Peringatan Isra Mi’raj pada 16 Januari tahun ini hadir dengan nuansa yang tidak biasa. Mengapa? karena ia jatuh pada hari Jumat, sebuah hari yang dalam literatur Islam dijuluki sebagai Sayyidul Ayyam atau penghulu segala hari.
Namun, di balik kemuliaan tanggal merah ini, muncul sebuah ironi besar yang membayangi generasi muda kita: Apakah libur nasional ini akan diisi dengan refleksi spiritual yang mendalam, atau justru tenggelam dalam “maraton” layar gawai di bawah kendali algoritma?
Pertanyaan ini menjadi mendesak ketika kita melihat karakter remaja saat ini yang tengah dikepung oleh dua kekuatan raksasa: Kecerdasan Buatan (AI) yang menawarkan efisiensi tanpa ruh, dan media sosial seperti TikTok atau Instagram yang menawarkan dopamin instan tanpa jeda.
Penjara Algoritma di Hari yang Mulia
Jumat seharusnya menjadi momen “Mi’raj” mingguan bagi setiap orang Islam, sebuah waktu yang istimewa untuk peningkatakan level secara spiritual melalui shalat Jumat, zikir, dan amalan-amalan utama lainnya yang disunahkan di hari jumat.
Namun, bagi banyak generasi muda “perjalanan” mereka di hari libur seringkali bukan menuju Sidratul Muntaha (puncak kesadaran), melainkan terjebak dalam infinite scroll (guliran tanpa batas) dari tiktok, instagram, dan medsos lainnya.
Media sosial telah menciptakan ruang di mana atensi adalah komoditas. Ketika gawai di tangan mulai mendikte apa yang harus ditonton, apa yang harus disukai, hingga apa yang harus dipikirkan, maka kemerdekaan berpikir generasi muda sedang berada dalam ancaman yang serius.
Isra Mi’raj mengajarkan tentang keteguhan Rasululah Muhammad SAW dalam menerima perintah shalat, sebuah ibadah yang menuntut fokus total dalam menjalankannya dan pemutusan hubungan sejenak dari hiruk pikuk dunia dengan segala urusannya.
Kenyataannya sangat kontras dengan perilaku generasi muda kita yang kini sulit fokus lebih dari 15 menit. Semua ini akibat paparan video pendek yang silih berganti memenuhi beranda gawai.
Pendidikan: Menyelamatkan Hati dari Gempuran AI
Di sektor pendidikan, tantangannya tidak kalah berat. Kehadiran AI (Artificial Intelligence) seperti ChatGPT telah mengubah lanskap belajar. Tugas-tugas sekolah kini bisa diselesaikan dalam hitungan detik.
Jika dunia pendidikan kita hanya mengejar hasil akhir, maka kita sedang menciptakan generasi “robot” yang pintar secara teknis tapi tumpul secara nurani.
Peristiwa Isra Mi’raj adalah pengingat bahwa pendidikan sejati bukan sekadar mengumpulkan data, melainkan harus dititikberatkan pada transformasi karakter.
Perintah salat lima waktu yang dibawa Nabi adalah kurikulum yang menunjukkan muatan kedisiplinan dan integritas. Dalam salat, tidak ada ruang bagi kepalsuan atau “jalan pintas” ala AI.
Pendidikan kita harus mampu menggunakan momentum 16 Januari 2026 ini untuk mengajarkan kepada generasi penerus bangsa bahwa ada hal-hal yang tidak bisa didelegasikan kepada mesin: yakni kejujuran, empati, dan koneksi batin dengan Sang Pencipta.
Mi’raj Digital: Keluar dari Zona Nyaman
Menjadikan libur Isra Mi’raj di hari Jumat, 16 Januari 2026 ini sebagai momentum “detoks digital” adalah sebuah keharusan. Generasi muda perlu diajak untuk melakukan “Mi’raj Digital”, sebuah upaya menggelitik kesadaran untuk naik level dari sekadar objek algoritma media sosial menjadi subjek yang memegang kendali atas media sosial dan teknologi.
Perlu adanya dorongan untuk sekolah dan orang tua untuk memanfaatkan hari terbaik ini sebagai ruang dialog dengan putra putri mereka. Jangan membiarkan mereka tenggelam dalam kebisingan TikTok, instagram, dan lainnya.
Ajaklah putra putri merenung: “ bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW bisa melakukan perjalanan lintas dimensi dalam satu malam? Kulik pemikiran mereka.
Pesan tersiratnya adalah tentang kekuatan visi dan keyakinan. Genarasi muda yang memiliki visi besar tidak akan mudah terombang-ambing oleh tren viral yang tidak bermutu. Mereka akan menggunakan AI untuk kemaslahatan, bukan untuk kecurangan.
Memilih Arah Sujud
Pada akhirnya, 16 Januari 2026 ini adalah ujian bagi kita semua. Apakah kita akan membiarkan hari Jumat yang mulia ini berlalu begitu saja sebagai tumpukan konten di FYP (For Your Page), atau kita akan menjadikannya tonggak kembalinya karakter bangsa?
Sujud yang khusyuk menuntut kita untuk menundukkan ego dan melepaskan keterikatan pada dunia materi, termasuk keterikatan pada validasi semu di media sosial. Mari jadikan peringatan Isra Mi’raj tahun ini sebagai alarm bagi dunia pendidikan dan keluarga Indonesia.
Mari kita didik gegerasi muda kita agar mampu berdiri tegak di tengah gempuran AI, memiliki hati yang terpaut pada nilai-nilai langit, namun tetap cerdas menaklukkan tantangan di bumi.
Jangan sampai di hari yang terbaik ini, dahi kita bersujud di atas sajadah, namun pikiran kita masih tertinggal di dalam fana-nya algoritma media sosial.
*Futihatun, Guru PAI di
SMKN 1 Depok Sleman Yogyakarta