Suluk.ID โ€“ Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Napak Tilas, Spirit Teladani Perjuangan Masayikh NU

Redaksi

JOMBANG – Komite Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama mengadakan napak tilas isyaroh pendirian Nahdlatul Ulama, Minggu (4/1). Acara digelar memperingati satu abad kelahiran NU versi Masehi.

Rangkaian acara diikuti sedikitnya 2.000 peserta. Dimulai dari Bangkalan, ditandai dengan penyerahan replika tongkat dan tasbih oleh dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan, KH. Fahruddin Aschal kepada dzurriyah KH. As’ad Syamsul Arifin, KHR. Azaim Ibrahimy. Kedua benda dibawa ke Tebuireng dan terakhir diserahkan kepada dzurriyah KH. M Hasyim Asy’ari, yaitu KH. Fahmi Amrullah Hadzik.

Bupati Jombang, Warsubi, mengapresiasi acara ini. Ini karena antusias peserta yang luar biasa. “Acara napak tilas ini sebagai sarana edukasi untuk muda-mudi tentang Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

KHR. Azaim menyampaikan, perjalanannya dari Bangkalan ke Surabaya sejauh 18 kilometer. Lalu dilanjutkan ke Jombang. “Ada yang menggunakan kereta, bus dan mobil,” ujarnya.

“Banyak peserta yang berpartisipasi, baik yang terdaftar maupun yang belum terdaftar menjadi peserta napak tilas. Semua tetap berniat untuk mengambil keberkahan dari masyayikh NU,” imbuhnya.

Kiai Azaim berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu acara ini. “Barangsiapa yang mengurusi NU, aku anggap santri dan kudoakan khusnul khatimah beserta keluarganya,” ujarnya mengutip pesan KH Hasyim Asy’ari.

KH. Abdul Hakim Mahfudz, pengasuh Pesantren Tebuireng, mengakui perjalanan napak tilas membutuhkan tenaga dan menguras pikiran.
” NU mengambil peran signifikan, mengingat satu abad tahun lalu, apa yang bisa kita ambil dan lakukan dari perjalanan napak tilas yang dipimpin KHR. Ach. Azaim Ibrahimy ini,” ujarnya.

Kiai akrab disapa Gus Kikin ini mengakui zaman pendirian NU masih sulit. “Zaman itu zaman sulit, saling membantu masyayikh dan ulama untuk memperjuangkan Indonesia,” imbuhnya.

Organisasi Nu, lanjutnya, berbasis di pondok besar. “Apa yang dilakukan leluhur dulu lebih berat dari yang kita lakukan. Karna pemerintah Belanda tidak ada toleransi pada bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan,” tambahnya.

Perjuangan ulama dulu, lanjutnya, jauh lebih berat dari apa yang kita perjuangkan hari ini. “Tapi perjuangan tetap harus kita lanjutkan dengan menjaga kebersamaan ukhuwah persatuan untuk menggapai ridha dari Allah Swt,” pungkasnya. (ani)

kontributor: Ani Tazkiyatum, pengurus LTN MWCNU Diwek Jombang

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer