Suluk.ID – Merawat Islam yang Ramah

Kebijakan Skripsi Tanpa Hardcopy, Komitmen Rektor UIN SATU Tulungagung Wujudkan Kampus Religreen

suluk
· Diperbarui 9 January 2026

TULUNGAGUNG — Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung resmi menerapkan kebijakan pengumpulan skripsi, tesis, dan disertasi tanpa bentuk cetak (hardcopy). Mulai tahun akademik ini, mahasiswa tidak lagi diwajibkan menyerahkan karya tugas akhir dalam bentuk buku fisik, melainkan cukup mengunggah softfile melalui sistem digital yang terintegrasi dengan sistem informasi akademik dan repository universitas. Kebijakan ini ditetapkan melalui Pengumuman Nomor: 6088/Un.18/12/2025 tentang Ketentuan Ujian Tugas Akhir serta Pengambilan Ijazah dan Transkrip Akademik.

Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Dr. Abd. Aziz, menegaskan bahwa kebijakan tidak mewajibkan calon sarjana dan pascasarjana menyerahkan skripsi dan tesis dalam bentuk hardcopy tersebut merupakan bagian dari komitmen institusional kampus dalam mengimplementasikan Asta Protas Menteri Agama. Implementasi ini difokuskan pada penguatan transformasi digital tata kelola akademik sekaligus pengarusutamaan nilai ekoteologi dalam kebijakan pendidikan tinggi keagamaan.

Menurut Prof. Abd. Aziz, ekoteologi tidak hanya dimaknai sebagai gerakan simbolik menanam pohon, melainkan juga sebagai upaya mempertahankan dan menjaga kelestarian pohon yang sudah ada melalui perubahan pola pikir, perilaku, dan sistem kelembagaan. Karena itu, pengurangan penggunaan kertas melalui kebijakan paperless dipandang sebagai langkah konkret kampus dalam menerjemahkan nilai-nilai keagamaan ke dalam praktik akademik yang berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Ekoteologi harus diwujudkan dalam kebijakan nyata. Mengurangi penggunaan kertas berarti ikut menjaga pohon-pohon yang masih berdiri. Karena itu, transformasi digital di UIN SATU tidak hanya soal efisiensi, tetapi juga soal tanggung jawab ekologis,” tegasnya.

Ia menjelaskan, kebijakan paperless untuk skripsi dan tesis merupakan langkah strategis yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, keberlanjutan lingkungan, dan tata kelola akademik modern. Dengan sistem digital terintegrasi, proses akademik tetap berjalan tertib, akuntabel, dan mudah diakses, sekaligus menekan penggunaan kertas secara signifikan.

Secara umum, satu pohon dewasa diperkirakan hanya mampu menghasilkan sekitar 8.000 hingga 10.000 lembar kertas A4. Dengan jumlah wisudawan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang mencapai sekitar 4.500 mahasiswa setiap tahun, kewajiban mencetak skripsi dalam beberapa rangkap selama ini berkontribusi pada penggunaan kertas dalam jumlah yang sangat besar. Sebagai ilustrasi, satu skripsi rata-rata terdiri dari sekitar 150 halaman dan dicetak minimal empat rangkap. Artinya, satu mahasiswa menghabiskan sekitar 600 lembar kertas. Jika dikalikan dengan 4.500 mahasiswa per tahun, maka sedikitnya 2,7 juta lembar kertas digunakan hanya untuk keperluan skripsi. Jumlah tersebut setara dengan penebangan sekitar 270 pohon setiap tahun.

“Kebijakan ini adalah bentuk tanggung jawab moral perguruan tinggi dalam merawat bumi sebagai amanah,” tambah Prof. Abd. Aziz.

Selain berdampak ekologis, kebijakan paperless skripsi juga memberikan efisiensi biaya yang signifikan bagi mahasiswa tingkat akhir. Dengan rata-rata biaya cetak dan jilid skripsi mencapai sekitar Rp300–350 ribu per mahasiswa, kebijakan ini berpotensi menghemat dana hingga sekitar Rp1,35–1,58 miliar setiap tahun pada skala institusi, dengan asumsi sekitar 4.500 mahasiswa diwisuda setiap tahunnya. Efisiensi ini sekaligus memastikan proses akademik tetap berjalan tertib, akuntabel, dan terdokumentasi dengan baik melalui sistem digital yang terintegrasi.

Skripsi yang dikumpulkan dalam bentuk digital akan diunggah ke Repository UIN Tulungagung, sehingga dapat diakses secara lebih luas oleh masyarakat akademik, meningkatkan sitasi karya ilmiah mahasiswa, sekaligus memperkuat pengawasan integritas akademik melalui sistem pengecekan plagiarisme.

Prof. Abd. Aziz menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari visi besar UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung yang memiliki konsep religreen. Konsep ini sebagai kampus hijau (Green Campus) yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Transformasi digital dan kepedulian lingkungan harus menjadi budaya akademik. Kampus tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga membentuk kesadaran ekologis generasi masa depan,” pungkasnya.

Didukung Staf Khusus Menteri Agama

Kebijakan ini mendapat dukungan dari Staf Khusus Menteri Agama RI, Farid Fahrudin Saenong. Menurutnya, langkah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sejalan dengan kebijakan ekoteologi yang tengah dikembangkan Kementerian Agama.

“Langkah paperless seperti ini sangat relevan dengan semangat ekoteologi. Jika diterapkan oleh perguruan tinggi lain, kebijakan ini berpotensi menyelamatkan jauh lebih banyak pohon,” ujar Farid.

Ia menilai, perguruan tinggi keagamaan memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai agama.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer