Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Maaf Jepang, Lidah Saya Lebih Pilih Kerak Telur Betawi

Sebagai orang yang lahir dan tumbuh remaja di kampung, lidah saya sudah mengikuti pola makanan masyarakat desa. Makanan favorit yang saya gemari adalah makanan ala desa, misalnya sayur asem kangkung, tempe goreng dan pasti tak tertinggal sambal terasi. Sedikit naik level, beberapa makanan seperti rawon, nasi uduk, dan sate kambing juga menjadi favorit. Tapi makanan itu hanya saya temukan di acara hajatan atau sesekali beli ketika kantong sedikit tebal.

Sebagai warga Tuban yang luas wilayahnya berbatasan langsung dengan laut, kebiasaan mengonsumsi ikan sudah menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini mulai bertambah ketika saya menjadi santri di Manbail Futuh yang secara geografis berada di sebelah pesisir Pantura.

Pedagang keliling sudah terlihat memutar kampung tiap matahari mulai terbit. Ikan-ikan segar mulai jadi objek belanjaan mak-mak di kampung. Mak saya di kampung menjadi pelanggan tetap, bahkan ketika saya di Pesantren saya punya tugas khusus untuk membantu ibu dapur memilah dan memasak ikan untuk santri. Karena postur wilayah dan sosial seperti itu akhirnya membentuk pola makan saya yang suka dengan masakan laut, sambal terasi, dan makanan khas ala desa.

Cerita saya mulai ketika mengikuti kegiatan Skoring, Simulasi, dan Sidang Kelulusan UM-PTKIN 2026 di The Grand Platinum Hotel, Jakarta Pusat. Sebagai salah satu Panitia junior di Panitia Pusat PMB PTKIN, saya aktif mengikuti rangkaian agenda di beberapa tempat, termasuk hari ini.

Di sela-sela kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari ini, momen makan di restoran memang menjadi satu kegiatan yang saya nantikan. Dalam bayangan saya, menu yang dihidangkan sangat bervarian dan memanjakan lidah. Benar saja, varian makanan dan minuman dihidangkan bermacam-macam, mulai dari makanan ringan, makanan berat, dan pencuci mulut. Salad, buah, dan jus selalu tidak bisa ketinggalan, agar-agar, rumput laut, dan dizzert lainnya malah tidak bisa saya sebutkan, selain variannya banyak saya juga masih awam nama makanan-makanan itu.

Ada satu makanan yang sudah saya kenal namanya namun tidak rasanya. Makanan ini katanya khas Jepang. Banyak food floger muncul di beranda Tik-Tok saya mencicipinya makanan itu dengan geleng-geleng kepala, mungkin sangat enak. Namanya Sushi, makanan Jepang yang disajikan dengan saos kecap asin dan wasabi hijau. Saya hanya ambil dua sushi dan sedikit wasabi karena belum tentu saya doyan. Pun kata kawan-kawan saya, wasabi rasanya pedas dan sedikit menyengat, siang ini saya buktikan.

Saya review. Ternyata sushi yang saya ambil adalah gulungan nasi yang diisi salmon mentah dan alpukat hijau lalu digulung dengan kerupuk rumput laut, Gen Z sering menyebutnya nori. Name tage kecil di depan hidangan itu bertuliskan Easy Honey Garlic Salmon Sushi Roll. Karena saya ambil dua suhsi, saya makan satu sushi tanpa wasabi dan satu sushi campur wasabi. Jujur ketika saya lihat food floger mereview-nya saya dibuat ngiler, tapi maaf harus saya katakan kalau makanan ini kurang cocok untuk lidah kampung seperti saya. Makanan Jepang ini mungkin sangat familier dan cocok di lidah gen z seumuran saya, namun sepertinya lidah saya masih tergolong lidah delapan puluhan.

Kedua sushi ini habis, tapi kelihatannya lidah saya tidak terlalu tampak menikmati. Saya kembali melangkah untuk mencari makanan lainnya. Es dawet hijau menjadi sasaran, lidah ini akhirnya dapat bergoyang karena kesegaran dan kekhasan dawet .

Malam, saya dan beberapa rekan yang sudah saya anggap sebagai guru diajar Pak Rektor pergi dan bermalam di kota lama. Destinasi ini menjadi sasaran kami karena tidak ada pilihan lagi yang bisa dikunjungi malam itu, sudah sangat malam. Di sela kesibukan yang begitu padat itu akhirnya kami mencicipi kerak telur khas Betawi. Makanan ini juga sama, sering keluar di beranda tapi belum pernah saya cicipi. Tampaknya dari bahan dan proses pembuatannya cocok di lidah kampung ini. Pak Wafi akhirnya pesan enam porsi untuk rombongan kita.

Beras ketan yang sudah disiram air digoreng di atas arang hitam kemerahan, tentunya tidak menggunakan minyak. Beras yang sudah meleleh dicampur dengan telur ayam dan ditabur dengan bumbu-bumbu tertentu. Proses pembuatannya sederhana tapi cukup rumit dan membutuhkan skil khusus  karena mempertimbangkan tingkat kematangan dan teksturnya. Kerak telur siap dihidangkan dan sekilas menurut saya sama seperti martabak telur. Saya nyeletuk “mungkin ini martabak betawi”.

Kerak telur ini enak, cocok di lidah saya. Pembuatan yang sederhana ditambah rempah khusus ala Betawi memanjakan lidah kita di  malam hari. Diiringi dengan ngobrol dan diskusi ringan di lesehan pinggiran kota lama itu, kerak telur perlahan habis. Menurut saya makanan khas Betawi yang seumur hidup baru saya cicipi ini lebih cocok di lidah saya ketimbang sushi dan wasabi hijau. Maklum, selama dua puluh tiga tahun mulut ini hanya makan makanan yang sederhana dan tidak neko-neko.

Secara tidak sadar hari ini saya mencicipi dua makanan baru. Mungkin sushi dan wasabi bukan tidak cocok di lidah saya, saya hanya belum bisa menemukan rasa otentik dan lezatnya sushi. Suatu saat saya akan menemukan kelezatan itu di negara asalnya sambil tertawa memeluk istri dan anak saya di tengah kesibukan seminar yang akan saya isi di negeri matahari terbit itu. Seminar tentang arah baru Studi Islam di Eks keresidenan Bojonegoro. Semoga …

Tabik, Misbah
Jakarta, 27 Juni 2026.

 

 

Ahmad Misbakhul Amin
Ditulis oleh

Ahmad Misbakhul Amin

Penulis belum menambahkan biodata singkat.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer