Pada “Perang Iran” kali ini, ada dua tokoh yang menarik perhatian saya, mungkin juga banyak dari Anda. Abbas Araghchi dan Mohammad Marandi. Araghchi adalah Menlu Iran saat ini. Sedang Marandi (lengkapnya Seyed Mohammad Marandi) adalah analis politik dan profesor di Universitas Teheran.
Ketika scroll IG atau TikTok, dua tokoh ini sering “nongol” sedang diwawancarai oleh beberapa media Barat. Jujur, saya terpesona oleh keduanya. Bahasa Inggris mereka bagus. Pantas saja karena Araghchi adalah Doktor Pemikiran Politik dari University of Kent, Inggris dan Marandi adalah PhD dari University of Birmingham, Inggris. Keduanya, terutama Araghchi, selalu tampil tenang. Tidak seperti para jurnalis-pewawancara yang umumnya pasang wajah tegang, Araghchi dan Marandi selalu menyertakan senyum tipis kala “dicecar” aneka pertanyaan yang acap menyudutkan Iran. Keduanya selalu membiarkan jurnalis-pewawancara menyelesaikan pertanyaannya, lalu keduanya menjawab dengan tenang, pilihan diksi yang apik dan tatanan kata yang terorganisir dengan rapi serta frame logika yang memadai.
Mungkin ini subjektif, lantaran memang sejak awal saya pro-Iran. Tapi mari kita ambil contoh ketika Araghchi dan Marandi diwawancarai oleh media Barat yang boleh jadi sejak awal tidak suka sama Iran. Dalam sebuah wawancara dengan program Face the Nation di CBS News, yang dilaporkan pada 15-16 Maret 2026, Araghchi ditanya mengenai keselamatan warga AS yang ditahan di Penjara Evin, Teheran. Araghchi menjawab, “Jika AS dan Israel tidak menyerang penjara kami, saya rasa mereka aman.”
Jawaban Araghchi cukup singkat namun padat. Darinya kita dapat mengambil beberapa poin: 1). Ketegangan militer AS-Israel vs Iran meningkat. 2). Iran memperingatkan konsekuensi serangan terhadap fasilitasnya. 3). Sindiran tajam Iran terhadap kemungkinan serangan militer AS atau Israel, dan 4). Iran tetap harus bertanggung jawab atas keselamatan para tahanan asing.
Simak satu lagi contoh ketika Araghchi ditanya Jurnalis tentang dukungan Rusia dan China dalam “Perang Iran” ini:
Jurnalis NBC News: “Apakah Iran saat ini menerima dukungan dari Rusia dan China di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel?”
Araghchi: “Russia and China are our strategic partners.”
Jurnalis NBC News: “Apakah bantuan itu mencakup kerja sama atau dukungan militer dari Rusia?”
Araghchi: “Military cooperation between Iran and Russia is not a secret.”
Jurnalis NBC News: “Apakah kerja sama militer itu berarti Rusia atau China saat ini membantu Iran secara langsung dalam konflik yang sedang berlangsung?”
Araghchi: “We worked together in the past, and that cooperation has continued.”
Jurnalis NBC News: “Bisakah Anda memastikan apakah ada bantuan militer konkret yang diterima Iran dari Rusia atau China?”
Araghchi: “I will not provide details of our cooperation in the middle of a war.”
Kata Ahli, Sang Jurnalis menggunakan closing pressure question; memaksa jawaban “ya atau tidak”. Tapi Araghchi melakukan penolakan-kalkulatif, bukan penghindaran spontan. Masih kata Ahli, pertanyaan Sang Jurnalis bersifat eksplisit dan sistematis, sedang jawaban Araghchi konsisten, berhati‑hati, dan strategis.
Sekarang kita ke Prof. Marandi. Telah saya katakan bahwa baik Araghchi mapun Marandi selalu terlihat tenang saat diwawancara. Tetapi Marandi, dalam ketenangannya, bicaranya lebih cepat. Pengucapan bahasa Inggris-nya terdengar lebih “artikulatif”. Begitu dikasih kesempatan bicara, Marandi langsung “menyambar”, intonasi agak tinggi, durasi panjang tidak seperti Araghchi yang lebih hemat bicara. Mungkin lantaran perbedaan posisi: Araghchi politisi, Marandi akademisi.
Simak ini baik-baik:
Jurnalis: “Menurut Anda, bisakah seorang Pemimpin Baru bernegosiasi dengan Trump dan setuju dengan syaratnya?”
Prof. Marandi: “Tidak, Iran tidak tertarik untuk bernegosiasi dengan Trump atau rezim AS. Iran akan menghukum Amerika Serikat, dan kami sedang dalam proses melakukannya. Rezim Washington ini telah mencoba menyeberangi jembatan yang terlalu jauh dan mereka mengganggu negara lain. Kami bukan Venezuela, kami bukan Irak, kami bukan Libya, kami bukan Afghanistan, dan kami bukan Suriah. Ini adalah Republik Islam Iran, dan kami akan memastikan bahwa Amerika Serikat menyesal atas agresi terhadap Iran, pembantaian terhadap anak-anak, pembunuhan warga sipil yang tidak bersalah dan pembunuhan Pemimpin. Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.”
Tapi jawaban Prof. Marandi yang paling “menampar” adalah kata-kata beliau kepada seorang jurnalis yang dianggapnya propagandis dan tidak seimbang mengenai Iran: “Come on. Be a bit…show at least a bit of integrity. A bit of integrity will help.”
Penulis : Prof. Dr. H. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag.
Guru Besar Bidang Ilmu Tafsir UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung