Saya teringat seperti yang pernah didawuhkan KH. Bahaudin Nur Salim (Gus Baha) bahwa menjadi orang baik tidak harus didikte. Beliau menjelaskan perihal tersebut dengan sebuah hadis shohih Nabi Muhammad SAW. “Kamu jangan jadi orang yang mudah diombang ambingkan oleh orang di sekeliling kamu”. Artinya tidak perlu menunggu diberlakukan baik terlebih dahulu oleh orang lain atau ketika kita berbuat baik tidak menuntut orang lain harus berbuat baik juga kepada kita. Dengan begitu diharapkan secara konsisten tetap berbuat baik bagaimanapun keadaannya.
Mungkin tidak semudah itu sebagai manusia. Namun kita dapat memulai dengan kesadaran seperti di atas. Kita akan bisa lebih menerima dan siap berbuat baik kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan kebaikan apapun. Akan tetapi tetap percaya ketika kita berbuat baik pasti akan dibalas kebaikan pula dari manapun asalnya.
Tetaplah berbuat baik, karena kita tidak tau bagaimana dunia akan baik juga pada kita. Dawuh bapak “le nek samean gawe apik nek endi ae, mesti disenengi uwong nek endi ae (dimanapun kamu berbuat baik, orang lain akan senang denganmu).
Ada satu kisah yang pernah saya rasakan sehingga saya dapat berpikir demikian. Ketika itu saya pulang bekerja perjalanan yang cukup lumayan jauh antar kota. Antara Kota Kediri dan Tulungagung dengan jarak kurang lebih 35 Kilometer dengan waktu tempuh sekitar 45 menitan. Cuaca saat itu hujan sangat deras mengguyur. Tiba di salah satu perempatan terdapat lubang yang sangat besar dan dalam. Sepeda motor menghantam lubang dengan dahsyat nya. Ban pecah tidak terhindarkan lagi. Ban luar dalam.
Kemudian saya pinggirkan terlebih dahulu sepeda motor sambil celingak celinguk mencari tukang tambal ban. Namun tidak terlihat sama sekali karena masih sangat derasnya hujan. Nah malahan yang saya temukan adalah warung soto ayam. Pas sekali dalam keadaan terhujani dan perut mulai keroncongan. Akhirnya saya memutuskan menambal perut terlebih dahulu sambil bertanya tukang tambal ban sekitar.
Ternyata setelah saya tanya, jaraknya tidak jauh sama sekali dari warung soto tersebut. Hanya menyebrang jalan saja. Selesai melahap seporsi soto dan beberapa gorengan, saya siap mendorong motor ke bengkel tambal ban. Hujan mulai mereda, ban luar dalam mulai dibongkar dan diganti. Sambil menunggu ternyata saya belum melaksanakan ibadah sholat. Sontak saja langsung saya bertanya mencari mushola terdekat. Ternyata juga tidak jauh, hanya di seberang jalan saja. Alhamdulillah kewajiban tertunaikan, ban bocor tergantikan, dan perut sudah terisi soto ayam perempatan.
Dari situ saya merasa pasti bukan sebuah ketidaksengajaan Gusti Allah memberikan serangkaian peristiwa tersebut. Akhirnya munculah kesadaran bahwa mungkin kebaikan yang saya dapatkan berasal dari hal-hal baik yang pernah saya kerjakan pada waktu lain. Tentu tidak tahu kebaikan mana atau do’a-do’a siapa yang akhirnya bisa membantu saya dalam keadaan sesulit itu.
Kemudian bagaimana cara berbuat baik? Banyak memang cara dan dalilnya. Tapi saya mengambil dari dawuh KH. Hamim Djazuli (Gus Miek). Beliau terkenal dengan dawuh “Sabar, Ngalah, Nriman, Loman”. Sabar dimaknai sebagai proses jika menginginkan sesuatu perlu untuk ikhtiar dan do’a. Ngalah atau mengalah untuk hal-hal yang berpotensi banyak keburukan daripada kebaikannya. Nriman atau menerima dengan keadaan yang kita alami dan tetap bersyukur atas kebaikan yang sudah kita dapatkan. Loman atau dermawan dalam memberikan sesuatu kebaikan, tidak harus berupa harta akan tetapi bisa pada jasa lainnya.
Kurang lebih begitu, bahwa kebaikan tidak harus dibalas langsung dari seseorang yang kita bantu. Gusti Allah Maha Mengetahui bagaimana dunia harus membalasnya dan Dia tidak pernah memainkan dadu. Maksudnya Allah SWT sudah menghitung secara presisi bagaimana dunia bekerja. Sekali lagi berbuat baik tidak harus didikte dengan kebaikan dan tidak harus mendapatkan kebaikan dari apa yang kita lakukan. Lakukan saja dengan ikhlas biarkan Gusti Allah menjalankan kuasa-Nya. Wallahu a’lam.