Suluk.ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Menata Hati, Menguatkan Iman

Redaksi
· Diperbarui 15 January 2026

Oleh: Siti Khotimah*

Dalam setiap tahun umat Islam di seluruh dunia menyambut peringatan Isra’ Mi’raj dengan penuh khidmat. Peristiwa agung ini bukanlah hanya cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun melainkan sebuah tanda kebesaran dan kekuasaan Allah serta bukti keistimewaan Rosulullah Saw.

Di balik kisah perjalanan malam yang penuh mukjizat, terdapat pesan-pesan yang sangat relevan bagi kehidupan kita. Dalam menyambut peristiwa Isra’ Mi’raj seharusnya bukan sekadar seremonial. Melainkan momentum untuk menata hati dan menguatkan iman.

Isra’ Mi’raj mengisahkan tentang perjalanan Nabi besar Muhammad Saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’) dan dilanjutkan naik ke Sidratul Muntaha (Mi’raj). Di sanalah beliau Rosulullah Saw menerima perintah shalat lima waktu, sebuah ibadah yang menjadi tiang agama dan kunci ketenangan serta ketentraman jiwa.

Saat kita menengok makna di balik peristiwa ini, kita menemukan betapa shalat bukanlah sekadar kewajiban dan tanggung jawab kita. Melainkan sebuah anugerah yang dapat menghubungkan hamba dengan Tuhannya.

Dalam kehidupan yang semakin penuh dengan kesibukan, hiruk pikuk dan penuh tekanan, shalat dapat menjadi ruang teduh yang mengembalikan arah sekaligus keteguhan hati kita.

Peringatan Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu berjalan dengan mudah. Rasulullah Saw menerima perintah shalat pada masa yang sangat sulit dan berat dalam hidupnya, masa ketika beliau kehilangan orang-orang tercinta, menghadapi penolakan, dan mengalami berbagai tekanan dari kaum musyrikin.

Namun justru pada saat itulah, Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan kemuliaan-Nya. Hal ini mengingatkan kita bahwa di balik keterpurukan dan kelelahan, pasti selalu ada pertolongan Allah yang datang tepat pada waktunya.

Isra’ Mi’raj adalah bukti bahwa kegelapan bukanlah akhir, melainkan jembatan menuju cahaya.
Dalam konteks kehidupan modern, nilai-nilai Isra’ Mi’raj sesungguhnya sangat diperlukan.

Banyak dari sekitar kita hidup dengan rutinitas yang cepat dan penuh tuntutan. Kita mudah merasa jenuh dan lelah, kehilangan konsentrasi, dan bahkan kehilangan arah.

Melalui semangat dari Isra’ Mi’raj, kita diajak untuk kembali menata prioritas, memperkuat ibadah dan akidah serta menghidupkan kembali kesadaran spiritual yang kerap terlupakan.

Shalat lima waktu bukan hanya ritual, tetapi pondasi yang menjaga keseimbangan jiwa dan akhlak. Sholat mengajarkan kita disiplin, ketenangan, kesabaran, dan kepatuhan dalam—karakter-karakter yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi dinamika zaman.

Menyambut Isra’ Mi’raj seharusnya juga menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan. Baik dengan Allah SWT maupun sesama manusia. Peristiwa itu menunjukkan betapa Rasulullah Saw selalu membawa pesan kedamaian, kasih sayang dan keadilan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, nilai-nilai ini sangat penting sekali. Ketika perbedaan semakin tajam dan media sosial sering menjadi arena pertikaian, ajaran Rasulullah Saw mengingatkan bahwa kebaikan harus selalu menjadi pondasi setiap tindakan.

Sikap saling menghargai, menyayangi, menghindari prasangka buruk, serta menebarkan kedamaian adalah bentuk nyata dari meneladani akhlak Baginda Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa setiap umat memiliki kesempatan untuk naik menuju derajat yang lebih tinggi. Mi’raj dalam makna spiritual bukanlah sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati menuju kesucian jiwa.

Setiap dari kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, memperkuat akhlak, akidah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Meninggalkan kebiasaan buruk serta memperbanyak amal kebaikan dan mengoptimalkan potensi diri adalah bagian dari “mi’raj” yang dapat kita lakukan di kehidupan kita sehari-hari.

Sebagai individu maupun bagian dari masyarakat, kita dapat merayakan peringatan Isra’ Mi’raj dengan cara yang sederhana namun sangat bermakna. Mengikuti kegiatan pengajian, membaca kembali kisah Isra’ Mi’raj dan memperdalam pemahaman tentang shalat, memperbanyak dzikir, atau sekadar merenungkan perjalanan hidup kita selama ini.

Hal-hal kecil ini dapat menjadi titik awal perubahan yang besar apabila dilakukan dengan hati yang tulus dan ikhlas.
Orang bijak berkata, “Perjalanan terjauh adalah perjalanan ke dalam diri.”

Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual manusia adalah sesuatu yang agung dan harus selalu diperjuangkan. Kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan, namun kita selalu punya kesempatan untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Peringatan Isra’ Mi’raj adalah kesempatan untuk mengawali kembali. Kesempatan untuk memperbaiki niat, membersihkan hati dari iri hati, dengki, dendam,benci, dan lelah. Kesempatan untuk memperbaiki shalat yang selama ini mungkin sekadar rutinitas maupun kewajiban. Kesempatan untuk menghidupkan cinta kepada Rasulullah Saw melalui akhlak yang lembut, sabar, dan penuh cinta kasih.

Pada akhirnya, menyambut Isra’ Mi’raj adalah tentang bagaimana menyambut diri kita yang lebih baik, lebih beriman, lebih tenang dan lebih bijaksana. Peringatan Isra’ Mi’raj ini diharapkan mampu menjadi cahaya yang menerangi langkah-langkah kita, menguatkan hati kita, dan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah Swt.

*Siti Khotimah, guru PAl di SDN 4 Ngasem Kec. Ngajum Kab. Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer