Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Jatuh Cinta dan Bertumbuh dalam Cinta di Pernikahan

Redaksi

Fase-fase dalam pernikahan merupakan perjalanan yang hampir selalu dialami oleh setiap pasangan. Tidak selamanya pernikahan dipenuhi dengan perasaan berbunga-bunga seperti pada masa awal jatuh cinta. Seiring berjalannya waktu, cinta akan mengalami perubahan bentuk, kedalaman dan cara mengekspresikannya. Karena itu, tidak sedikit pasangan yang merasa bingung ketika gairah dan euforia awal mulai berkurang.

Andrew G. Marshall dalam bukunya I Love You But I’m Not in Love with You mengangkat sebuah kalimat yang cukup mengusik banyak pasangan: “Aku mencintaimu, tetapi aku tidak lagi jatuh cinta padamu.” Kalimat ini sering muncul dalam rumah tangga yang sedang mengalami krisis dan kerap dianggap sebagai pertanda bahwa cinta telah berakhir. Padahal, dalam banyak kasus, yang sesungguhnya berakhir bukanlah cinta itu sendiri, melainkan satu fase dari perjalanan cinta yang sedang bergeser menuju bentuk yang lebih matang dan dewasa.

Memahami fase-fase dalam pernikahan menjadi penting agar pasangan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa hubungan mereka telah gagal hanya karena perasaan yang dirasakan tidak lagi sama seperti dahulu. Pernikahan bukan sekadar tentang mempertahankan rasa jatuh cinta, tetapi tentang belajar bertumbuh, beradaptasi dan membangun cinta yang semakin kuat di setiap fase kehidupan yang dijalani bersama.

Pernikahan bukanlah sebuah garis lurus yang selalu dipenuhi kebahagiaan dan romantisme. Ia adalah perjalanan panjang yang memiliki tahapan-tahapan tertentu. Setiap fase memiliki tantangan, ujian, sekaligus pelajaran yang berbeda. Menariknya, jika dicermati lebih dalam, perjalanan tersebut memiliki kesesuaian dengan nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an.

Pada awal pernikahan, pasangan biasanya memasuki fase yang sering disebut sebagai fase bulan madu (The Honeymoon Stage). Pada masa ini, cinta, gairah, dan kekaguman tumbuh begitu kuat. Kehadiran pasangan menjadi sumber kebahagiaan. Kekurangan pasangan nyaris tidak terlihat, sementara kelebihannya tampak begitu sempurna. Kondisi ini selaras dengan firman Allah Swt. dalam QS. Ar-Rum: 21.

Pada fase pertama ini, mawaddah lebih dominan dirasakan. Cinta hadir dalam bentuk ketertarikan, kerinduanbdan gairah yang kuat. Namun, sebagaimana musim yang terus berganti, fase ini tidak berlangsung selamanya.

Seiring waktu, pasangan mulai memasuki fase penyatuan (The Blending Stage). Dua individu yang dibesarkan dalam lingkungan berbeda mulai berhadapan dengan realitas kehidupan bersama. Perbedaan karakter, kebiasaan, cara berpikir dan pola komunikasi mulai terlihat.

Dalam fase kedua ini, pasangan dituntut untuk saling memahami dan menerima. Al-Qur’an menggambarkan hubungan tersebut dengan sangat indah dalam QS. Al-Baqarah: 187.

Pakaian berfungsi menutupi kekurangan, melindungi dan memberikan kenyamanan. Begitu pula suami dan istri, mereka harus menjadi tempat berlindung bagi satu sama lain, bukan justru membuka aib dan memperbesar kekurangan pasangan.

Setelah itu, pasangan memasuki fase membangun keluarga (The Nesting Stage). Fokus kehidupan mulai bergeser pada urusan yang lebih nyata: mencari nafkah, membangun rumah tangga, mengasuh anak dan mempersiapkan masa depan keluarga. Pada tahap ini, cinta tidak lagi hanya diungkapkan melalui kata-kata romantis, tetapi melalui kerja keras, pengorbanan dan tanggung jawab. Ini sebagaimana firmab Allah Swt dalam QS. An-Nisa: 34.

Ayat ini menunjukkan bahwa rumah tangga tidak hanya dibangun dengan cinta, tetapi juga dengan tanggung jawab dan komitmen untuk menjaga kesejahteraan keluarga.

Namun, perjalanan pernikahan tidak selalu berjalan mulus. Banyak pasangan kemudian memasuki fase yang oleh Andrew G. Marshall disebut The Caught in a Trap Stage atau fase terjebak.

Pada fase ini muncul kejenuhan, konflik dan rasa kecewa terhadap pasangan. Kekurangan yang dahulu dianggap biasa kini terasa mengganggu. Tidak sedikit yang mulai bertanya dalam hati, apakah dirinya menikah dengan orang yang tepat.

Sesungguhnya Al-Qur’an telah memberikan petunjuk menghadapi situasi seperti ini dalam dalam QS. An-Nisa: 19.

Ayat ini mengajarkan bahwa rasa kecewa dan ketidaksukaan kepada pasangan bisa saja terjadi dalam perjalanan rumah tangga. Akan tetapi, perasaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk tergesa-gesa mengakhiri hubungan. Bisa jadi di balik kekurangan yang kita lihat, Allah menyimpan banyak kebaikan yang belum kita sadari.

Pasangan yang mampu melewati fase badai biasanya memasuki fase berikutnya, yaitu fase pembelajaran ulang (The Re-Education Stage). Pada tahap ini, mereka mulai menurunkan ego, membuka ruang dialog, memperbaiki komunikasi dan belajar menerima kenyataan bahwa tidak ada pasangan yang sempurna. Kesabaran dan kemampuan memaafkan menjadi kunci utama.

Prinsip dialog dan musyawarah juga diajarkan dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Swt di QS. Ali Imran: 159.

Dalam rumah tangga, komunikasi yang baik, kesediaan mendengar dan kemampuan memaafkan sering kali menjadi obat yang lebih ampuh daripada mencari siapa yang paling benar.

Apabila pasangan berhasil melewati seluruh proses tersebut, mereka akan sampai pada fase yang paling matang, yaitu The Wholehearted Love Stage.

Pada tahap ini, cinta tidak lagi bergantung pada penampilan fisik, usia muda atau gejolak perasaan yang menggebu-gebu. Yang tumbuh adalah ketenangan, kedamaian dan kasih sayang yang mendalam. Pasangan menjadi sahabat hidup yang saling memahami, saling menguatkan dan saling menenangkan.

Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini melalui doa yang sangat indah dalam QS. Al-Furqan: 74.

Pada fase inilah cinta berkembang menjadi rahmah. Pasangan bukan lagi sekadar objek ketertarikan, tetapi telah menjadi qurrata a’yun, penyejuk hati dan penyejuk mata. Mereka tidak lagi bertahan karena perasaan semata, melainkan karena kesadaran, komitmen, dan kasih sayang yang matang.

Karena itu, ketika suatu hari rasa berbunga-bunga mulai berkurang dalam pernikahan, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa cinta telah hilang. Bisa jadi hubungan tersebut sedang bergerak menuju bentuk cinta yang lebih dewasa.

Pernikahan bukan tentang mempertahankan sensasi jatuh cinta sepanjang waktu, tetapi tentang belajar mencintai orang yang sama dalam setiap musim kehidupan. Sebab cinta sejati bukanlah cinta yang tidak pernah diuji, melainkan cinta yang tetap bertahan setelah berhasil melewati berbagai ujian bersama.

 

Oleh: Mochammad Fuad Nadji

Penghulu pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo dan

Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah al-Maidah Durungbedug

Redaksi
Ditulis oleh

Redaksi

Suluk.id merawat Islam Ramah serta mengajak beragama yang menggembirakan

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer