Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Pesantren vs Algoritma: Pertarungan Diam-Diam Merebut Ruang Digital Muslim Urban

suluk
· Diperbarui 6 July 2026

Tuban, 05 Juli 2026_ Musholla An Nur Center Tasikmadu Palang Tuban, tidak seperti biasanya. Bincang Literasi bersama Redaktur Suluk Ide, sebuah forum kecil yang mempertemukan aktivis, mahasiswa, dan tokoh masyarakat penggerak literasi di wilayah Tuban. Ada perwakilan Gerakan Tuban Menulis, Santri Manbail Futuh, Mahasiswa IAINU Tuban, hingga Komunitas El Himmah dari Tulungagung. Skalanya memang tidak besar, tapi gagasan yang dibicarakan di dalamnya punya cita-cita besar tentang bagaimana kitab kuning bisa diajak bicara lewat kecerdasan buatan.

Pemateri utama, Amrullah Ali Moebin, peneliti sekaligus Pimpinan Umum Suluk.id membuka cerita dari akar platform yang ia rintis. Suluk lahir sebagai wakaf dari PCNU Tuban, dibesarkan dari Warkop Jati di bawah naungan LTN NU Tuban, sebelum kini justru lebih intens dikelola di Tulungagung dan diramaikan kader NU Jawa Timur.

“Kita ini mungkin dianggap nyolong oleh sebagian orang,” katanya sambil tertawa dan bercanda mengenang, tapi ia bersyukur jejaring Suluk telah merambah sampai ke Jawa Timur.

Amrullah Ali Moebin yang kini menjadi dosen di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung lalu memetakan pergeseran zaman. Pada 2018, situs seperti website Suluk.id masih jadi kiblat rujukan keislaman masyarakat. Namun pasca-pandemi arus teknologi bergerak lebih cepat dan website tak lagi menjadi rujukan fikih, melainkan sekadar basis data. Dari situ ia dan koleganya, Rudi Cahyono mulai meneliti arah baru dengan menjadikan Suluk.id sebagai meta data  berbasis model bahasa besar (LLM), semacam Chat GPT versi pesantren yang kini tengah belajar membaca meta di Suluk.id.

Inspirasinya datang dari India lewat aplikasi Krishna GPT yang memungkinkan masyarakat berdialog dengan Dewa Krishna. Bung A’am ingin Bulughul Maram, kitab hadis hukum yang jadi rujukan dasar fikih dihidupkan dengan cara serupa sehingga masyarakat bisa berdialog langsung dengannya. Ambisinya tak berhenti di situ, Suluk direncanakan berkembang menjadi semacam Islamic boarding school digital lengkap dengan layanan pendampingan mualaf hingga biro jodoh syar’i.

“Yang jelas embrionya adalah database website Suluk.id dan beberapa kitab fikih dasar,” tegasnya, seraya mengingatkan pentingnya basis data yang berpijak pada akal sehat dan ASWAJA, ditopang khazanah PP Manbail Futuh dan PP Tanggir dan Pesantren di Tuban sebelum nantinya merambah kitab-kitab fikih dasar seperti Safinatun Naja, Mabadi’ Fikih, dan Taqrib.

Yang menarik, Bung A’am sebagai dosen yang konsentrasi di komuniaksi masyarakat muslim Indonesia menyelipkan semacam kegelisahan personal. Ia menyebut Komunitas Pegon Banyuwangi pimpinan Ayun sebagai contoh yang bikin iri komunitas yang serius menyelamatkan manuskrip lokal, bahkan sampai menemukan naskah Mbah Wahab Chasbullah yang kemudian diterjemahkan. “Kok semangat seperti ini belum muncul di Tuban,” keluhnya, menyayangkan belum lahirnya generasi penerus gerakan literasi sejak ia merintisnya pada 2015.

Diskusi kemudian bergulir ke Mutholibin, yang menawarkan catatan kritis sekaligus memperkaya gagasan. Ia mengusulkan agar Maktabah Syamilah sebagai basis data kitab digital yang lebih dulu eksis dan lazim dipakai dalam perkuliahan kitab turut dipertimbangkan sebagai penunjang Suluk AI. Mutholibin juga membagi pengalaman personalnya membaca kitab kuning sebagai proses imajinatif, seolah berdialog langsung dengan penulisnya, pengalaman yang menurutnya bisa direplikasi lewat teknologi semacam Krishna GPT.

Ia lalu menyinggung realitas di lapangan yang agak ironis: santri yang sebenarnya cakap menjelaskan fikih justru minder tampil di TikTok karena mendapat komentar merendahkan dari kalangan sendiri. Di sisi lain, buku dan novel berbahasa Indonesia justru disita di beberapa pesantren, sementara para gus dan ning-nya sendiri aktif membuat konten di media sosial. “Ini kan namanya tidak konsisten,” ujarnya.

Suara paling reflektif datang dari Wawan, yang mengaku kerap membentur tembok ketika mencoba menularkan semangat literasi kepada adik-adik di PMII Tuban maupun kalangan pesantren. Dari bedah buku Ahmad Baso yang sepi apresiasi hingga keluhan bahwa generasi Z dinilai kurang mengenal sejarah pemikiran tokoh-tokoh pesantren semua ia bingkai sebagai akibat dari pesantren yang belum serius membranding diri lewat tulisan.

Forum kecil di Tasikmadu sore itu barang kali belum melahirkan keputusan besar. Tapi ia menyimpan gambaran yang lebih luas yakni pertarungan diam-diam untuk menentukan siapa yang lebih dulu mengisi ruang digital keislaman dan pertanyaan mendasar apakah tradisi pesantren siap menemani lompatan teknologinya sendiri.

 

 

suluk
Ditulis oleh

suluk

Merawat Islam yang Ramah

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer