Ada masa dalam hidup ketika seseorang berhenti mengeluh, bukan karena semua masalah selesai, tetapi karena ia sadar bahwa hidup terlalu berharga untuk terus diratapi tanpa ada solusi. Pada titik itulah semangat tumbuh, bukan sebagai euforia kosong semata, melainkan keyakinan bahwa setiap langkah kecil akan selalu punya makna. Seperti nuansa lagu On Top of the World karya Imagine Dragons, hidup tidak selalu berbicara tentang kemenangan besar, tetapi tentang keberanian untuk berdiri tegak dan berkata.
“aku masih di sini, dan aku siap melangkah!!!.”
Banyak orang menunggu kondisi sempurna untuk dapat merasakan yang namanya bahagia. Padahal, dunia tidak pernah berhenti berputar menunggu kesiapan kita. Siang dan malam silih berganti, matahari dan bulan berjalan pada porosnya masing-masing. Dalam QS. Yasin ayat 40, Allah berfirman bahwa matahari tidak mungkin mengejar bulan dan malam pun tidak mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. Allah dalam ayat ini menjelaskan bukan hanya gambaran kosmik, akan tetapi pesan yang sangat mendalam tentang kehidupan, yaitu setiap manusia memiliki waktu, jalur, dan perannya sendiri.
Sering kali kita merasa tertinggal. Melihat orang lain melaju, mencapai pencapaian demi pencapaian, sementara diri ini seakan berjalan di tempat. Namun seperti matahari dan bulan, kita tidak sedang berlomba di lintasan yang sama. Hidup bukan kompetisi kecepatan, melainkan perjalanan kesadaran. Sadar akan kemampuan diri mereka sendiri, sadar akan tujuan hidup, bahkan sadar akan keinginan diri. Ketika seseorang memahami ini, beban perbandingan mulai luruh, digantikan rasa syukur dan fokus pada proses diri sendiri.
Bukan berarti nuansa optimis sejati maka akan menutup mata dari luka. Justru ia lahir dari keberanian seseorang dalam mengakui hidup tidaklah selalu berjalan mulus sesuai gambarannya. Penulis teringat akan salah satu komik yang ia baca, tertulis dengan jelas di situ bahwa seseorang akan tumbuh dengan kokoh ketika ia mengingat setiap jati dirinya. Kegagalan, penolakan, sampai kelelahan mental merupakan bagian dari hidup kita.
Di balik semua itu, terdapat kekuatan yang bekerja secara diam-diam. Allah mengingatkan kita dalam QS. Yasin ayat 82 bahwa apabila dia menghendaki sesuatu, maka cukup mengucapkan “Jadilah”, maka terjadilah ia. Mengajarkan bahwa keterbatasan manusia tidak pernah menjadi batas bagi kuasa Tuhan. Tidak ada yang mustahil jika Allah berkehendak dan manusia akan selalu memiliki kesempatan jika ingin berusaha.
Keyakinan ini mengubah cara pandang seseorang terhadap harapan. Harapan tidak lagi rapuh karena bergantung pada manusia, keadaan, atau hasil instan. Ia berdiri kokoh karena bersandar pada kehendak Allah. Ketika pintu terasa tertutup, bukan berarti jalan telah habis. Sebagaimana disampaikan Fajar dalam kanal Deddy Corbuzier berjudul “Fajar Sadboy & Firmansyah Bergabung… Gak Lagi-Lagi Sudah!!”, manusia yang paling sombong adalah mereka yang tidak melantunkan doa dalam satu hari. Karena itu, teruslah berdoa dan tinggikan harapan. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan pintu lain yang lebih tepat, atau sedang membentuk diri kita agar benar-benar layak untuk melewatinya.
Hidup memang tidak selalu membawa kita langsung ke puncak, tetapi setiap langkah yang dijalani dengan iman, doa, dan usaha selalu memiliki nilai di hadapan Allah. Selama manusia menyadari jalurnya, menghormati waktunya, dan tetap bersandar pada kehendak-Nya, maka tak ada perjalanan yang benar-benar sia-sia. Barangkali kita belum sampai, tetapi selama kita terus melangkah, kita sedang menuju ke arah yang benar.