Suluk.ID
Sunday, August 31, 2025
  • Home
  • Ngilmu
  • Pitutur
  • Kekabar
  • Panutan
  • Pepanggen
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Ngilmu
  • Pitutur
  • Kekabar
  • Panutan
  • Pepanggen
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Suluk.ID
Home Ngilmu

Membaca Kembali Cara Kiai Hasyim Asy’ari Menghijaukan Daerah Hitam

by Muhammad Makhdum
July 23, 2019
in Ngilmu
Membaca Kembali Cara Kiai Hasyim Asy’ari Menghijaukan Daerah Hitam
Share on Facebook

Sebelum menjadi kawasan pesantren, Tebuireng pada masa-masa awal justru dikenal sebagai daerah hitam. Sebab, daerah itu masih bergelimang dengan dosa dan maksiat. Lokasinya yang berada di antara ladang tebu dan hutan yang jauh dari rumah penduduk semakin mendukung keberadaan warung remang-remang. Para pelacur, pemabuk, penjudi, para begal dan rampok yang datang dari berbagai penjuru makin mempertegas Tebuireng sebagai sarang kemaksiatan.

Ketika beranjak senja, gelak tawa dan riuh rendah para pemabuk dan penjudi mulai bersaing dengan suara binatang malam. Kanan kiri jalanan penuh sesak oleh perempuan-perempuan nakal yang genit menggoda, tidak hanya pada lelaki hidung belang, tetapi juga lelaki yang berhidung mancung maupun pesek. He he

Melihat kemaksiatan yang terus merajalela, Kiai Hasyim Asy’ari muda merasa gelisah. Dalam setiap doanya, ingin sekali beliau mendirikan pesantren. Bagi Kiai Hasyim, pesantren bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi juga membumikan pesan-pesan langit bagi semua lapisan masyarakat tanpa kecuali. Justru di kawasan masyarakat yang akhlaknya buruk itulah, keberadaan pesantren sangat dibutuhkan.

Akan tetapi, bukanlah perjuangan jika tanpa menemui rintangan. Niat mulia Kiai Hasim justru ditentang dan ditertawakan oleh banyak kalangan pesantren, termasuk oleh mertuanya sendiri. Mereka tidak setuju jika tempat yang kotor malah didirikan pesantren. Apa jadinya jika pesantren yang suci justru bercampur dengan pusat kemaksiatan?

Melalui diskusi dan perdebatan yang cukup alot, Kiai Hasyim berhasil meyakinkan mereka semua. Kakek dan ayahnya tidak hanya memberikan restu, tetapi juga mengirimkan beberapa santri untuk menemani perjuangan Kiai Hasyim. Maka berangkatlah Kiai Hasyim menuju Tebuireng, membangun pesantren dengan cara membeli sebuah rumah bekas tempat pelacuran.

Keberadaan pesantren tersebut tentu saja segera mengusik para pemilik dan penghuni warung remang-remang. Merasa ladang ekonominya terancam, maka disusunlah rencana jahat. Sejak itu, muncullah gangguan yang bersifat psikis maupun fisik. Mulai dari intimidasi, perusakan pesantren, hingga ancaman pembunuhan. Menjadi sasaran lemparan batu dan kotoran merupakan makanan sehari-hari para santri.

Jangankan membalas, Kiai Hasyim justru mendekati mereka dengan santun dan sabar. Menyapa dan menanyakan kabar, menjenguk mereka yang sakit, mengundang selamatan, hingga menawarkan bantuan keuangan dan pekerjaan. Pada awalnya, pendekatan yang dilakukan Kiai Hasyim hanya bertepuk sebelah tangan. Lambat laun, ikhtiar tersebut mulai menunjukkan hasilnya.

Di satu sisi, usaha pertanian dan perikanan yang dirintis pesantren juga cukup berkembang. Para penghuni pelacuran tersebut tidak perlu lagi membeli beras, sayuran dan ikan di pasar yang lumayan jauh, tapi cukup di pesantren. Interaksi tersebut dimanfaatkan Kiai Hasyim untuk memberikan pencerahan dan nasehat, tanpa sekalipun menganggap mereka sebagai pendosa dan ahli neraka.

Kiai Hasyim tetap memandang mereka sebagai manusia, yang pada suatu saat akan kembali ke fitrahnya.

Benar kata pepatah Arab bahwa “al insan abdul ihsan”, manusia itu hambanya kebaikan. Kebaikan yang dilakukan secara terus menerus, pada akhirnya akan mampu meluluhkan hati seseorang, sekeras apapun, sehitam lumpur sekalipun. Perlahan-lahan, gangguan yang dialami pesantren menurun dan pada akhirnya hilang sama sekali. Para ahli maksiat yang awalnya alergi dan rikuh dengan pesantren mulai mendekat, mereka yang merasa sungkan dengan profesinya mulai menyingkir, bahkan tidak sedikit yang ikut mengaji bersama para santri lainnya.

Dakwah bil hikmah yang dilakukan Kyai Hasyim memang berat, butuh kesabaran ekstra, keteguhan hati, dan keimanan sekuat baja. Amar ma’ruf bil ma’ruf, dan nahi munkar bil ma’ruf. Mengajak kebaikan dengan cara yang baik, dan mencegah keburukan dengan cara yang baik pula. Mengajak memerangi kemaksiatan dengan kekerasan memang seolah cepat selesai, akan tetapi pasti akan berbuntut panjang serta menyisakan dendam yang turun-temurun.

Sejarah telah membuktikan, bagaimana da’wah Kanjeng Nabi yang penuh keteladanan akhlak telah meraih hasil yang gemilang, demikian juga keberhasilan da’wah Wali Songo di nusantara yang bisa kita rasakan sampai sekarang.

Meminjam kalimat Gus Baha’ bahwa untuk memperbaiki manusia itu butuh proses panjang, tidak bisa langsung dihabisi. Jika tugas kenabian hanya untuk memerangi keburukan, maka bermitra dengan Izrail akan jauh lebih efektif ketimbang bermitra dengan Jibril. Inilah esensi dari konsep Islam rahmatan lil ‘alamin.

Wallahu a’lam bis shawab. (*)

Muhammad Makhdum
Muhammad Makhdum

Anggota Lajnah Ta’lif Wan Nasyr PCNU Kabupeten Tuban

Tags: kiai hasyim asyariPESANTREN
Previous Post

Ziarah Kubur dan Manfaatnya

Next Post

Ulil, JIL dan Ngaji Ihya’

Related Posts

Memahami Tren Wacana Untuk Penyampaian Pesan Dakwah Islam

Memahami Tren Wacana Untuk Penyampaian Pesan Dakwah Islam

by Abdur Rohman Assidiis
August 19, 2025
0

Suluk.id, Akhir-akhir ini, dunia jagat maya sedang digencarkan oleh wacana perbincangan filsafat. Hal ini dipicu oleh salah satu sosok yang...

Memaknai Tiga Ekspresi Kemerdekaan

Memaknai Tiga Ekspresi Kemerdekaan

by Nur Aziz Muslim
August 9, 2025
0

Kemerdekaan bukan sekadar hanya bebas dari penjajahan secara fisik, akan tetapi harus dimaknai sebagai suatu keadaan yang disitu bebas dari...

Merangsang Guru PAI Gairah Berliterasi

Merangsang Guru PAI Gairah Berliterasi

by Mukani
July 29, 2025
0

Tradisi literasi di Indonesia masih perlu ditingkatkan karena masih jauh dibanding negara-negara lainnya. United Nations Education, Scientific and Cultural Organization...

AKULTURASI BUDAYA SEBAGAI PILAR MODERASI DI LINGKUNGAN SOSIAL

AKULTURASI BUDAYA SEBAGAI PILAR MODERASI DI LINGKUNGAN SOSIAL

by elhimmah
July 18, 2025
0

Kehidupan masyarakat yang majemuk, perjumpaan budaya dan agama menjadi realitas yang tidak bisa dihindari. Sebut saja di Indonesia. Sebuah negeri...

Next Post
Ulil, JIL dan Ngaji Ihya’

Ulil, JIL dan Ngaji Ihya'

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sosial Media

Terkait

Rektor UIN SATU Ungkap Belasungkawa atas Wafatnya Affan, Ajak Semua Pihak Menjaga Kondusifitas

Rektor UIN SATU Ungkap Belasungkawa atas Wafatnya Affan, Ajak Semua Pihak Menjaga Kondusifitas

August 31, 2025
Muskercab PCNU Kabupaten Madiun Canangkan Empat Program Strategis

Muskercab PCNU Kabupaten Madiun Canangkan Empat Program Strategis

August 30, 2025
Diskusi Mahasiswa STIT UW Jombang, Tanggung Jawab Sosial Jadi Tugas Berat Mahasiswa

Diskusi Mahasiswa STIT UW Jombang, Tanggung Jawab Sosial Jadi Tugas Berat Mahasiswa

August 30, 2025
Suluk.id - Merawat Islam yang Ramah

Suluk.id termasuk media alternatif untuk kepentingan dakwah. Dengan slogan Merawat Islam Ramah serta mengajak beragama yang menggembirakan.

Suluk.ID © 2025

  • Redaksi
  • Tentang
  • Disclaimer
  • Kerjasama
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Ngilmu
  • Pitutur
  • Kekabar
  • Panutan
  • Pepanggen
  • Kirim Tulisan

Suluk.ID © 2025