Setiap tahun, peristiwa Isra’ Mi’raj hadir di tengah kehidupan umat Islam sebagai kisah spiritual yang sarat makna. Ia bukan sekadar cerita perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus langit demi menerima perintah salat. Lebih dari itu, Isra’ Mi’raj adalah ajakan untuk naik kelas, bukan secara akademik, melainkan secara ruhani. Peristiwa ini berdekatan pula dengan datangnya Ramadhan 1447 H, muncul pertanyaan penting: sudah sejauh mana pendidikan kita membantu manusia “mi’raj” dari rutinitas duniawi menuju kesadaran ilahiah?
Pendidikan hari ini sering kali terjebak pada angka dan peringkat. Nilai rapor, indeks prestasi, akreditasi, dan ranking sekolah menjadi tolok ukur utama keberhasilan. Capaian-capaian itu tidaklah salah. Namun, ketika pendidikan hanya dimaknai sebagai proses memindahkan pengetahuan dari buku ke kepala (transfer of knowledge), kita akan kehilangan esensinya. Pendidikan seharusnya juga memindahkan nilai dari hati ke tindakan. Isra’ Mi’raj mengingatkan kita bahwa puncak perjalanan manusia bukan sekadar tahu dan bisa, tetapi ada rasa ketundukan dan ketaatan; bukan sekadar memiliki kecerdasan, tetapi memiliki kesadaran. Karena saat ini, banyak orang yang cerdas, banyak orang pintar, banyak orang tahu – apalagi di tengah melesatnya teknologi informasi yang mudah diakses siapa saja. Akan tetapi yang dibutuhkan adalah mereka yang memiliki ketundukan, ketaatan, dan kesadaran diri.
Di ruang-ruang kelas, kita mungkin sering menyaksikan guru mengajar dengan target kurikulum yang ketat. Mereka harus membuat perencanaan yang matang, baik secara administrasi maupun pelaksanaan, materi harus selesai dan tuntas, soal harus dikerjakan, dan evaluasi harus dilaporkan. Dalam situasi seperti ini, pendidikan mudah menjadi alat mekanis. Padahal, pendidikan sejatinya adalah perjumpaan antarmanusia: guru dan murid, nilai dan realitas, ilmu dan akhlak. Untuk itu, dalam kaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Kita sebagai warga pendidikan dan berkecimpung dalam dunia pendidikan harus melakukan Mi’raj edukatif. Dalam Mi’raj edukatif ini, pendidikan seharusnya membawa proses belajar naik ke tingkat yang lebih bermakna, di mana ilmu menumbuhkan kepekaan, dan pengetahuan melahirkan kebijaksanaan. Karena sering kita jumpai, beberapa orang yang berilmu kurang memiliki kepekaan dan kesadaran, justru kesombongan dan keangkuhan yang ditonjolkan. Merasa bisa, merasa mampu, merasa ahli. Mereka memiliki pengetahuan pun bukan lagi mampu menundukkan egonya untuk lebih arif dan bijaksana.
Salat yang diwajibkan sebagai oleh-oleh dalam peristiwa Mi’raj sering disebut sebagai “mi’rajnya orang beriman”. Salat bukan hanya ritual dan gugurnya kewajiban, tetapi suatu proses latihan kedisiplinan, kejujuran, dan kesadaran diri, bahwa kita membutuhkan dzat yang maha, kita membutuhkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Jika nilai-nilai tersebut masuk ke dalam praksis pendidikan, sekolah dan kampus tidak hanya mencetak lulusan pintar, tetapi juga manusia yang tahu arah hidupnya, dari mana ia berasal dan kemana ia berjalan serta apa yang harus dituju dan kembali nantinya. Pendidikan yang demikian akan melahirkan pribadi yang mampu menahan diri, menghargai sesama, dan bertanggung jawab, nilai-nilai yang sangat dibutuhkan menjelang dan selama Ramadhan.
Ramadhan sendiri adalah madrasah besar bagi umat Islam. Ia mengajarkan pengendalian diri, empati terhadap yang lemah, dan kejujuran pada diri sendiri. Namun, Ramadhan tidak datang dari ruang hampa. Ia memerlukan kesiapan. Di sinilah peran pendidikan menjadi krusial. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menyiapkan manusia untuk menjalani Ramadhan bukan sebagai rutinitas tahunan, tetapi sebagai momentum perubahan. Dari sekadar menahan lapar dan haus menjadi memperbaiki hati dan perilaku; dari sekadar menggugurkan kewajiban menjadi membangun kepekaan sosial.
Mi’raj pendidikan juga berarti keberanian untuk merefleksi. Apakah sekolah dan kampus kita sudah menjadi ruang aman bagi tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan? Apakah proses belajar memberi ruang bagi kejujuran, kerja sama, dan kepedulian? Ataukah justru tanpa sadar menumbuhkan sikap kompetitif yang kering makna? Atau justru menumbuhkan sikap kesombongan dan keangkuhan superioritas yang melupakan asal-usulnya? Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan, terutama ketika kita hendak memasuki bulan suci Ramadhan yang menuntut kejernihan hati.
Transformasi ruhani dalam pendidikan tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Ia bisa dimulai dari hal sederhana: guru yang mengajar dengan empati, dosen yang menilai dengan adil, sekolah yang menumbuhkan budaya saling menghargai. Keteladanan sering kali lebih efektif daripada ceramah panjang. Ketika pendidik menghadirkan nilai dalam sikap sehari-hari, peserta didik belajar bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan hati.
Menjelang Ramadhan 1447 H, Mi’raj pendidikan kita seharusnya menjadi agenda bersama. Bukan agenda administratif, melainkan agenda kesadaran. Pendidikan perlu membantu manusia naik dari sekadar “tahu”, akan tetapi mengubah “menjadi”. Dari menghafal nilai menjadi menghidupkan nilai. Jika ini terwujud, maka meja-meja kelas tidak lagi sekadar tempat duduk belajar, melainkan pijakan awal menuju gerbang Ramadhan yang lebih bermakna. Ramadhan yang tidak hanya mengubah jadwal makan, tetapi juga arah hidup.
*Dosen Tetap Program Studi PAI Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang dan Guru MA Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang