Rabu, 22/04/2026, grup WhatsApp KKN Membangun Desa Berkelanjutan 2022 UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung tiba-tiba ramai. Bukan saling berkabar seperti biasanya, melainkan ada kabar duka mbah H. Usman, tetangga terdekat posko KKN telah berpulang. Satu per satu ucapan belasungkawa mengalir, diikuti rencana takziah yang disepakati bersama. Memang, beberapa kawan masih sering berlalu-lalang ke Desa Jajar, sehingga kabar apapun selalu sampai lewat WhatsApp sebelum sempat terlupakan. Minggu, 26/04/2026, pukul 08.00 WIB, beberapa dari kami berangkat dari Tulungagung menuju Desa Jajar, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek. Dalam perjalanan, perubahan paling mencolok adalah jalanan yang kini jauh lebih mudah dilalui dibanding empat tahun lalu. Tapi anehnya, meski banyak yang berubah, rasa dalam perjalanan itu tetap sama, asri, nyaman, dan tentram. Seperti pertama kali berangkat KKN dulu.
Tiba di lokasi, kami disambut keluarga mbah H. Usman beserta beberapa tetangga. Di sela obrolan, ucapan belasungkawa dan saling bertanya kabar ada satu hal yang membuat kami lega bahwa bank sampah yang empat tahun lalu menjadi salah satu program kerja KKN ternyata masih berjalan hingga sekarang. Bank sampah itu sendiri bukan sekadar program biasa karena ternyata ia adalah wujud nyata dari nama KKN Membangun Desa Berkelanjutan itu sendiri. Bahwa “berkelanjutan” bukan hanya jadi nama, tapi benar-benar hidup dan dilanjutkan oleh warga bahkan setelah kami selesai melaksanakan KKN. Kami berpamitan dan beranjak bersilaturahmi ke beberapa tokoh desa. Ada yang bisa kami temui, ada pula yang sedang sibuk di luar rumah. Rumah pertama yang kami sambangi adalah rumah Pak Agus, sosok yang dulu membantu kami terhubung dengan MI Jajar untuk beberapa kegiatan KKN. Obrolan mengalir hangat, diselingi cerita-cerita lucu yang tiba-tiba terasa sangat dekat padahal sudah empat tahun berlalu. Dari sana, kami melanjutkan ke rumah Bu Asyik, tetangga dekat posko 2 yang sudah terasa seperti ibu sendiri. Kami menunaikan sholat Dhuhur di sana, lalu rebahan sebentar persis seperti yang dulu sering kami lakukan. Beberapa menit rasanya bisa memundurkan waktu empat tahun.
Tujuan terakhir adalah rumah mbah Saini, seorang pandai besi yang dulu selalu menjadi “tempat kabur” dari jadwal memasak di posko. Begitu tiba, Mak Nem istri mbah Saini sudah menyambut kami di depan pintu. Karena kelelahan, kami minta izin tidur sebentar, dan ternyata dua jam kami terlelap begitu saja. Bangun-bangun, sudah tersaji air kelapa muda yang langsung dipetik dari pohon di belakang rumah. Belum habis rasa syukur itu, datanglah sayur pindang beserta lauk lainnya, andalan yang selalu kami rindukan. Kalau kebanyakan orang membayangkan sayur pindang sebagai sayur bercampur ikan pindang, di Desa Jajar ceritanya berbeda. Sayur pindang di sini adalah sayuran berkuah yang dicampur dengan daging, dan rasanya itulah yang dulu membuat kami hampir setiap hari mencari alasan untuk mampir ke rumah mbah Saini. Hampir lima jam kami bercengkrama di sana. Cerita mengalir tanpa henti, dan di sela-selanya mbah Saini selalu menyelipkan nasihat-nasihat Jawa yang pelan-pelan meresap, semoga tetap kami pegang meski masing-masing sudah menjalani hidup yang berbeda. Ketika kami pamit, seperti biasa beliau menawarkan beberapa kelapa muda dari kebun belakang, sambil berkata, “Jangan lupa sering kesini, karena ini juga tempat kalian.”
Dalam perjalanan pulang, kami menyusuri jalanan Desa Jajar sambil saling melempar kenangan. Di tiap sudut jalan, plang KKN kami masih terpajang bahkan kini menjadi percontohan bagi beberapa KKN setelahnya. Kami ingat betul bahwa KKN Membangun Desa Berkelanjutan ini adalah program inovasi KKN pertama di kampus, berdurasi enam bulan dengan tiga puluh peserta dari berbagai latar belakang. Di hari-hari pertama, kami berjuang keras menyatukan visi. Di pertengahan, kami hampir tidak selamat karena terlalu banyaknya cara pandang yang berbeda. Enam bulan dengan segala perbedaan itu rasanya hampir membuat kami putus asa. Tapi para warga menyelamatkan kami dengan sederhana. Mereka mengajak kami duduk bersama, menikmati kelapa muda, makan sayur pindang, hingga enam bulan itu terlewati tanpa terasa. Dan kini, empat tahun kemudian semuanya masih sama. Bukan bangunan atau program kerja yang paling lekat dalam ingatan. Tapi kehangatan dan kebaikan warga Desa Jajar itulah yang tak pernah pergi. Seperti lirik pertama lagu Rio Clappy, Bunga Abadi, KKN Membangun Desa Berkelanjutan 2022 beserta seluruh warga Desa Jajar rasanya pantas mendapatkannya:
“Kupersembahkan bunga… abadi yang kupetik untuknya…”
Penulis : Jinantiya Baqita,M.PSDM –