Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Krisis Otoritas Moral Pesantren dan Urgensi Rekonstruksi Pendidikan Islam: Catatan Sowan Abuya  

Tuban_ Sabtu, 20 Juni 2026 saya berniat sowan dan nyuwun dawuh kepada Maha Guru. Selama tujuh tahun, terhitung sejak 2015 hingga 2022 saya menempuh pendidikan di pesantren ini, Pondok Pesantren Daru Anwar Manbail Futuh Tuban. Secara istikamah saya menyempatkan waktu berkunjung dan meminta nasihat kepada beliau tatkala libur kuliah. Walaupun hari ini sebenarnya tidak sedang libur kuliah, di sela-sela libur kerja di Kantor PMB PTKIN saya ingin pulang ke kampung halaman, sembari sowan Kyai saya. Bagi saya, secara formalitas memang pendidikan saya di pesantren ini sudah berakhir sejak 2022, namun relasi spiritual dan dzauq tarbiyah wa amaliyah di hati tidak akan terlepas selamnya. Siang itu saya putuskan sowan ke ndalem pesantren.

“Secara spiritual tidak ada hubungan yang kuat melebihi kekuatan hubungan Kyai kepada santrinya”, begitu kalimat singkat yang saya dapatkan ketika sowan. Saya adalah santri yang sudah pindah kamar melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Istilah “pindah kamar” sering digunakan Maha Guru saya, KH. Ahmad Syariful Wafa untuk menyebut santrinya yang akan melanjutkan ke pendidikan di luar pesantren. Misalnya saya yang selama empat tahun terakhir melanjutkan pendidikan di Program Studi Ilmu Hadis UIN Sayyid Ali Rahmatulkah Tulungagung.

Dua kata yang saya rasakan ketika kembali pulang dan sowan bersimpuh di hadapannya “ menyejukkan & menenangkan”. Saya mendapatkan banyak pelajaran. Keluasan ilmu dan pengalaman yang dimiliki beliau (baca: Abuya) menjadi karakteristik tersendiri. Alih-alih hanya berbicara problem agama secara kaku, Abuya sering kali memandang dan menjabarkan permasalahan dan argumentasi penyelesaian dari berbagai sudut pandang. Salah satu pembahasan yang beliau dawuhkan kepada kami adalah problem oknum pesantren dan organisasi masyarakat Islam.

Sudah menjadi hal maklum, akhir-akhir ini di berbagai media sosial muncul berita pencabulan di lingkungan pesantren. Pencabulan ini berdasarkan beberapa berita dilakukan oleh pengasuh pesantren yang tak lain adalah Kyai Pesantren. Kasus pencabulan yang dilakukan oleh oknum berinisial AS di salah satu pesantren Pati Jawa Tengah misalnya, tidak tanggung-tanggung, santriwati yang jadi korban tembus di angka 50. Lebih parah lagi, oknum pengasuh pesantren di Jambon Ponorogo, 11 santri terindikasi menjadi korban, mirisnya korban adalah santri dengan jenis kelamin yang sama. Lebih jelas berita ini bisa pembaca baca di detikjogja.

Menurut Abuya, oknum ini sangat keterlaluan. Pengasuh Pesantren yang mestinya mengasuh, mendidik, dan memastikan keamanan santri justru berubah menjadi monster yang mengancam dan mencekam dari dalam. Siapa pun profil dan latar belakangnya, perbuatan ini tidak bisa dibenarkan, apa lagi dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan perbuatannya bagian dari pembelajaran agama. Miris, tapi inilah yang terjadi. Imbasnya, banyak nama pesantren tercoret, pendidikan pesantren selain dianggap terbelakang juga dianggap patologis. Akibatnya masyarakat cenderung semakin berat menitipkan anaknya belajar di pesantren karena bayangan-bayangan semacam itu.

Bagi internal dunia pesantren, fenomena ini seperti musibah ganas yang memakan banyak korban. Kyai yang secara kultural dianggap sosok pemegang otoritas keagamaan mulai dipertanyakan sisi spiritualitas dan etikanya. Pesantren yang dianggap sebagai wadah paling ideal pencetak kader intelektual dan muslim taat justru berubah menjadi neraka yang penuh siksaan dan ancaman.

Satu sisi, bagi pihak yang sedari awal tidak suka dunia pesantren, momen ini menjadi obyek pengiringan opini negatif. Berita negatif tentang pesantren justru diolah sedemikian rupa, lewat konten, berita, atau bahkan tulisan yang menggiring dan mengarah ke sisi negatif dunia pesantren. Banyak pesantren menjadi kambing hitam dan sakralitas tokoh berputar balik menjadi bumerang yang menjatuhkan marwah dan martabat. Lagi-lagi keluarga besar pesantren dirugikan.

Saya sedari awal melihat berita ini sudah berprasangka demikian. Namun, ihwal pikiran saya belum begitu luas karena belum banyak pengalaman yang saya dapatkan khususnya dunia kepesantrenan. Saya ingin mendapatkan perspektif baru, dan saya yakin perspektif itu akan saya dapatkan dari sowan Abuya.

Benar saja, Abuya justru memberikan saya pencerahan dengan perspektif baru. Dengan nada lirih dan dalam Abuya dawuh, “Allah selalu punya banyak cara untuk membersihkan agamanya dari sesuatu yang hina”, terasa dalam dan berhasil mengernyitkan kening.

Menurut Abuya fenomena ini adalah cara  Allah untuk membersihkan agama dari sesuatu yang buruk. Perzinaan, pengancaman, apa lagi pencabulan adalah sesuatu yang hina dan buruk, terlebih bila dilakukan oleh Kyai, pemegang otoritas keagamaan. Lewat viralnya berita ini, oknum pengasuh pesantren pembuat onar akhirnya tertangkap dan masuk dalam jeratan hukum. Lewat kejadian ini, akhirnya masyarakat sadar pentingnya selektif dalam memilih pesantren. Lewat kejadian ini pula Allah menunjukkan siapa orang yang memang betul-betul memiliki Nadzrah Batiniah untuk disinarkan kepada santrinya.

Abuya melanjutkan, memang dalam dimensi sosial, pesantren kini terkena penyakit sebab ulah satu dua oknum. Namun, fakta yang harus segera direspons adalah urgensi muhasabah. Sudah saatnya pesantren dan pengelolanya melakukan muhasabah. Ada kekurangan apa, sisi mana yang perlu diperbaiki, atau rekonstruksi pembelajaran seperti apa yang menjadi kebutuhan umat. Hal paling penting untuk dipikirkan matang-matang menurut Abuya bukan pada kerugian pesantren seperti apa yang dihasilkan, tapi bagaimana pesantren kemudian merespons fenomena ini untuk berbenah diri dan berorientasi pada pengembangan umat secara kontinu dan terarah. Pesantren harus memiliki visi besar dengan peta jalan rencana strategis yang jelas.

Saya mendengarkan penuturan itu dengan saksama. Sudah menjadi kesenangan pribadi bagi saya mendengar dawuh dan  nasihatnya. Sembari mencerna penuturannya, beliau melanjutkan dawuh. “Siapa saja yang merusak pesantren dengan cara seperti itu wajib dihukum, agama itu tegas, pesantren harus mengajarkan ketegasan”, kata beliau mantap. Menurutnya memang oknum itu harus dihukum yang setimpal karena ini menjadi bagian dari pembelajaran sejarah perjalanan pesantren. Saya hanya mangut-mangut dengan tetap berdiam dan mendengarkan.

Satu setengah jam terasa sangat cepat, Alhamdulillah saya sudah mendapatkan apa yang saya cari. Selain mendapatkan banyak pencerahan lainnya, argumentasi beliau ini menjadi perspektif baru yang belum pernah terlintas di otak kecil saya. Bahwa tidak selamanya musibah dan penyakit dilihat dari sisi traumatis yang menyakitkan, justru pembelajaran di balik peristiwa itu yang menjadi atensi utama untuk direspons. Sehat-sehat Abuya, semoga tetap istikamah memberikan petunjuk dan arah kepada umat dan santri yang mulai kehilangan arah seperti penulis.

 

 

Ahmad Misbakhul Amin
Ditulis oleh

Ahmad Misbakhul Amin

Penulis belum menambahkan biodata singkat.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer