Suluk.ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Dari Pesantren Menjadi Kader NU Tulen

Mukani
· Diperbarui 12 February 2026

Penulisan sejarah biografi kiai Nahdlatul Ulama (NU) diakui masih minim. Meski itu sangat penting sekali untuk melengkapi historiografi NU, di samping menghindarkan bangsa ini dari amnesia sejarah. Ini karena kontribusi NU bagi Indonesia tidak kecil, sejak pra-kemerdekaan hingga sekarang. Tentu peran aktif ini digerakkan para tokohnya. Baik yang duduk di jabatan struktural maupun sebagai motor penggerak di kalangan kultural.

Kiai Aktivis

Buku baru berjudul KH Abdul Fattah Yasin: Biografi Aktifis NU dan Pejuang Bangsa karya Wasid ini patut diapresiasi kemunculannya di khalayak ramai. Sebagai kader NU tulen, Kiai Fattah lahir tanggal 26 Juni 1915 di Kampung Kawatan Surabaya. Dia lahir dari pasangan Nyai Hj Darsiyah (Sofiah) dan KH Yasin Kawatan, salah satu A’wan saat pendirian NU 1926. Kiai Fattah wafat tanggal 3 Mei 1980.

Pendidikan dasar keagamaan Islam diperoleh Fattah kecil dari keluarganya langsung, terutama membaca al-Qur’an dan fikih. Saat belum mengenyam dunia pesantren, menurut Abdul Muin DZ (2026), Fattah muda sudah aktif mengikuti organisasi Nahdlatul Wathan dan Tashwirul Afkar untuk menimba pengalaman dari para aktifis NU periode awal. Tercatat dia berinteraksi langsung dengan nama-nama kiai besar, mulai dari KH A Wahab Hasbullah, KH Ridlwan Abdullah, KH Hasan Gipo, KH Mas Alwi Abdulazis dan sebagainya.

Tidak mengherankan jika Kiai Fattah akhirnya aktif dalam GP Ansor di kota Surabaya. Bahkan pada tahun 1943, dirinya bergabung dengan Hisbullah. Laskar yang didirikan Masyumi ini menjadi elemen vital dalam mewujudkan dan menjaga kemerdekaan Indonesia periode awal. Bahkan nama Kiai Fattah juga tercatat menjadi salah satu perintis Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Kiai Fattah pernah menjadi Ketua Persatuan Tani Nahdlatul Ulama (Pertanu) periode 1946-1973. Di bidang pemerintahan, Kiai Fattah pernah menjadi Menteri Urusan Sosial pada kabinet Ali Sastroamidjojo periode kedua (1953-1955). Pada saat Pemilu pertama digelar tanggal 29 September 1955, Partai NU berhasil menduduki peringkat ketiga dengan memperoleh 45 kursi (18,4% suara). Di bawah perolehan PNI dengan 57 kursi (22,3% suara) dan Masyumi dengan 57 kursi (20.9% suara). Pemilu pertama di Indonesia ini berhasil meraih partisipasi 87,66% dari pemilih terdaftar.

Pada Kabinet Djuanda (1959-1963), Kiai Fattah diangkat menjadi Menteri Negara Penghubung Alim Ulama. Raihan posisi ini, menurut Abdul Mun’im DZ (2026), sebagai sebuah prestasi yang luar biasa dicapai oleh seorang santri yang dididik dan dibimbing langsung oleh para ulama terkemuka pada zamannya.

Madrasah Prediktif

Sisi menarik dari kiprah dan perjuangan Kiai Fattah adalah saat menimba ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang di bawah bimbingan langsung Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari. Saat itu, Tebuireng sudah memiliki Madrasah Nidzamiyah yang diinisiasi oleh KH Ma’shum Ali, menantu pertama Hadratussyaikh. Nama itu kemudian diangkat menjadi pengawas (mufattis) periode pertama sebelum kemudian digantikan KH Moh Ilyas. Nama terakhir adalah keponakan Hadratussyaikh yang di kemudian hari menjadi Menteri Agama.

Pendirian madrasah ini untuk semakin meningkatkan kualitas output pesantren melalui pemantauan terhadap kehadiran santri dalam mengikuti proses belajar mengajar yang dilakukan kiai (sistemisasi manajemen). Di dalamnya diajarkan 70% lebih berbagai pelajaran-pelajaran umum, seperti matematika, geografi, sejarah, menulis huruf Latin dan bahasa Belanda.

Di samping itu, atas saran KH A Wahid Hasyim, juga didirikan perpustakaan yang berlangganan majalah dan surat kabar umum, seperti Panji Islam, Islam Bergerak, Dewan Islam, Adil, Nurul Islam, Berita Nahdhatul Ulama, Al-Munawarah, Panji Pustaka, Pujangga Baru, Pustaka Timur, Panjebar Semangat dan sebagainya. Hingga sekarang, perpustakaan KH A Wahid Hasyim masih beroperasi di lingkup Pesantren Tebuireng dengan berbagai koleksi dokumen pentingnya, sehingga menjadi rujukan saat dilakukan sebuah riset terkait Tebuireng maupun NU.

Transformasi ini serasa dianggap khariqatul ‘adat menurut zamannya. Tidak heran jika kemudian banyak walisantri yang “menarik” anaknya pulang ke rumah daripada nyantri di Tebuireng. Mereka khawatir anaknya menjadi antek Belanda dengan belajar tidak hanya agama. Namun fakta menunjukkan justru alumni banyak pesantren yang menguasai bahasa Melayu dan Belanda sangat dibutuhkan dalam menyongsong kemerdekaan Indonesia, termasuk periode awal setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Saat di Tebuireng, Kiai Fattah muda tidak hanya menimba ilmu. Namun juga berinteraksi secara berkesinambungan dengan para santri yang berasal dari seluruh pelosok Nusantara. Tidak heran jika kemudian jejaring ini makin memperkuat pengabdiannya untuk meneruskan perjuangan Hadratussyaikh melalui organisasi NU.

Tercatat sekitar 1920-an, alumni Tebuireng sudah mencapai 2.000-an. Ini meningkat drastis dari yang hanya 200-an alumni di tahun 1910-an. Bahkan tepat pada tahun 1942, Tebuireng telah melahirkan tidak kurang 20.000 orang kiai yang tersebar di seluruh Indonesia. Para alumni tersebut tetap menjadikan Pesantren Tebuireng sebagai “kiblat” dalam mengembangkan diri, sehingga Hadratussyaikh tetap menjadi figur sentral dalam setiap pergerakan ketika itu.

Apa yang dilakukan Wasid dengan menulis biografi KH Abdul Fattah Yasin ini mirip dengan yang dilakukan Jimmy Breslin lewat artikel It’s an Honor yang dimuat The New York Herald Tribune edisi 26 November 1963. Saat media massa hiruk pikuk mengabarkan kematian Presiden ke-35 Amerika Serikat, John F. Kennedy (JFK), setelah ditembak Lee Harvey Oswald pada 22 November 1963 di Dallas Texas, Breslin menulis tentang Clifton Pollard.

Pria 42 tahun ini berprofesi sebagai penggali kubur makam JFK. Aktor kecil, namun paling strategis karena berada di jantung peristiwa. Tulisan Breslin menjadi tidak terlupakan dalam sejarah jurnalisme di Amerika Serikat. Dan, yang dilakukan Wasid sangat layak diteladani para pegiat literasi di lingkup NU untuk terus menulis para kiai NU di belantika gegap gempita dunia media massa.*

 

 

 

Judul Buku : KH Abdul Fattah Yasin: Biografi Aktifis NU dan Pejuang Bangsa

Penulis : Wasid

Edisi : l, Februari 2026

Penerbit : Pustaka Idea Surabaya (Anggota IKAPI)

Ukuran : 13 x 19 cm

Tebal : xvi + 188 halaman

ISBN : 978-602-6678-36-2

Peresensi : Mukani, Dosen STAI Darussalam Krempyang Nganjuk dan Pengurus LTN PWNU Jawa Timur

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer