Suluk.id, Jombang – Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kota Jombang, Abd Basit Misbachul Fitri, melaksanakan ujian disertasi di kampus 2 UIN Maliki Malang, Rabu (17/12). Pria akrab disapa Basit ini diuji tujuh guru besar.
Bapak tiga anak ini mengambil judul Fikih Kehidupan Bersama di Tengah Keragaman Agama dan Budaya. Penelitian ini dilakukan di kampung moderasi beragama yang berlokasi di Desa Rejoagung Ngoro Jombang.
Temuan penting disertasinya adalah munculnya konsep fikih harmoni sosial. “Ini hasil dialektika antara teks agama, realita sosial dan budaya lokal yang membentuk sistem etika sosial hidup dalam masyarakat,” ujarnya.
Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk ini menambahkan penelitiannya menggunakan fikih tasamuh. “Di sana, fikih tasamuh dijadikan kesepakatan bersama dan pengalaman agama yang kontekstual,” imbuhnya.
Di Desa Rejoagung, warga memeluk agama yang berbeda. Mulai dari Islam, Katholik, Kristen, Hindu dan Budha. “Termasuk dari segi budayanya, juga banyak perbedaan,” imbuhnya.
Ditanya kiatnya lulus tepat waktu tiga tahun, dia mengatakan biasa saja. “Harus ada komitmen dalam diri yang kuat,” imbuhnya.
Ini dikarenakan selain jadi dosen, dia juga mengajar di MA Unggulan Darul Ulum Peterongan. “Di samping mengisi pengajian, bahkan sampai ke Palembang, Papua, Sulawesi dan Sumbawa,” imbuhnya.
Dia juga mengakui dorongan dari rekan kerja sangat membantu penyelesaian kuliahnya. “Kadang harus menyelesaikan jadwal mengajar, agar fokus menulis disertasi tidak terganggu,” kata suami Siti Nur Khasanah ini.
Ikhtiar batin juga dilakukan Basit untuk memperlancar kuliahnya. “Terutama minta doa restu para kiai sepuh NU, termasuk berziyarah ke makam para wali, terutama minta doa orang tua dan mertua,” sambungnya.
Dia berharap ke depan multikultural di Rejoagung bisa dijaga dengan baik. “Dan Juli 2023 lalu sudah ditetapkan sebagai kampung moderasi beragama oleh Kementerian Agama,” jelasnya.
Apresiasi diberikan oleh Dr Ahmad Izzudin. Co-promotor ini menilai tema yang dikaji Basit menunjukkan kematangan masyarakat di Jombang. “Terutama dalam membangun harmoni sosial di tengah pluralitas masyarakat,” ujarnya. Dia berharap hasil penelitian Basit bisa menjadi role model untuk masyarakat luas.
Dirinya juga menilai sosok Basit sangat tekun dan mau belajar lebih untuk menyelesaikan disertasinya. “Di tengah kesibukan sebagai kepala rumah tangga, guru, dosen, dai, tokoh pemuda dan penggerak masyarakat,” pungkasnya. (muk)