Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Lestarikan Karya Kiai NU, Gelar Dauroh Tahqiq

Redaksi

Jombang – Nahdlatut Turots (NT) turut meramaikan Muktamar ke-35 NU dengan mengadakan Dauroh Tahqiq Kitab Muassis NU. Kegiatan digelar di Ribath Hidayatul Qur’an PP. Darul Ulum Peterongan, Jumat-Sabtu (28-29/8/2026).

Acara ini merupakan langkah NT dalam upaya menghidupkan kembali semangat santri dalam melestarijan keilmuan. Terutama dalam men-tahqiq kitab-kitab para muassis NU.

Dauroh dibuka oleh KH. Afifuddin Muhadjir sebagai Pembina NT dan Dr. KH. Afifuddin Dimyathi sebagai penanggung Jawab gelaran side-event “Turots di Muktamar”. Sesi pembukaan ini juga dihadiri oleh para pengurus NT seperti Lora Usman al-Akhyari (Ketua), Gus Nanal Ainul Fauz dan Dr. Ahmad Karomi.

Sebanyak 40 peserta yang lolos seleksi dsri 130 lebih pendaftar mengikuti pelatihan ini. Kegiatan dilatih langsung oleh Ustadz M. Khalilurrahman yang berasal dari Sumenep Madura.

Muhammad Hadya, salah satu peserta dari Lembaga Beit Turath al-Islami Kalimantan, merasakan sangat puas dengan dilaksanakannya pelatihan tahqiq ini. “Alhamdulillah merasa sangat bangga dan senang dengan adanya acara ini karena bisa mempelajari lebih jauh mengenai ulama dahulu,” ujarnya.

Dauroh tahqiq inu, lanjutnya, juga diisi dengan pemateri yang merupakan ahlinya dan diadakan dengan serius. Panitia juga diakuinya melaksanakan dengan sangat bagus.

“Harapannya, semoga acara semacam ini tidak hanya diadakan pada saat muktamar saja tapi sering diadakan di tempat lain karena tempat lain juga bayak yang mempunyai peninggalan ulama,” tambah pria kelahiran Martapura Kalimantan Selatan ini.

“Karena dengan adanya daurah semacam ini bisa menumbuhkan semangat mengangkat kembali” tambahnya.

Dikonfirmasi terpisah, koordinator panitia Gus Nanal Ainul Fauz menjelaskan pelatihan ini digelar untuk men-tahqiq manuskrip menjadi lebih enak dibaca “Sehingga sesuai dengan keinginan dan maksud dari mu’alif (penulis),” ujarnya.

Panitia berharap agar para peserta bisa menjadi pen-tahqiq andal. “Karena karya ulama Nusantara yang belum ditahqiq lebih dari sepuluh ribu,” imbunya.

Dirinya juga berharap ada daurah-daurah tahqiq setelah ini. “Sehingga turots karya ulama Nusantara itu bisa ditahqiq dan lebih banyak lagi yang diterbitkan,” pungkasnya. (*)

Redaksi
Ditulis oleh

Redaksi

Suluk.id merawat Islam Ramah serta mengajak beragama yang menggembirakan

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer