Semakin lama usia pernikahan, saya justru semakin paham bahwa yang menjaga rumah tangga bukan cinta semata, melainkan komitmen yang dibangun karena Allah. Tahukah kita bahwa tidak semua pasangan yang saling mencintai selalu bersama setiap hari. Dan tidak semua jarak adalah tanda berkurangnya cinta.
Malam Rabu ini terasa sedikit berbeda, ada ruang sunyi yang Allah ciptakan di antara kesibukan, lalu ruang itu berubah menjadi rindu. Rindu kepada seseorang yang Allah pilihkan menjadi imam dalam perjalanan hidup saya. Dia adalah suami saya, seseorang yang Allah hadirkan untuk menyempurnakan separuh agama saya.
Sebagaimana pasangan pada umumnya, perjalanan kami tentu tidak selalu dipenuhi senyum dan tawa. Ada perbedaan pendapat, kesalahpahaman, ada pula hari² ketika ego ingin didengar lebih dulu. Tetapi seiring waktu, kami belajar satu hal penting bahwa rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga yang tidak pernah bertengkar tapi rumah tangga yang selalu menemukan jalan untuk berdamai.
Dalam teori Dramaturgi, Saat ini kita sering disuguhi potongan² kebahagiaan keluarga orang lain melalui panggung depan (Front stage) seperti foto yang sempurna, video yang romantis, caption yang manis. Padahal kehidupan yang sesungguhnya terjadi di balik layar (back stage/panggung belakang). Di situlah komitmen diuji, kesabaran bekerja, cinta bertumbuh menjadi ibadah.
Banyak orang mengira kesetiaan lahir karena selalu bersama, padahal tidak selalu demikian. Ada pasangan yang setiap hari bertemu tetapi hatinya berjauhan. Ada pula pasangan yang terpisah jarak karena tugas dan amanah, tetapi hatinya tetap saling menjaga. Karena sesungguhnya kesetiaan bukan soal pengawasan. Kesetiaan adalah soal kesadaran, kesadaran bahwa ada Allah yang selalu menyaksikan.
Sebagai santri, saya diajarkan bahwa cinta yang paling kuat bukan cinta yang dibangun oleh rasa suka semata, tapi cinta yang dibangun di atas niat ibadah. Sebab ketika rasa sedang menurun, ibadah akan menjaga. Ketika ego sedang tinggi, ibadah akan mengingatkan. Ketika rindu sedang berat, ibadah akan menguatkan. Pernikahan bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna, tetapi tentang belajar mencintai ketidaksempurnaan dengan cara yang sempurna.
Kesetiaan yang sejati lahir bukan karena selalu diawasi, tetapi karena hati merasa selalu diawasi Allah. Cinta yang bertahan lama bukan yang paling banyak kata katanya, tetapi yang paling kuat komitmennya. Malam ini saya bersyukur, bukan karena hidup tanpa masalah, tapi karena Allah menghadirkan seseorang yang mau berjalan bersama melewati berbagai fase kehidupan.
Dan benar, setelah sekian tahun bersama, rasa itu masih ada, rasa yang sederhana, rasa yang membuat kita tersenyum ketika mengingatnya. Rasa yang bernama rindu.
Semoga Allah menjaga imam keluarga kami, menguatkan langkahnya, melapangkan rezekinya, menyehatkan badannya, dan mempertemukan kami selalu dalam cinta yang mendekatkan kepada-Nya.
Karena sebenarnya, rumah tangga bukan tentang siapa yang paling sempurna, tapi tentang dua orang yang sama-sama memilih bertahan, memperbaiki diri, dan saling menggenggam tangan menuju surga.