Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Rekonstruksi Pemahaman Ulumul Qur’an: Memburu Pesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya

Ahmad Misbakhul Amin
· Diperbarui 7 May 2026

Tulungagung,  31 April 2026_ saya diundang HMPS Ilmu Al Quran dan Tafsir UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung pada agenda diskusi Miftah Al Tafsir. Diskusi ini adalah program HMPS yang dalam perjalanannya difasilitaskan untuk mahasiswa calon pemikir dan Mufassir kontemporer. Diskusi yang dilakukan di Kedai Bento Coffe ini mengusung tema keren, “ Rekonstruksi Pemahaman Ulumul Qur’an: Menjawab Tantangan Penafsiran Di Era Digital”. Nizar, salah seorang mahasiswa IAT yang juga kader Komunitas El Himmah duduk di samping saya sebagai moderator untuk memandu jalannya diskusi. Diskudi yang diikuti oleh sebagian mahasiswa IAT dan beberapa mahasiswa luar non prodi ini memakan waktu dua jam, hingga tepat azan magrib diskusi dapat terselesaikan.

Mempertimbangkan tema yang agak berat, mustahil bagi saya untuk meninggalkan tradisi membaca dan menulis hasil review bacaan. Saya buka buku karya Prof. Aksin Wijaya, akademisi senior Ilmu Al Quran dan Tafsir yang kini menjadi Guru Besar di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Bukunya tidak terlalu tebal, namun penuh makna dan kesan mendalam, hingga akhirnya saya memilih untuk saya jadikan referensi utama dalam diskusi. Judul buku yang saya maksud adalah  “Arah Baru Studi Al Quran: Memburu Pesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya” .

Karena kesibukan pekerjaan di Sekretariat Panitia Nasional PMB PTKIN dan beberapa kegiatan lain, jujur saya belum bisa membaca buku ini dengan santai dan betul-betul memahami seluk beluk pembahasan Prof. Aksin. Namun, kesibukan ini bukan tantangan, perjalanan Tulungagung-Yogyakarta dan sebaliknya selama 12 jam saya gunakan untuk membaca dan memahami substansi buku ini. Selama perjalanan di dalam kereta, saya bertarung dengan batin dan ortodoks dogma yang telah saya pegang selama ini. Pertarungan ini secara tidak langsung berpotensi mendikotomikan keyakinan saya dan mungkin kaum muslim konservatif (kolot) dengan wacana studi tafsir yang dibangun Prof. Aksin.

Dua kata untuk buku yang baru saya baca ini “ Penggugat dan Kontroversi”. Namun sebagai mahasiswa calon akademisi yang ingin liberal dalam berpikir,  moderat dalam bertindak, dan akulturatif dalam beribadah, saya menghilangkan doktrin yang menempel dalam dinding pikiran saya. Usaha ini saya lakukan agar dapat berpikir kritis dan tetap objektif terhadap realitas empiris yang didiskusikan Pak Aksin Wijaya dalam buku ini. Walhasil, buku ini mengilhami saya untuk menjadikannya materi yang saya sampaikan kepada teman-teman pengundang.

Untuk membaca dan membahas isi diskusi pembicaraan buku Prof. Aksin Wijaya dan apa yang saya sampaikan dalam diskusi tersebut secara berkala akan saya sampaikan pada part artikel selanjutnya.

Bersambung, …

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer