Suluk ID โ€“ Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Mengenang Prof. Akhyak; Sosok Penggagas, Penggerak dan Motivator

Redaksi

Hari Sabtu, 1 Syawal 1447 H. atau 21 Maret 2026 M. para kolega dan keluarga dikejutkan dengan kepergian Prof. Dr. KH. Akhyak, M.Ag. Kepergian untuk selamanya. Wafat yang terbilang sangat dan sangat mendadak.

Saat kejadian, Prof. Akhyak sedang melaksanakan silaturahim ke saudara dari mertuanya, di Bandung Prambon Nganjuk. Silaturahim dilaksanakan setelah berkunjung dan beristirahat di rumah mertuanya. Setelah cukup, pada sore harinya, dilanjut silaturahim ke rumah saudara-saudara dari mertuanya. Yang dituju pertama, saudara yang berada di timur rumah mertuanya, yang berjarak beberapa puluh meter.

Saat melaksanakan silaturahim itulah, Prof Akhyak yang baru masuk di rumah saudaranya tersebut, setelah mengucapkan salam dan bersalaman (berdasar informasi saudaranya), mendadak melafalkan takbir beberapa kali, dan jatuh yang disangga oleh kedua anak lakinya, yang posisinya persis berada di belakangnya. Dengan kondisi panik, setelah menghubungi beberapa dokter tidak bisa (maklum hari H lebaran), lantas dilarikan ke RS Kediri, dan Prof Akhyak sudah wafat.

Kondisi ini tentu mengejutkan semua pihak, terutama keluarga. Yang sebelumnya kondisi normal sebagaimana biasanya, tidak mengapa mengapa, dan seharian saat silaturahim ngobrol dan jagong dengan saudara-saudara yang ditemuinya. Siangnya, saya cek di group pimpinan beliau sedang memberikan gambaran pengajuan prodi-prodi untuk pengembangan di lingkungan UPDN, karena beliau adalah owner-nya dan sekaligus sebagai ketua pembina yayasan di lingkungan Pangeran Diponegoro Nganjuk.

UPDN Salah Satu Karyanya

Saya kenal Prof. Akhyak sejak menjadi mahasiswanya di STAIN Tulungagung. Saat itu beliau masih awal menjadi dosen. Bertemu pertama tidak dimateri mata kuliah. Namun saat beliau menjadi Dosen Pendamping Lapangan (DPL) saat praktek mengajar. Saat itu saya diminta untuk menjadi ketua/koordinator kelompoknya.

Di samping itu, juga bertemu di PMII (organisasi ekstra) beliau salah satu senior atas yang sudah duduk semacam menjadi salah satu Mabinkom/Mabincab.

Bertemu intens kembali, setelah saya lulus kuliah dari STAIN Tulungagung, dan sudah pulang di Nganjuk, sekitar tahun 1999. Saya dicari Prof. Akhyak untuk diajak mengajar di kampus Diponegoro Tulungagung yang melaksanakan pembelajaran kelas jauh di Nganjuk. Aturan saat itu masih membolehkan melaksanakan perkuliahan kelas jarak jauh.

Lahirnya kelas jarak jauh, yang saya ketahui salah satu pengagasnya adalah Prof. Akhyak. Yang saat itu sebagai dosen di STAIN Tulungagung dan juga salah satu penjaga gawang kampus STAI Diponegoro Tulungagung, yang mengembangkan kelas jarak jauh di beberapa kota. Salah satunya di Nganjuk.

Perkuliahan jarak jauh berjalan mulai tahun 2000, sampai angkatan terakhir tahun 2006. Di sela-sela kegiatan tersebut, saya melanjutkan kuliah Strata Dua (S.2) atas dorongan dan motivasi Prof. Akhyak.

Perkataan yang sering disampaikan “Dosen kudu kuliah lagi, nek gak duwe duwit kudu nekat/Dosen harus kuliah lagi, jika tidak punya uang harus nekat”. Motivasi tersebut yang membuat saya berangkat kuliah lagi di Pascasarjana sekarang UIT Lirboyo Kediri. Mulai kuliah tahun 2004 dan lulus tahun 2007.

Sekitar tahun 2006, seingat saya sudah ada wacana aturan baru bahwa dilarang untuk menyelenggarakan kuliah kelas jarak jauh. Maka Prof. Akhyak menjawab dengan malalui ide dan gagasan serta bergerak cepat untuk melahirkan kampus baru secara mandiri di Nganjuk. Maka pada tanggal 21 April 2007, lahirlah kampus yang diberi nama STIT Pangeran Diponegoro Nganjuk.

Penamaannya tetap mengambil nama Diponegoro dan ditambah Pangeran untuk membedakan yang secara historistical ketersambungan dengan kampus STAI Diponegoro Tulungagung, namun berdiri sendiri. Bisa disebut Kampus Pangeran Diponegoro Nganjuk adalah yunior Kampus Diponegoro Tulungagung. Pendiriannya saat.itu bersamaan dengan STIT Syaikona Kholil Bangkalan.

Yang dalam perjalanannya Prof. Akhyak terus melahirkan ide gagasan pengembangan dan menggerakkannya, sehingga pada tahun 2010 STIT berubah alih status menjadi STAI Pangeran Diponegoro Nganjuk. Saat posisi alih status tersebut, lagi lagi memotivasi saya dan yang lain untuk berangkat kuliah lagi. Beliau menyampaikan “Dosen kudu Doktor, ndang mangkat, gak usah ngenteni duwe duwit, penting budal/Dosen harus doktor, tidak usah menanti punya uang, yang penting berangkat”.

Tahun 2010 tersebut, bersamaan dengan alih status, saya berangkat kuliah Strata Tiga (S.3) di UIN Maliki Malang. Karena memang tidak punya uang yang cukup untuk bekal berangkat kuliah, untuk menyelesaikan harus molor sampai tahun 2017. Selama 7 tahun berjuang untuk bisa menyelesaikan program Doktoral. Hampir saja kena DO. Tekat motivasi dari Prof. Akhyak semua bisa terjalani, dengan modal tekat dan niat yang kuat alhamdulillah bisa menerobos untuk mencapai titik finis kelulusan, walaupun mengalami keterlambatan dibanding teman-teman saya.

Ide dan gagasan berikutnya menggerakkan alih status dari STAI menuju IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, itu dilakukan pada tahun 2014. Ide dan gagasan serta pergerakan tentu bukan hanya alih status kampus, tapi juga terhadap pengembangan lahan, bangunan gedung, fasilitas untuk mencapai syarat dalam pengembangan sebagaimana syarat alih status.

Ide dan gagasan serta pergerakan selanjutnya yang dimotori Prof. Akhyak adalah, pada tahun 2024 IAI berubah status menjadi Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk, yang disingkat menjadi UPDN. Itupun dibarengi dengan pesan kepada saya dan yang lain, supaya setelah kepangkatan Lektor kepala (LK) saya yang sudah turun beberapa tahun lalu, diminta untuk bisa ditindaklanjuti untuk mengajukan Guru Besar. Tentu ini perintah yang tidak ringan dan butuh kerja ekstra keras. Namun lagi-lagi Prof. Akhyak memberi motivasi “Panggah iso, pokok tenanan/tetap bisa yang penting dikerjakan dengan sungguh”.

Prof. Akhyak-lah sesungguhnya peng-ide, peng-gagas, peng-gerak, dan peng-owner utama kampus UPDN Nganjuk secara konkrit dan nyata. Tentu tetap dibantu yang lain berbentuk TIM. Di samping sejak sebelum tahun 2000 an juga sebagai salah satu pengembang kampus Diponegoro Tulungagung, yang akhirnya melahirkan embrio kampus baru bernama UPDN di Nganjuk.

Dan yang terakhir diinisiasi dan dilahirkan oleh Prof. Akhyak adalah Pondok Modern Darul Ahwan, yang berlokasi di Kendal Gondang Tulungagung, di tempat kelahirannya. Yang di dalamnya ada SMP dan SMA Internasional. Beliau adalah muassisnya.

Selamat jalan Prof. Akhyak. Semoga panjenengan ditempatkan yang terbaik disisi-Nya. Dan terimakasih atas bimbingan selama ini. Banyak ide, gagasan, dan gerakan pengembangan yang menjadi teladan, yang telah engkau wariskan yang harus dijaga, dirawat, dan dikembangkan, sebagai bentuk tanggungjawab para generasi yang telah engkau didik.

Penulis: M. Ali Anwar, Dekan FUSA Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk (UPDN)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer