Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Halaqah Alumni PPDA Manbail Futuh Tuban: Pengasuh Tekankan Kepekaan Daya Saing dan Adaptif Terhadap Dinamika Sosial

Tuban, sore ini Pondok Pesantren Darul Anwar Manbail Futuh Tuban (PPDA) kembali ramai di tengah musim lebaran. Santri alumni yang pernah belajar di pesantren tersebut berkumpul, bersilaturahim dan bernostalgia epik dengan kawan seperjuangan. Lewat Ikatan Santri Alumni Darul Anwar (IKSADA), santri alumni menggelar agenda Halal Bi Halal pada Selasa, 24 Maret 2026 bertempat di Musolla utama pesantren.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh alumni sejak pesantren ini berdiri secara langsung dihadiri oleh Pengasuh PPDA MF, KH. Ahmad Syariful Wafa, MA. Tampak pula beberapa tenaga pengajar, baik pengajar aktif maupun ustadz yang pernah pengajar di pesantren tersebut hadir menambah kekhidmatan acara berlangsung.

Ketua panitia HBH IKSADA 2026, Muammar Khadafi dalam sambutannya menegaskan bahwa agenda HBH tahun ini diproyeksikan untuk merajut kembali persaudaraan rasa saling mengasihi. “Secara esensi kita ini berasal dari satu rahim, rahim Pondok Pesantren Darul Anwar. Kita ini dibesarkan dan dicetak untuk menjadi insan yang berkemampuan di bidang ilmiah dan berubudiyah di bidang amaliah, maka kita harus kembali dan bersatu dengan kuat,” ujarnya.

Hal demikian diamini pula oleh Pengasuh PPDA, KH. Ahmad Syariful Wafa. Kyai yang akrab disapa “Abuya / Mbah Gus” ini juga mengingatkan alumni PPDA untuk terus menjaga solidaritas dan persaudaraan. Selain itu, Abuya juga menekankan kepekaan daya saing hidup yang semakin kompleks. Beliau menilai bahwa daya saing di era glokalisasi ini sangat sulit bila santri tidak benar-benar memiliki kompetensi yang mapan, pengalaman yang cukup, dan kecakapan berinteraksi.  Ketiga elemen ini menjadi senjata untuk meraih kesuksesan di masa mendatang. Menurutnya, sangat sulit lulusan pesantren berkembang jika tidak berbekal pada ketiga aspek ini.

“Saya selalu mengingatkan agar santri-santri itu peka terhadap situasi dan adaptif terhadap kondisi, Lā budda li ṭālib al ilmi an yakūna ‘āliman bi makānihi wa ‘ārifan bi zamānihi, bahwa santri itu idealnya harus memiliki kepekaan terhadap situasi, kondisi, dan zaman”, tegas Abuya.

Abuya menilai, dengan kemajuan pesat teknologi dan sistem informatika di kancah internasional, santri tidak boleh lagi menjadi obyek melainkan subyek yang bergerak dan berdampak. Bahkan di tengah ketidakpastian geopolitik dunia, santri juga dituntut untuk selalu adaptif terhadap dinamika. Abuya melihat, situasi berkecamuk yang disebabkan oleh perang kepentingan di Timur Tengah antara Iran melawan Israel dan sekutunya menjadi sesuatu yang niscaya dirasakan oleh masyarakat dunia termasuk santri. Dengan demikian besar harapan beliau agar santri dapat adaptif terhadap dinamika dengan menciptakan terobosan baru yang bermanfaat dalam aspek kemasyarakatan, ekonomi, dan sosial budaya.

“Intine santri iku gak oleh meneng, ojo dadi ningrat lek iseh nyantri, sing semangat trengginas. Lulusan PPDA harus jadi pakar di tempatnya masing-masing,” pungkasnya.

Dari banyaknya dawuh Abuya dapat dilihat bahwa beliau selalu menekankan aspek kemandirian, inklusif, dan adaptif kepada santri dan alumni. Pesan ini bahkan tidak disampaikan satu dua kali, penulis menjadi saksi selama belajar di PPDA selama tujuh tahun, penulis dapat melihat atensi besar Abuya dalam mencerdaskan santri lewat kemandirian, adaptif dan inklusif.

Tabik,

Ahmad Misbakhul Amin (Alumni PPDA 2022)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer