“Pendidikan lingkungan tidak selalu dimulai dari buku pelajaran. Terkadang, ia lahir dari sebuah galon plastik bekas yang diberi kesempatan untuk hidup kembali.”
Di sudut halaman SDN 01 Sumberdadi, beberapa galon air mineral bekas tampak berjajar rapi. Sekilas, benda itu terlihat seperti limbah yang menunggu untuk dibuang. Namun, di tangan anak-anak sekolah dasar, galon tersebut menjelma menjadi pot sederhana yang ditanami seledri, pegagan, daun salam, dan rosemary. Benda yang sebelumnya dianggap tidak lagi memiliki nilai kini berubah menjadi media tumbuh kehidupan baru.
Pemandangan sederhana itu menjadi pembuka kegiatan yang diinisiasi Divisi Pendidikan dan Teknologi bersama Divisi Lingkungan Kesehatan (Linkes) KKN Sumberdadi dalam menghadirkan pembelajaran berbasis pengalaman di SDN 01 Sumberdadi. Mengusung semangat “Literasi Digital Menuju Desa Ramah Lingkungan”, kegiatan ini dilaksanakan pada 01 Agustus 2026. t
Dalam kajian pendidikan lingkungan, pendekatan tersebut dikenal sebagai literasi ekologis (ecological literacy). Fritjof Capra, pemikir di bidang pendidikan lingkungan, menjelaskan bahwa literasi ekologis merupakan kemampuan memahami keterkaitan antara manusia, alam, dan sistem kehidupan sehingga mampu melahirkan perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Konsep ini menjadi penting karena pendidikan lingkungan tidak cukup disampaikan melalui teori, tetapi perlu dibangun melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Alih-alih menggunakan pot baru, seluruh media tanam berasal dari galon plastik bekas yang dimodifikasi menjadi wadah tanaman. Pilihan tersebut bukan sekadar pertimbangan praktis, melainkan bagian dari pesan yang ingin disampaikan kepada anak-anak bahwa limbah tidak selalu berakhir sebagai sampah. Dengan sedikit kreativitas, barang yang telah selesai digunakan masih dapat memperoleh fungsi baru yang bermanfaat.
Pendekatan ini memiliki relevansi yang kuat dengan tantangan lingkungan saat ini. Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam pengelolaan sampah plastik yang terus meningkat setiap tahunnya. Berbagai kajian menunjukkan bahwa perubahan perilaku menjadi salah satu kunci dalam mengurangi timbulan sampah, sehingga pendidikan mengenai pemanfaatan kembali limbah perlu dikenalkan sejak usia sekolah. Melalui pot hasil daur ulang tersebut, anak-anak tidak sekadar mendengar istilah reduce, reuse, recycle (3R), tetapi melihat dan mempraktikkannya secara langsung.
Setelah memahami media tanam yang digunakan, setiap kelompok mulai menanam bibit TOGA yang telah dibagikan. Mahasiswa Divisi Linkes terlebih dahulu memperagakan tahapan penanaman, mulai dari memasukkan media tanam yang telah dicampur pupuk, menempatkan bibit, hingga menyiramnya dengan air. Seledri, pegagan, daun salam, dan rosemary menjadi tanaman pertama yang mereka rawat bersama.
Suasana belajar berubah menjadi ruang kolaborasi. Anak-anak bekerja sama dalam kelompok, saling membantu, sekaligus belajar bahwa tanaman hanya dapat tumbuh apabila dirawat secara konsisten. Menariknya, pembelajaran tidak berhenti ketika proses penanaman selesai. Pot-pot hasil daur ulang tersebut kemudian ditempatkan di depan ruang kelas agar tetap menjadi bagian dari aktivitas harian siswa. Setiap pagi mereka bergantian menyiram dan merawat tanaman yang telah ditanam, sehingga pembelajaran berkembang menjadi kebiasaan yang terus dipelihara.
Kesadaran ekologis, bagaimanapun, tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan alam. Ia juga berkaitan erat dengan bagaimana manusia menjaga dirinya sendiri sebagai bagian dari lingkungan.
Atas dasar itu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dan praktik mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Setelah mendapatkan contoh tahapan yang benar, anak-anak mempraktikkannya secara bergantian dengan penuh antusias. Aktivitas sederhana tersebut mengajarkan bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar kebiasaan pribadi, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.
Sebagai penguatan, mahasiswa KKN turut membagikan lembar kerja yang mengajak siswa mengenali manfaat tanaman obat yang telah mereka tanam. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada praktik, tetapi juga membantu anak memahami hubungan antara tanaman, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari.
Jika dicermati lebih jauh, seluruh rangkaian kegiatan tersebut membentuk satu kesatuan pembelajaran yang utuh. Galon bekas mengajarkan bahwa limbah masih memiliki nilai ketika dikelola dengan bijak. Tanaman obat keluarga (TOGA) memperkenalkan bahwa alam menyediakan sumber kesehatan yang perlu dirawat. Sementara kebiasaan mencuci tangan menanamkan kesadaran bahwa menjaga kesehatan diri merupakan bagian dari menjaga lingkungan tempat manusia hidup.
Ketiga aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak selalu harus hadir dalam bentuk materi yang kompleks. Justru melalui pengalaman sederhana yang dilakukan secara langsung, anak-anak lebih mudah memahami makna kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun kebiasaan positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, literasi ekologis bukanlah kemampuan menghafal nama tanaman atau memahami definisi daur ulang. Literasi ekologis tumbuh ketika pengetahuan berubah menjadi tindakan, tindakan berkembang menjadi kebiasaan, dan kebiasaan perlahan membentuk karakter. Melalui pot hasil daur ulang, tanaman obat keluarga, dan kebiasaan mencuci tangan, anak-anak SDN 01 Sumberdadi belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tentang menyelamatkan alam, tetapi juga tentang menghargai setiap sumber daya, menjaga kesehatan, serta bertanggung jawab terhadap kehidupan di sekitarnya.
“Barangkali, perubahan besar memang tidak selalu lahir dari langkah-langkah yang megah. Kadang, ia dimulai dari sebuah galon plastik bekas yang tidak jadi dibuang, sebatang tanaman yang disiram setiap pagi, dan tangan-tangan kecil yang perlahan belajar bahwa merawat bumi selalu berawal dari kebiasaan sederhana” Ujar Ibnu, Mahasiswa Linkes & Diktek KKN Sumberdadi 2026.
Narasumber: Ibnu Rafid