Menengahi Mitos Kisah Kiai
Membaca biografi tokoh agama sering kali membuat kita terjebak pada dua kemungkinan: menemukan banyak teladan moral yang menggugah hati, atau justru merasa membaca kisah hiperbolik yang sulit diterima akal sehat. Buku karya Solichul Hadi dan M Daimul Abror ini berani mengambil jalan tengah yang jujur.
Buku ini merekam tapak jejak seorang pemuda desa bernama Ghozali dari Kedung Gajah Madiun, yang berjuang mati-matian menuntut ilmu hingga menjadi kiai besar yang dimuliakan di Pandanasri, Nganjuk. Nilai jual paling menarik dari naskah ini adalah kemampuannya menampilkan sosok ulama sebagai manusia biasa yang pernah merasa lelah, lapar, dan hampir putus asa, namun berhasil bangkit karena keteguhan niatnya.
Pendidikan Meruntuhkan Kesombongan
Cerita paling kuat dalam buku ini ada pada masa-masa awal Ghozali belajar di Pondok Pesantren Mojosari. Bayangkan saja, seorang remaja berjalan kaki sejauh empat puluh kilometer dari rumahnya hanya dengan berbekal niat dan sedikit beras. Saat ia merasa tidak betah dan ingin menyerah, ayahnya sama sekali tidak memberinya pelukan atau kata-kata manis. Sang ayah justru menegurnya dengan keras dan memaksanya untuk terus membaca nahwu dan sharaf setiap hari sampai hatinya terbuka.
Bagi orang tua zaman sekarang, cara ini mungkin dianggap terlalu keras. Namun, di situlah letak pelajaran pentingnya. Cinta sejati kepada anak kadang harus diwujudkan dalam bentuk ketegasan agar mental sang anak terbentuk kuat untuk menghadapi kerasnya dunia. Emha Ainun Nadjib dalam salah satu kajian juga pernah berkata, “Yang tidak boleh itu violence, kekejaman. Bukan kekerasan.”
Perjuangan Ghozali di pesantren benar-benar menguji batas kemampuannya dalam bertahan hidup. Ia rela tidur beralaskan lantai dingin di teras masjid, menahan lapar hingga hanya meminum air mentah dari bak mandi, dan tetap tekun menghafal pelajaran meski hanya mengenakan peci tua yang sudah kumal dimakan usia.
Sebagian besar waktunya juga tidak hanya dihabiskan untuk memegang buku, tetapi digunakan untuk bekerja melayani keluarga kiai. Hal ini mungkin mudah disalahartikan sebagai perbudakan. Namun, jika dilihat dari kacamata pembentukan karakter yang luhur, praktik melayani orang lain dan hidup susah ini adalah cara yang sangat ampuh untuk membunuh rasa sombong dan ego di dalam diri seorang murid. Ketika kesombongan itu hancur, pikiran dan hati akan menjadi sangat jernih untuk menerima serta mengingat ilmu pengetahuan yang paling rumit sekalipun.
Kekuatan Persahabatan, Jalan Perdamaian
Selain kerasnya pendidikan mental, buku ini juga menyoroti kelembutan Kiai Ghozali dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia. Penulis menceritakan bagaimana sang kiai membangun persahabatan yang sangat tulus dengan kiai-kiai lain, seperti Kiai Fauzan (Blitar), Kiai Syafi’i (Tegalarum), dan Kiai Mahfudz (Sugihwaras Patianrowo). Mereka berteman murni karena sama-sama mencintai ilmu dan ingin mendidik umat, bukan karena urusan bisnis panggung politik sesaat.
Ketulusan ini juga terlihat ketika Kiai Ghozali mulai merintis pesantrennya sendiri di Pandanasri dengan hanya bermodalkan tujuh orang santri. Saat bangunan pesantrennya terancam digusur untuk proyek pelebaran sungai, ia tidak mengamuk, marah-marah, atau menyuruh santrinya turun ke jalan melawan pemerintah.
Ia memilih datang baik-baik ke kantor kecamatan untuk berdialog mencari jalan keluar, sembari ber-nadzar akan menyembelih kambing jika pesantrennya diselamatkan. Sikap tenang dan mengutamakan penyelesaian masalah lewat jalan damai ini adalah contoh kecerdasan emosional yang sangat mahal dan relevan untuk ditiru oleh masyarakat kita saat ini.
Kelemahan Referensi dan Sejarah yang Terlewatkan
Meskipun sangat kaya akan pesan moral, buku ini memiliki kelemahan yang cukup mengganggu jika dinilai dari cara penulisan sejarah yang baik. Titik lemah utama karya ini adalah minimnya sumber rujukan yang digunakan. Penulis terlihat banyak mengandalkan ingatan dari keluarga dekat, cerita dari mulut ke mulut, dan catatan musyawarah internal keluarga.
Hal ini membuat kebenaran sejarah di dalamnya rentan diragukan karena tidak ada pembanding dari dokumen tertulis di luar lingkungan pesantren. Buku ini juga sangat minim menyertakan bukti foto atau dokumen lama yang sebenarnya bisa membuat cerita terasa lebih hidup, nyata, dan meyakinkan.
Kekurangan ini semakin terasa mengganjal ketika kita menyadari ada satu fakta sejarah besar yang seolah dibiarkan lewat begitu saja tanpa pembahasan yang mendalam. Di bagian akhir buku, terdapat dokumentasi piagam penghargaan dari pihak militer yang menunjukkan bahwa Kiai Ghozali ikut membantu negara dalam menumpas sisa-sisa gerakan G30S/PKI pada masa lalu di daerah Saradan dan sekitarnya.
Ini adalah bukti nyata bahwa seorang kiai kampung pada masa itu tidak hanya duduk manis mengajar mengaji, tetapi juga berani mempertaruhkan nyawa untuk ikut mengamankan negara saat terjadi kekacauan politik yang sangat berdarah. Sayangnya, buku ini terlalu asyik menceritakan urusan kerohanian dan ibadah, sehingga lupa mengulas bagaimana peran sosial serta ketangguhan sang kiai di tengah masyarakat yang sedang dicekam ketakutan pada masa-masa kelam tersebut.
Kendati demikian, kami menyadari bahwa mencari rujukan seputar tokoh mastur tidaklah mudah. Apresiasi setinggi-tingginya tetaplah layak diungkapkan dengan hadirnya buku yang menghidupkan kembali tokoh lokal yang mungkin belum masyhur di telinga masyarakat luas.
Pesan untuk Pembaca
Pada akhirnya, buku ini tetaplah sebuah bacaan yang memikat dan direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin membersihkan hati dan menata kembali tata krama dalam mencari ilmu. Kisah ini ibarat teguran keras bagi dunia pendidikan kita hari ini yang sering kali hanya berburu deretan nilai ujian atau ijazah bergengsi, tetapi melupakan pentingnya kerendahan hati dan ketabahan proses.
Buku ini sangat berharga untuk dibaca oleh para guru, orang tua, dan generasi muda demi mengembalikan semangat pendidikan akhlak yang mulai memudar. Dalam filosofi Jawa, kawah candradimuka namanya. Namun, bagi para peminat sejarah, buku ini masih menyisakan banyak pekerjaan rumah untuk digali lebih dalam, terutama untuk mencari bukti-bukti tertulis lain agar peran ulama tidak hanya terekam sebagai cerita keluarga turun-temurun, tetapi diakui secara sah dalam lembaran sejarah peradaban bangsa.
Judul Buku : Manaqib KH Ghozali Pandanasri (Jejak Ilmu, Akhlak dan Keberkahan Sepanjang Zaman)
Penulis : Solichul Hadi dan M Daimul Abror
Cetakan : Pertama
Tahun Terbit : 2026
Penerbit : Ainun Media Jombang
Halaman : xvii + 44 halaman
QRCBN : 62-310-7022-931