Suluk.ID โ€“ Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Bedah Buku, Ambil Spirit Pengabdian dan Keteladanan

Hari Prasetia

JOMBANG – Bedah buku baru berjudul Cahaya Sang Kiai digelar di aula Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Minggu (15/2). Acara diikuti ratusan peserta.

Hadir sebagai pemateri Farhan Rafi selaku penulis. Narasumber pembanding Dr Wasid Mansyur, dosen pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Mukani, dosen STAI Darussalam Nganjuk.

Ketua panitia Rifatuz Zuhro menjelaskan, buku ini kumpulan dari karya 23 penulis. “Isinya tentang kiprah perjuangan dan pengabdian dari 33 kiai kampung dan ibu nyai,” ujarnya.

Undangan peserta yang disebar, lanjutnya, sebanyak 120 surat. “Baik kepada keturunan para kiai kampung, para ketua ranting dan badan otonomi NU yang ada,” inbuhnya.

“Ada dzuriyah kiai kampung yang ditulis bisa hadir dari Yogyakarta dan Jember,” katanya. “Termasuk peserta undangan dari Nganjuk, Kediri dan Mojokerto,” tuturnya.

Apresiasi diberikan Ketua Majelis Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Hj Nur Laili Rahmah. “Kita bisa banyak belajar teladan dari para kiai kampung dan ibu nyai yang ada ditulis dalam buku ini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan KH Hamdi Soleh, Ketua MWCNU Diwek. “Setua ini saya ikuti organisasi NU, batu kali ini kiprah para kiai kampung ditulis menjadi buku,” ujarnya.

Saat menyampaikan materi, Farhan Rafi menuturkan liku-liku dalam menyusun buku yang dibedah. “Kadang kita kendor saat menulis karena data belum lengkap, tapi itu jadi tantangan,” ujarnya.

Dia mengakui memang butuh motivasi agar penulisan buku bisa selesai sesuai target. “Agar kita bisa membaca berbagai kisah keteladanan para tokoh yang ditukis,” imbuhnya.

Menukis banyak tokoh dengan banyak penulis, menurut Dr Wasid Mansyur, menjadi tantangan sendiri. “Karena tiap penulis tidak sama kemampuan dalam menulis,” ujarnya.

Tapi dia mengapresiasi penerbitan buku ini. “Menjadi awal embrio penulisan para tokoh lainnya ke depan, ini harus dikawal,” ujarnya.

Apa yang dilakukan Farhan Rafi dkk, menurut Mukani, menjadi catatan penting sosok kiai kampung yang jauh dari sorotan media. “Karena mereka mengabdi tidak butuh
publikasi,” imbuhnya.

Berbagai teladan diperoleh saat membaca kisah NU dahulu. “Mulai dari nilai toleransi, cinta ilmu, solidaritas, keikhlasan sampai pantang di menyerah,”” pungkasnya. (har)

kontributor; Hari Prasetia, pengurus LTN MWCNU Diwek

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer