Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Pesantren dan Masa Depan Indonesia

Mukani

Pemikiran pendidikan dalam Islam lahir akibat dari ideologi Islam yang digambarkan oleh al-Qur’an dan hadits serta suasana baru yang muncul dalam dunia Islam. Pemikiran pendidikan Islam cepat membuat respon bagi semua perubahan dan perkembangan itu. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyaknya problematika yang belum diselesaikan. Ini menjadi tugas bersama agar pendidikan Islam ke depan mampu melahirkan outcome yang bermutu.

Keprihatinan mendalam terhadap kondisi pendidikan Islam telah memandang para cendekiawan untuk memberikan kontribusi pemikirannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti Syed Hossein Nasr, Fazlur Rahman, Naquib al-Attas dan Syed Ali Ashraf, yang telah banyak menulis buku. Bahkan nama terakhir telah menulis karya monumental berjudul Crisis in Muslim Education (1979).

Akar Filosofis

Islam menempatkan pendidikan sebagai aspek yang sangat penting. Sehingga Islam mewajibkan setiap umatnya untuk senantiasa menimba ilmu. Hal ini diperkuat firman Allah Swt yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.

Secara umum, keutamaan pendidikan Islam terletak pada dua hal. Pertama, pendidikan sangat penting karena pendidikan yang dilandasi nilai-nilai Islam akan menuntun umat Islam menuju ketakwaan secara total kepada-Nya, dengan mengaktualisasikan ajaran-ajaran Islam di dalam semua aspek kehidupan manusia. Tanpa melalui pendidikan yang tepat, situasi yang dikehendaki tidak akan pernah terwujud.

Kedua, pendidikan Islam penting karena secara akademis pendidikan merupakan aspek intelektualitas sebagai sarana formulasi untuk mendukung proses Islamisasi pengetahuan. Tanpa keterlibatan dan kontribusi lembaga pendidikan tinggi Islam lengkap dengan intelektualisasi muslim di dalamnya, Islamisasi hanya omong kosong belaka.

Di satu sisi, sedikitnya masih terdapat tiga hal yang menjadi problematika serius dari pendidikan Islam modern. Ketiga problem tersebut sangat mendesak untuk segera diselesaikan, jika diinginkan pendidikan Islam tidak tertinggal dari pendidikan lainnya.

Pertama, aspek filosofis. Problem ini berkaitan dengan visi atau pandangan dunia (world view) yang jelas-jelas mempengaruhi hakikat dan tujuan pendidikan itu sendiri. Dengan dipengaruhi visi positivistis dan materialistis, pendidikan dewasa ini cenderung membawa mentalitas palsu ke dalam umat Islam. Keadaan ini mengarah kepada dispirited ethic yang tidak terpecahkan dalam persaudaraan Islam. Akibatnya tidaklah mengejutkan jika generasi muda terdidik tidak berperilaku sesuai dengan ajaran Islam.

Sebagai alternatif solusi, maka sangat mendesak untuk membekali umat Islam dengan visi-visi yang secara komprehensif berdasarkan sumber utama agama Islam, yaitu al-Qur’an.  Pendidikan adalah proses yang mengarahkan umat manusia sebagai peserta didik keluar dari buruknya kebodohan menuju cahaya pencerahan. Secara prinsip, hal ini menegaskan bahwa Tuhan sebagai sumber pendidikan yang utama dan mutlak.

Kedua, masalah konseptual sains modern. Di satu pihak kita tidak dapat mengabaikan perlunya menyelamatkan pendidikan Islam dari sains Barat, dengan segala kekurangan dan integralitas dan spiritualitas di dalamnya. Dalam pengertian ini sebagai total hanya merupakan sebuah produk pertimbangan akal kemanusiaan sekuler. Di pihak lain kita juga penting untuk mengevaluasi ulang konsep relasional antara sains tradisional dan agama, yang menolak sama sekali isu-isu ilmiah maupun kontemporer. Sejauh ini kecenderungan tersebut melahirkan dualisme dalam sistem  pendidikan di negara-negara Islam, yang pada gilirannya telah menghasilkan pribadi-pribadi muslim yang hepokrit (munafik).

Sebagai alternatif solusi, sebenarnya sains yang dialihkan sebagai materi utama tidak hanya meningkatkan aspek kognitif saja, tetapi juga efek yang sangat luas terhadap aspek psikomotorik dan mental (afektif). Karakteristik sains yang dialihkan selama proses berlangsungnya pendidikan secara pasti membentuk penampilan manusia secara total. Untuk itu, pendidikan Islam harus membekali dan menyebarkan sains yang benar-benar Islami dan relevan dengan sumber mutlaknya, yaitu Allah.

Ketiga, terkait dengan isu metodologi. Pendidikan di negara-negara Islam biasanya tidak memiliki kreativitas dalam menyelenggarakan proses belajar-mengajar. Masalah ini disebabkan buku teks yang berkaitan dengan sains dalam pemahaman Islam masih sangat minim. Jika toh ada, buku tersebut berkaitan dengan hal-hal teknis, seperti penelitian tindakan kelas (PTK). Meniru metodologi Barat modern, semua proses belajar-mengajar juga masih sangat ”kering” dilihat dari aspek etikanya.

Sebagai alternatif solusinya, problematika dalam dunia pendidikan harus diidentifikasi terlebih dahulu, yaitu yang terkait dengan studi Islam (Islamic studies) dan kelembagaan pendidikan Islam (Islamic education institution).

Kontribusi Panjang

Pada perspektif Nusantara, institusi pendidikan Islam yang digunakan memiliki ciri khas tersendiri. Meskipun masih memiliki beberapa persamaan dengan lainnya. Institusi pendidikan Islam Nusantara adalah wadah berlangsungnya proses pendidikan Islam yang bersamaan dengan itu adalah adanya proses pembudayaan nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam ajaran Islam sebagai sebuah transfer of values. Proses tersebut dilakukan secara kontinyu dengan tetap mengakomodasi tradisi yang sudah ada di masyarakat Nusantara.

Secara historis, pesantren merupakan institusi pendidikan tertua yang sudah berdiri di Nusantara jauh hari sebelum bangsa kolonial datang. Bahkan jika diruntut, sistem pendidikan dengan konsep berasrama dalam mempelajari keilmuan agama tertentu, sudah ada sejak dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah menjadi pusat pengkajian keilmuan bagi agama Hindu dan Budha. Ini menarik dikaji dalam mengimbangi dominasi sistem persekolahan yang secara historis dibawa Belanda.

Eksistensi pesantren di Nusantara berkorelasi dengan sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia. Dimulai dari proses Islamisasi wilayah Nusantara, perjuangan melawan kolonial hingga meraih dan mempertahankan kemerdekaan, pesantren berkontribusi besar.

Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) secara historis lahir dari keprihatinan para kiai pesantren terhadap kondisi bangsa Indonesia yang dijajah Belanda. Persatuan dan kebangkitan umat Islam saat itu di bawah pimpinan kiai lewat organisasi NU diharapkan mampu menjadi solusi bangsa menuju Indonesia merdeka. Dan, perjuangan itu ternyata bukan sekedar mimpi. NU selalu punya andil dalam setiap perjalanan sejarah Indonesia, mulai dari merebut kemerdekaan, mempertahankan hingga mengisinya hingga era digital sekarang.

Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tanggal 27-31 Agustus 2026 nanti diharapkan makin memperteguh NU sebagai “pesantren besar” bagi kemajuan generasi penerus bangsa. Kontribusi positif harus terus dipertahankan dan diperluas dengan mengikuti perkembangan zaman tanpa harus kehilangan jati diri sebagai organisasi sosial keagamaan. Terutama dalam menghasilkan para pemimpin bangsa yang berkarakter dan berketeladanan guna membersamai Indonesia di masa depan. Semoga.*

Oleh: Mukani
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang dan Pengurus LTN PWNU Jawa Timur

Mukani
Ditulis oleh

Mukani

Panelis Debat Calon Bupati Nganjuk (2024)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer