juga berpesan pentingnya para wisudawan menjaga etika ilmiah. “Karena itu adab yang penting terus dijaga, jangan sampai pintar tapi menyalahi adab,” ujarnya.

Dirinya mencontohkan salah satu penyaji makalah seminar internasional di Eropa yang berasal dari Indonesia. “Dia pintar, tapi tidak jujur dalam melakukan penelitian yang dipresentasikan,” tambahnya.

Ditemui di lokasi usai acara, salah satu peserta yudisium, Rahma Nur Mumpuni, mengakui bangga mengikuti proses ini. “Dulu kita masuk kampus kita masih berstatus sekolah tinggi, tapi sekarang menjadi institut, ini suatu yang membanggakan,” ujarnya.

Dia berharap agar mahasiswa terus meningkatkan kapasitasnya. “Demi meraih masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Selain prodi PAl dan MPI, di kampus IAI-UW juga memiliki program pascasarjana PAl. Termasuk prodi pendidikan bahasa Inggris (PBl), ekonomi syariah (ES), bimbingan penyuluhan lslam (BPI) dan tadris pendidikan ilmu pengetahuan alam (TIPA). (muk)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer