Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Krisis Identitas dan Konsistensi Peta Arah Program Studi Keagamaan di PTKIN

Tulungagung – Tradisi ngopi oleh sebagian pihak mungkin dianggap biasa dan sepele, tetapi tidak oleh sebagian lainnya. Anggapan itu sifatnya realistis, tergantung  tujuan, perbincangan, dan bersama siapa ngopi itu dilakukan. “Semua perbuatan itu tergantung niatnya”, begitu kira-kira ucap Mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis yang berusaha menahbiskan diri mengikuti jejak Nabi. Ngopi menjadi kecenderungan masyarakat untuk bersantai atau sekedar mengistirahatkan tubuh sejenak. Tetapi dalam perjalanannya ngopi juga dapat berubah menjadi media komunikasi ikonis yang dapat melahirkan peristiwa sebesar Revolusi Perancis tahun 1799.

Kamis malam Jumat, saya dan beberapa rekan Helpdesk PMB berangkat menjamu Pak Haris di Mob Coffe. Pak Haris, Pokja SSE PMB PTKIN, adalah Dosen UIN Jurai Siwo Lampung yang secara konsisten mendampingi tim IT dalam agenda penerimaan mahasiswa PTKIN tingkat Nasional sejak 2020. Ia sudah berkecimpung lama dalam agenda PMB PTKIN. Pengalaman dan jejak rekam penelusuran yang dilaluinya sejak menjadi dosen hingga aktif menjadi Panitia Nasional memberinya kesempatan untuk melihat PTKIN secara lebih dalam.

Tidak ada tema spesifik dalam agenda ngopi malam itu. Perbincangan mengalir, sering kali diiringi canda tawa dan lebih banyak bertukar pengalaman. Di sela perbincangan itu, muncul pembahasan menarik. Pembahasan itu muncul dari pertanyaan pemantik Pak Haris kepada saya, “Misbah dari Prodi Ilmu Hadis ya?” Pak A’am memperkenalkan saya dengan Pak Haris sebagai mahasiswa ilmu hadis yang sejak tiga tahun secara intensif menghafal 500 hadis sanad dan matan. Mulai dari pertanyaan pemantik itu, hampir tiga per empat pembahasan yang kita bahas adalah menyoal Program Studi Ilmu hadis dan keagamaan.

Menurut Pak Haris, tidak dapat dipungkiri tren ketertarikan calon mahasiswa di program studi keagamaan mengalami penurunan. Walaupun penurunan itu tidak drastis, tetapi preventif penurunannya perlu dimitigasi lewat upaya-upaya tertentu. Maka tak heran bila pengelola program studi keagamaan di PTKIN lebih sering turun ke bawah lewat berbagai macam strategi. Misalnya lewat konten edukatif, flayer, atau kegiatan lainnya yang sering diselipkan dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM).

Pak Haris mengamini upaya preventif lewat promosi yang dilakukan program studi keagamaan di PTKIN sudah bagus. Lewat promosi itu setidaknya calon mahasiswa mengetahui gambaran umum tentang program studi. Beberapa elemen yang disampaikan misalnya gambaran perkuliahan, sistem pendidikan, hingga prospek kerja setidaknya memberikan wawasan baru bagi calon mahasiswa. Tetapi, menurut Pak Haris terjadi kealpaan di satu elemen, kesadaran identitas diri.

Pak Haris menegaskan, bahwa  penyebab penurunan tren program studi keagamaan, indikator terbesarnya adalah isu prospek kerja dan karier ke depan. Prodi ini cenderung tidak memiliki peta jalan yang terarah dan strategis. Akibatnya prospek kerja yang secara idealnya terpikirkan oleh pengelola program studi justru terabaikan sebab manajemen yang belum tertata. Isu semakin menguat seiring jalannya media sosial yang terus berputar dan bergerak cepat. Lulusan PTKIN khususnya program studi keagamaan oleh sebagian masyarakat umum dinilai tidak memiliki prospek kerja yang jelas atau minimal cenderung kurang cakap dalam dunia kerja. Mestinya, lewat tren ini pengelola program studi keagamaan idealnya melakukan introspeksi lewat kerja manajerial yang terarah dan terstruktur.

Pengelola program studi keagamaan seharusnya mencoba melihat masalah ini dari akarnya. Karena akar permasalahan ada pada persepsi masyarakat luas, idealnya sebelum melakukan promosi untuk menggambarkan diri prodi seharusnya prodi sudah memiliki identitas dan pola pikir yang matang. Identitas ini berkaitan dengan korpus, karakteristik, dan pola kerja prodi keagamaan. Bila Fakultas ekonomi berbicara tentang proyeksi keuangan negara ke depan, tantangan pendapatan masyarakat per-kapita, dan itu di anggap wilayahnya, maka pastinya program studi keagamaan juga memiliki wilayah sendiri. Jika prodi di Fakultas Hukum berbicara tentang eksplanasi tata ruang hukum, wacana baru RUU, atau tentangan kebijakan pemerintahan, dan itu dianggap sebagai identitas, pastinya prodi keagamaan juga memiliki identitas sendiri. Yang perlu dipikirkan dan disosialisasikan adalah bagaimana membangun narasi positif kepada masyarakat tentang Prodi keagamaan. Pak Haris mengatakan, “terkadang tidak semua Prodi yang kurang diminati berarti tidak dibutuhkan. Kadang ia hanya belum menemukan cara untuk menjelaskan nilai dirinya”.

Tampaknya Pak Haris dan Pak A’am bertemu di titik simpul persepsi yang sama. Menurut keduanya Prodi keagamaan di PTKIN misalnya Ilmu Hadis, Ilmu Al Quran dan Tafsir, dan Aqidah Filsafat Islam mestinya sadar bahwa dirinya beridentitas sebagai perawat keilmuan. Islam sudah mengalami banyak transformasi, baik dalam hal sosial budaya, politik keagamaan, maupun realitas masyarakatnya. Islam juga sudah mengalami banyak transisi keilmuan dan tren pengetahuan. Semua hal itu membentuk suaka ilmu yang luas dan perlu dilestarikan. Melalukan wacana di atas keilmuan klasik tadi sangat urgen, tetapi  merawat keilmuan yang telah disusun, didialektikakan, dan disistematiskan oleh ilmuan klasik tidak boleh ditinggalkan. Posisi ini idealnya harus ditempatkan secara kultural dan struktural oleh pengelola Prodi kepada mahasiswanya lewat kurikulum, metode pengajaran, hingga prospek kerja.

Perbincangan singkat yang kita lakukan di atas agaknya memantik saya untuk berpikir dan merefleksikan diri lebih jauh. Sebagai mahasiswa ilmu hadis, saya paham betul bahwa ilmu hadis mengalami perkembangan sejak dulu. Perkembangan itu sering kali dialami dan mengakibatkan pergeseran paradigma. Di setiap masa ada ilmuan, dan setiap ilmuan ada zamannya. Saya yakin bahwa para ilmuan ini memiliki kapasitas keilmuan dan pendapat yang tidak mungkin sama. Pada akhirnya perbedaan ini melahirkan skema keilmuan yang unik, menarik, dan bermacam-macam. Bila semuanya tidak dipelajari dan tidak diselamatkan oleh sebagian orang, maka pemikiran tadi akan terbuang sia-sia.

Individu yang idealnya secara konsisten menelaah, mempelajari, dan tetap mengembangkan metodologi pemahaman agama adalah mahasiswa Prodi keagamaan. Maka perlu disadari bahwa Prodi keagamaan memiliki titik ruang dan identitas sendiri yang tidak bisa disamakan dengan Prodi umum. Jika Prodi umum memandang dan melihat permasalahan empiris secara realistis, maka posisi Prodi keagamaan merawat keilmuan yang sudah hidup di masyarakat. Bila Prodi umum intensif melakukan kajian problem, maka ruang Prodi keagamaan berbicara masalah sosial budaya, kultur keagamaan, dan tradisi lokal. Keduanya memiliki posisi dan identitas masing-masing, maka melihatnya dari satu kaca mata adalah kesalahan yang fatal. Begitu sederhana saya menafsirkan argumentasi Pak Haris dan Pak Aam.

Pada intinya, Pak Haris dan Pak Aam memandang bahwa kini Prodi keagamaan mengalami kegagalan dalam mengenalkan identitas diri kepada masyarakat umum. Strategi promosi terus dilakukan, tetapi tanpa memahami dan mengenali diri Prodi keagamaan secara mendetail, agaknya akan sia-sia. Dalam konteks ini mestinya negara dan Prodi juga hadir turut serta membangun karier mahasiswanya. Kebingungan alumni program studi keagamaan seharusnya menjadi contoh nyata bagi pengelola Prodi untuk membuka peluang karier yang lebih jelas dan terstruktur sesuai dengan identitas dan posisinya.

Taruhlah misalnya tiga lulusan terbaik dalam setiap angkatan diberikan fasilitas atau akses untuk studi lanjut sekaligus mengajar di negara tetangga. Bila program studi secara aktif mengirim tiga terbaik lulusannya untuk mengajar sekaligus studi lanjut di luar negeri, narasi yang terbangun adalah profil lulusan ilmu hadis layak ajar di luar negeri. Secara tidak langsung distingsi lulusannya juga terbangun, bahwa lulusan prodi ilmu hadis telah dibekali dengan kurikulum berbasis internasional yang adaptif terhadap dialektika zaman dan tetap aktif merawat tradisi turats lokal. Akan lebih distingtif, karena Prodi keagamaan memiliki beban berat dalam menjaga tradisi yang sudah pernah ada, hidup dan ekses, tanpa meninggalkan upaya mewacanakan kontestasi sosial keagamaan yang lebih adaptif. Ini intermezzo dan angan-angan, jika terealisasi saya sungguh senang.

Pada akhirnya kita berharap semoga Negara dan pengelola Prodi keagamaan segera melakukan kerja manajerial yang betul-betul menyiapkan generasinya ke arah karier yang lebih jelas, sehingga alumni dan mahasiswanya dapat fokus melakukan kerja riset dan pengembangan sesuai kapasitasnya. Diskusi ini mestinya masih panjang dan belum sepenuhnya saya tulis. Tetapi inti dari segala perbincangan kita malam itu diilhami dan dapat dibaca pada tulisan pak haris dengan judul Daun Pisang dan Songkolo. Pembaca dapat mencarinya di mesin telusur, https://www.metrouniv.ac.id/artikel/daun-pisang-di-california/ dan https://www.metrouniv.ac.id/artikel/belajar-posisioning-dari-songkolo/.

 

 

Ahmad Misbakhul Amin
Ditulis oleh

Ahmad Misbakhul Amin

Penulis belum menambahkan biodata singkat.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer