Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Gus Somad dan Pecel Malam Itu

Redaksi
· Diperbarui 16 May 2026

Kabar duka itu datang seperti angin malam yang pelan, tetapi menghantam dada dengan keras. Ada orang-orang yang ketika wafat, kita merasa kehilangan seorang kolega. Ada pula yang membuat kita merasa kehilangan suasana. Gus Somad termasuk yang kedua. Kehadirannya bukan hanya tentang sosok, tetapi tentang rasa teduh yang menyertai setiap perjumpaan.

Saya mengenal Gus Somad sebagai orang yang santai. Tidak meledak-ledak. Tidak pula sibuk membangun kesan. Bahkan mungkin, jika orang baru bertemu beliau, kesan pertama yang muncul adalah kesederhanaan yang nyaris terlalu biasa untuk ukuran seorang dosen. Namun justru di situlah letak istimewanya. Gus Somad tidak pernah tampak ingin menjadi penting. Ia memilih menjadi berguna. Dan orang-orang seperti itu biasanya justru paling sulit dilupakan.

Ingatan saya tentang beliau justru bukan dimulai dari ruang akademik, seminar, atau forum resmi kampus. Saya mengenal beliau dari sebuah warung pecel. Tempat yang sederhana. Tempat orang datang bukan untuk pencitraan, melainkan untuk makan dan bercakap dengan apa adanya. Dari warung pecel itulah percakapan-percakapan kecil bermula. Dan anehnya, warung itu kemudian seperti memiliki hubungan tersendiri dengan kami. Setiap kali bertemu, pecel itu lagi yang dibahas. Kadang sambalnya. Kadang suasananya. Kadang orang-orang yang datang di sana.

Mungkin bagi sebagian orang itu percakapan biasa. Namun justru percakapan-percakapan sederhana itulah yang sering kali paling membekas dalam hidup. Sebab dari sana kita mengenali watak seseorang tanpa dibuat-buat. Gus Somad selalu tampak menikmati hal-hal kecil. Tidak rumit. Tidak banyak tuntutan. Ada ketulusan yang mengalir alami.

Di tengah dunia yang semakin riuh oleh pencapaian dan pertunjukan, Gus Somad mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi mahal: urip sak dermane. Hidup secukupnya. Sewajarnya. Tidak berlebihan dalam mengejar dunia, tetapi juga tidak lalai dalam menunaikan tanggung jawab hidup. Sebuah falsafah Jawa yang terdengar sederhana, tetapi sangat sulit dipraktikkan pada zaman sekarang.

Banyak orang hari ini hidup dengan kegelisahan yang tak selesai. Sedikit-sedikit ingin diakui. Sedikit-sedikit ingin dipuji. Sedikit-sedikit ingin terlihat berhasil. Kita hidup di zaman ketika media sosial membuat orang berlomba-lomba mempertontonkan hidupnya. Jabatan dipamerkan. Kedekatan dengan tokoh diumbar. Kesuksesan dijadikan konten harian. Tetapi Gus Somad berbeda. Ia seperti berjalan pelan di tengah keramaian orang-orang yang berlari.

Beliau tetap sumeh kepada siapa saja. Tidak memilih-milih orang. Tidak memasang wajah penting. Bahkan mungkin banyak orang tidak menyadari bahwa di balik kesederhanaannya, ada kedalaman hidup yang jarang dimiliki orang lain.

Sumeh itu bukan sekadar murah senyum. Sumeh adalah sikap batin. Orang Jawa mengenalnya sebagai kemampuan untuk tetap hangat kepada sesama tanpa merasa lebih tinggi. Dan Gus Somad punya itu. Ketika berbicara dengan orang lain, ia tidak menciptakan jarak. Tidak membuat lawan bicara merasa kecil. Ia hadir sebagai manusia yang utuh yakni bersahaja dan menenangkan.

Kadang saya berpikir, orang-orang seperti Gus Somad sebenarnya sedang mengajarkan bentuk dakwah paling sunyi. Dakwah tanpa podium. Tanpa mikrofon. Tanpa kalimat-kalimat besar. Dakwah melalui cara hidup. Melalui kesabaran. Melalui kesederhanaan. Melalui kemampuan menjaga hati agar tetap ringan kepada sesama manusia. Menurut saya, justru itu yang paling sulit.

Kita sering kali mudah terlihat alim di depan publik, tetapi sulit bersikap baik dalam kehidupan sehari-hari. Mudah berbicara tentang moral, tetapi sulit menjaga keramahan kepada orang lain. Gus Somad memberi teladan bahwa kebaikan tidak selalu hadir dalam bentuk pidato panjang. Kadang ia hadir lewat cara seseorang menyapa. Cara seseorang mendengarkan. Cara seseorang membuat orang lain merasa diterima.

Di kampus, kita sering bertemu orang-orang pandai. Tetapi tidak semua orang pandai mampu menghadirkan keteduhan. Gus Somad termasuk sedikit orang yang ketika hadir, suasana menjadi cair. Tidak menegangkan. Tidak membuat orang canggung.

Saya rasa itu pula yang membuat banyak orang merasa dekat dengan beliau. Ada orang yang dihormati karena jabatannya. Ada orang yang dikenang karena ilmunya. Tetapi ada juga orang yang dicintai karena perangainya. Gus Somad termasuk yang terakhir itu.

Saya selalu terkesan dengan Gus Somad yang mengenakan Blangkon. Ini menjadi simbol kesahajaan itu sendiri. Ada nuansa Jawa yang tenang di sana. Tidak berisik. Tidak agresif. Tetapi kuat memancarkan identitas dan keteduhan. Hari ini ketika beliau telah berpulang, saya kira banyak orang bukan hanya kehilangan seorang dosen, melainkan kehilangan satu fragmen kecil dari suasana kampus yang hangat.

Kita sering tidak sadar bahwa sebuah institusi sebenarnya tidak hanya dibangun oleh gedung dan sistem, tetapi juga oleh manusia-manusia baik yang menjaga ruh kemanusiaannya tetap hidup. Orang-orang seperti Gus Somad itulah yang membuat kampus terasa lebih manusiawi.

Kematian memang selalu membawa kesadaran yang terlambat. Kita baru benar-benar memahami arti kehadiran seseorang ketika ia sudah tiada. Baru menyadari bahwa obrolan sederhana di warung pecel ternyata adalah kenangan yang kelak begitu mahal. Baru memahami bahwa senyum santai seseorang ternyata adalah energi yang diam-diam menguatkan banyak orang.

Gusti Allah terkadang menghadirkan orang-orang baik dalam bentuk yang sederhana agar manusia belajar bahwa kemuliaan tidak selalu datang dengan gemerlap. Ada orang yang hidupnya tenang, tetapi pengaruh kebaikannya panjang. Ada orang yang tidak banyak bicara tentang kebajikan, tetapi hidupnya sendiri sudah menjadi pelajaran.

Saya belajar dari Gus Somad bahwa hidup tidak harus selalu diburu dengan ambisi yang melelahkan. Bahwa manusia tetap bisa bermakna meski berjalan tanpa banyak kegaduhan. Bahwa menjadi baik jauh lebih penting daripada sekadar terlihat hebat.

Di tengah dunia akademik yang kadang penuh persaingan simbolik, Gus Somad justru tampak menikmati hidup dengan sederhana. Tidak sibuk membangun citra intelektual yang rumit. Tidak sibuk memperlihatkan siapa dirinya. Ia seperti sedang berkata kepada kita semua bahwa hidup ini pada akhirnya hanyalah perjalanan singkat. Tidak perlu terlalu dibawa tegang.

Melihat Gus Somad bagi saya tetap membawa pesan Urip sak dermane. Barangkali falsafah itulah yang membuat beliau tampak ringan menjalani hidup. Tidak banyak mengeluh. Tidak banyak menuntut. Menjalani hidup dengan sewajarnya, tetapi tetap penuh tanggung jawab. Dan di zaman yang serba kompetitif ini, sikap seperti itu terasa semakin langka.

Saya percaya, orang baik tidak benar-benar pergi. Mereka tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah disentuh kebaikannya. Tinggal dalam cerita-cerita kecil yang terus diceritakan ulang. Tinggal dalam kebiasaan sederhana yang tiba-tiba mengingatkan kita kepada mereka.

Mungkin nanti, ketika saya kembali mampir ke warung pecel itu, akan ada rasa yang berbeda. Akan ada ruang kosong yang tidak bisa diisi siapa pun. Sebab beberapa orang memang meninggalkan jejak bukan karena sering bersama kita, tetapi karena ketulusan mereka begitu membekas. Selamat jalan Gus Somad. Terima kasih telah memberi pelajaran tentang hidup yang sederhana tetapi bermakna. Tentang tetap sumeh kepada sesama manusia. Tentang menjalani hidup tanpa perlu banyak pertunjukan. Tentang bagaimana menjadi baik tanpa harus sibuk terlihat baik.

Semoga Gusti Allah mengampuni segala khilaf panjenengan, menerima seluruh amal ibadah panjenengan, melapangkan kubur panjenengan, dan menempatkan panjenengan di tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan untuk kami yang ditinggalkan, semoga masih bisa meneruskan pelajaran kecil yang panjenengan tinggalkan: menjadi manusia yang lebih teduh, lebih ringan hati, dan lebih tulus menjalani hidup.

Sekali lagi, Selamat jalan Gus. Ada pecel paling nikmat di surganya Allah.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer