Sabar Bapak, Do’a Emak, Tirakat Anak

Muchamad Rudi C
ยท Diperbarui 28 September 2026

Keberuntungan adalah bertemunya antara kemampuan dan kesempatan. Sepakat. Tidak ada istilah beruntung tanpa melakukan apa-apa. Pasti ada faktor internal maupun eksternal dari sebuah kehidupan manusia. Faktor internal tentu pada diri sendiri. Manusia dibekali akal pikiran untuk menggerakkan diri. Di luar kemampuan itu, keterbatasan manusia membutuhkan kekuatan yang datang dari pihak eksternal. Orang-orang beragama menyebutnya sebagai: Tuhan.

Saya sangat senang jika mendengar kisah-kisah perjuangan masa lalu Bapak. Sembari membayangkan suasana pada masa itu. Mungkin sekitar tahun-tahun 80-an. Membayangkan lampu belum ditemukan. Tembok masih dari anyaman. Jalanan masih belum beraspal. Dan pohon-pohon besar nan rindang. Bayangan itu seperti di film klasik pedesaan Jawa.

Saya terhanyut dalam suasana nostalgia itu. Akan tetapi saya tetap mencari makna dari setiap kalimat-kalimat yang didawuhkan Bapak. Naik turun, lika-liku pahit perih kehidupan beliau lalui. Semakin sering mendengar cerita itu, saya semakin menyadari bahwa Bapak ternyata menjalani hidup dengan cara yang sederhana: dijalani saja. Serta menjadi seseorang yang mending mengalah dan sabar. Tidak banyak mengeluh. Kalau belum berhasil, dicoba lagi. Bapak mengakhiri dengan dawuh “dijalukne sing Kuoso (berdo’a kepada Yang Maha Kuasa)”

Dulu saya kira itu hal biasa. Bukankah memang begitu seharusnya orang hidup? Belakangan saya baru tahu, tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk tetap berjalan ketika jalan yang dilalui tidak mudah. Mungkin itulah sabar. Bukan sabar yang banyak dibicarakan orang. Bukan sabar yang mudah ditulis dalam buku atau disampaikan dalam tausiah. Tetapi sabar yang dijalani setiap hari. Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, lalu bangun lagi. Menghadapi kebutuhan yang datang silih berganti.

Bapak tidak pernah mengatakan kepada saya bahwa beliau sedang bersabar. Tetapi hidupnya adalah sabar itu sendiri. Saya membayangkan dari cerita bapak, apa saja yang dahulu ingin beliau miliki tetapi tidak mudah didapat. Pendidikan misalnya. Apa saja keinginannya yang harus dikalahkan oleh kebutuhan keluarganya masa itu. Mungkin masih banyak.

Tetapi kami sebagai anak hampir tidak pernah tahu. Anak memang sering begitu. Yang dilihat hanya apa yang diberikan orang tua, bukan apa yang dikorbankannya. Ketika masih kecil, kita mengira uang sekolah datang begitu saja. Seragam datang begitu saja. Makanan tersedia begitu saja. Ketika membutuhkan sesuatu, tinggal bilang. Kita tidak pernah tahu bahwa di balik semua itu ada seseorang yang mungkin sedang menghitung-hitung pengeluaran sampai rupiah terakhir.

Dan Bapak tetap diam. Barangkali karena begitulah cara orang tua generasi itu mencintai anak-anaknya. Tidak banyak kata. Tidak banyak ekspresi. Cukup memastikan anaknya tetap bisa sekolah, tetap bisa makan, tetap punya alasan untuk bermimpi. Bapak tidak banyak bicara tentang cinta. Tetapi hidupnya adalah kalimat panjang tentang cinta.

Lalu ada Emak. Kalau Bapak banyak mengandalkan tenaganya, Emak banyak mengandalkan doanya. Karena tidak ada do’a langsung menembus langit, selain do’a Emak. Saya yakin, seorang ibu mempunyai percakapan yang sangat panjang dengan Tuhannya. Percakapan yang tidak diketahui anak-anaknya. Mungkin tentang Bapak. Mungkin tentang rezeki. Mungkin tentang anak-anak yang sedang tumbuh dan belum tahu akan menjadi apa. Mungkin juga tentang kekhawatiran-kekhawatiran kecil yang tidak pernah disampaikan kepada kami.

Doa seorang ibu itu unik. Kita sering tidak merasakannya ketika doa itu dipanjatkan. Tetapi suatu hari, ketika kita sudah jauh dari rumah, sedang berada dalam kesulitan, tiba-tiba ada kekuatan untuk tetap bertahan. Kita sendiri kadang tidak tahu dari mana datangnya. Mungkin dari doa. Mungkin dari kalimat-kalimat sederhana Emak yang dulu sering kita dengar. Salah satu kalimat yang sempat tersampaikan dan membuat saya marem yakni kalimat “Le sukses ya le” kata Emak. Kalimat-kalimat pendek itu dahulu terasa biasa saja. Sekarang, ketika usia bertambah, kalimat itu seperti menemukan maknanya sendiri.

Barangkali Emak tahu bahwa anak tidak mungkin selamanya berada dalam pelukannya. Suatu hari anak akan pergi. Menuntut Ilmu. Bekerja jauh. Menikah. Mempunyai keluarga sendiri. Menghadapi persoalan sendiri. Maka yang bisa dibawa Emak ke mana pun anak pergi bukanlah uang, bukan rumah, bukan tanah. Tetapi do’a. Do’a Emak tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus berjalan mengikuti anaknya.

Sementara anak juga harus terus berjalan dan berjuang. Di situlah saya kemudian memahami kata yang sejak kecil sering saya dengar dari pada guru: tirakat. Dawuh Guru saya, tirakat anak itu sekolah. Alias mencari ilmu pengetahuan. Kemudian do’akan sebisanya agar lancar rejeki dan usaha orang tua.

Saya kira banyak orang tua seperti Bapak dan Emak. Hidup sederhana, tetapi mempunyai cita-cita yang besar untuk anaknya. Mereka mungkin tidak punya banyak harta untuk diwariskan. Tetapi mereka memberikan sesuatu yang sering kali baru kita pahami setelah dewasa: landasan menjalani kehidupan.

Bapak memberikan contoh bahwa hidup tidak selalu harus menang untuk tetap dijalani. Emak memberikan keyakinan bahwa ketika kemampuan manusia sudah sampai batasnya, masih ada Tuhan tempat meminta. Dan anak, entah disadari atau tidak, membawa keduanya dalam perjalanan.

Karena itu saya sering merasa bahwa keberhasilan seseorang sebenarnya tidak pernah benar-benar milik dirinya sendiri. Ketika seorang anak berdiri di tempat yang lebih tinggi, ada banyak orang yang ikut berdiri di belakangnya. Ada Bapak dengan sabarnya. Ada Emak dengan doanya. Ada guru-guru yang pernah mengajarinya. Ada orang-orang yang pernah memberikan kesempatan. Dan tentu ada dirinya sendiri yang menjalani semuanya dengan usaha kerasnya.

Maka mungkin keberuntungan memang bertemunya kemampuan dan kesempatan. Tetapi, kemampuan tidak tumbuh sendirian. Ada orang tua yang merawatnya. Ada keluarga yang menopangnya. Ada doa yang mengiringinya. Dan kesempatan pun tidak selalu datang karena kita hebat. Kadang ia datang karena Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang tepat pada waktu yang tepat.

Karena itu, semakin jauh seorang anak berjalan, semakin ia harus ingat kepada rumah. Bukan karena rumah selalu sempurna. Bukan pula karena masa lalu selalu indah. Tetapi karena dari sanalah ia belajar pertama kali tentang kehidupan. Tentang sabar. Tentang doa. Tentang bertahan. Tentang tidak menyerah.

Dan mungkin suatu saat, ketika Bapak sudah semakin tua dan Emak sudah semakin banyak diam, anak akan duduk di dekat mereka dan mendengarkan cerita yang sama untuk kesekian kalinya. Cerita tentang masa lalu. Cerita tentang kesulitan. Cerita tentang bagaimana dulu mereka menjalani hidup. Anak mungkin sudah mendengar cerita itu berkali-kali. Tetapi anehnya, semakin tua justru semakin banyak makna yang ditemukan.

Dulu kita mendengar cerita Bapak sebagai catatan. Sekarang kita mendengarnya sebagai warisan. Dulu doa Emak terdengar seperti kebiasaan. Sekarang kita merasakannya seperti bekal masa depan. Dan dulu tirakat terasa seperti sesuatu yang susah. Sekarang kita sadar, mungkin hidup kita sendiri adalah usaha yang tidak pernah menyerah.

Bapak telah menjalani bagiannya. Emak telah menjalani bagiannya. Sekarang giliran anak. Bukan untuk membalas. Sebab kasih orang tua memang tidak pernah bisa dibayar. Cukup diteruskan.

Bapak pernah bersabar agar kita mempunyai hari esok. Emak pernah berdoa agar hari esok itu menjadi baik. Dan anak, dengan segala keterbatasannya, hanya perlu berusaha agar hari esok yang didoakan itu tidak sia-sia.

Mungkin itu saja. Tidak perlu kalimat yang terlalu tinggi. Sebab hidup Bapak dan Emak memang tidak pernah ditulis dengan kalimat-kalimat besar. Ia ditulis dengan kerja. Dengan doa. Dengan air mata yang disembunyikan. Dengan nasi yang harus tetap tersedia. Dengan sekolah yang harus tetap dibayar. Dengan anak yang harus tetap mempunyai harapan.

Dan sekarang, ketika anak itu sudah dewasa, kita akan paham makna bahwa ternyata sejak dulu ada tiga hal yang berjalan bersamaan. Sabar Bapak. Do’a Emak. Tirakat Anak.

Tiga hal yang tidak pernah benar-benar terpisah. Hanya waktunya yang berbeda. Bapak menjalaninya ketika anak belum mengerti. Emak mendoakannya ketika anak belum mampu. Dan anak baru memaknainya ketika sudah cukup dewasa untuk menjalani kehidupannya sendiri.

Barangkali begitulah sebuah warisan keluarga untuk meneruskan kehidupan. Tidak selalu dengan harta. Kadang cukup dengan sabar yang diwariskan, doa yang tidak pernah putus, dan seorang anak yang mau menjalani tirakatnya. Selebihnya, Gusti Allah yang menyelesaikan.

Banyak hal sebenarnya yang patut kita syukuri. Namun kadang kita terlupa dengan apa yang seharusnya bisa kita syukuri. Pencapaian, prestasi, bertumbuh dengan baik, dan orang-orang baik di sekeliling kita tentu menjadi jawaban dari do’a – do’a orang tua serta kebaikan-kebaikan yang secara tidak sengaja kita lakukan. Wallahu A’lam.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer