Suluk.ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Meneladani Perjuangan Dan Pengabdian Kiai Kampung 

Redaksi

Di tengah derasnya arus modernitas dan sorotan publik yang sering tertuju pada tokoh tokoh besar nasional, buku ‘Cahaya Sang Kiai’ justru mengarahkan perhatian kita pada sosok sosok yang bekerja dalam diam. Mereka para ‘kiai kampung’, istilah ini di populerkan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang melihat mereka sebagai fondasi sejati kehidupan keagamaan masyarakat, terutama dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU).

Buku ini merupakan hasil kerja kolaboratif para peserta Pelatihan Menulis Tokoh Nahdlatul Ulama (PMTNU) yang digelar LTN MWCNU Diwek, Jombang. Dengan pendekatan biografis- naratif, para penulis memotret figur-figur kiai dan nyai yang hidup, mengabdi dan menyatu dengan denyut nadi masyarakat desa.

Potret Keteladanan

Buku ini dibagi dalam lima bagian tematik. Pertama adalah Lentera Kampung. Bagian ini menghadirkan sosok guru ngaji, penjaga tradisi dan pendakwah lokal yang menjadi rujukan spiritual masyarakat.

Kedua adalah Sang Pendidik. Ini menampilkan figur- figur yang mendedikasikan hidupnya pada pendidikan Islam, baik di pesantren maupun madrasah.

Ketiga adalah Aktivis Nahdliyyin yang memotret tokoh-tokoh penggerak organisasi dan tradisi ke NU an di tingkat lokal.

Keempat adalah Sang Pengasuh. Bagian ini mengkisahkan para kiai pengasuh pesantren yang membimbing santri dengan ketelatenan.

Kelima adalah Arus Keutamaan. Tema ini mengangkat figur-figur kharismatik penjaga sanad keilmuan dan literasi pesantren.

Melalui kisah-kisah ini, pembaca diajak memahami bahwa kiai kampung bukan sekadar pemimpin ritual keagamaan. Namun juga mediator sosial, pendidikan karakter, penjaga harmoni, bahkan benteng moral masyarakat.

Kekuatan Buku

Buku ini ditulis dekat dengan Realitas Sosial. Buku ini kuat dalam menghadirkan narasi yang membumi. Para tokoh digambarkan dalam keseharian mereka: menerima tamu tanpa protokoler, memimpin tahlil, memberi nasihat, hingga membimbing santri.

Di samping itu, buku ini relevan Kontekstual. Di era disrupsi dan menjelang Indonesia Emas 2045, keteladanan berbasis nilai kesederhanaan, ketawadhu’an, Istiqomah, dan realitas politik, menjadi sangat relevan.

Dokumentasi tokoh lokal sangat kuat dalam buku ini yang mengisi kekosongan referensi tentang tokoh-tokoh NU tingkat akar rumput yang jarang terekspos media nasional.

Catatan Kritis

Sebagai karya kolaboratif, gaya penulisan antar bab terkadang terasa berbeda-beda. Namun, justru di situlah letak keunikan buku ini. Ia merepresentasikan keberagaman prespektif penulis dalam memotret satu tema besar yakni keteladanan kiai kampung.

Ke depan, akan menarik jika dilengkapi dengan pendekatan akademik yang lebih analitis, misalnya dengan mengaitkan biografi tokoh pada dinamika sosial keagamaan yang lebih luas.

Sangat Berkontribusi

Secara keseluruhan, Cahaya Sang Kiai bukan sekadar buku biografi, melainkan juga ikhtiar kultural untuk merawat ingatan kolektif tentang peran kiai kampung dalam membangun masyarakat. Buku ini menjadi “kado literasi” bagi perjalanan panjang NU sekaligus warisan moral bagi generasi muda.

Ia mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari ketekunan kecil yang dilakukan terus menerus, di langgar sederhana, di ruang pengajian kampung, dan di pesantren yang jauh dari sorotan kamera.

Sehingga buku ini layak dibaca oleh kalangan akademisi dan mahasiswa studi Islam. Ternasuk para aktivis dan penggerak organisasi keagamaan. Juga bagi para guru, santri, dan pengelola pesantren. Termasuk generasi muda yang ingin memahami akar tradisi NU.

Buku Cahaya Sang Kiai adalah dokumentasi inspiratif tentang cahaya- cahaya kecil yang menerangi kampung, namun dampaknya menjangkau generasi. Buku ini memperlihatkan bahwa keteladanan bulan tentang popularitas, melainkan tentang konsistensi pengabdian.

Oleh

Evita Agustina (Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Kab. Jombang)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer