Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Safari Intelektual Ramadhan 1447 H

Muchamad Rudi C

Salah satunya yang perlu saya catatkan perjalanan menimba ilmu pengetahuan dan mempererat silaturahmi sesama kawan. Kali kedua saya menumpang untuk bersilaturahim ke guru menulis banyak orang: Prof. Dr. Ngainun Naim,M.H.I bersama Lembaga Ta’lif wa Nasr (LTN) MWCNU Diwek Jombang.

Rombongan tiba di Tulungagung mengenakan rompi bermodel seperti tim gegana penjinak bom tapi berwarna coklat dengan banyak sakunya. Bisa dilihat rompi yang beliau-beliau kenakan. Semacam rompi teknisi saja. Memang benar, mereka dari Lembaga Teknik (Nuklir) Nulis (LTN). Tapi itu guyonan untuk lembaga yang kadang belum terlalu dikenal di kalangan NU. Nama aslinya Lembaga Ta’lif wa Nasr. Walaupun begitu, LTN mempunyai peran penting dalam menggawangi literasi dan wacana keislaman khususnya Nahdlatul Ulama’.

Sowan ke ndalem Prof. Naim memang bukan pertama kalinya bagi saya. Tapi beberapa orang dari rombongan menjadi pertama kali dan pasti sangat berkesan. Apalagi untuk para pegiat literasi NU dari Jombang tersebut. Saya pun masih berkesan karena selalu ada ilmu baru termasuk perihal menulis.

Menulis Saja, Jadi Professor Saja Tiba-Tiba

Bagi Prof. Naim yang banyak membagikan pengalamannya. Salah satu yang saya tangkap bahwa memulai menulis ya menulis saja. Apapun bisa ditulis. Bahkan sekarang menggunakan alat apapun. Tidak harus menunggu antrian mesin ketik atau membuka laptop. Menurut beliau bahkan sekarang dengan menggunakan handphone dan aplikasi pencatatan saja sudah cukup. Tidak juga harus berat-berat. Salah satunya tentang sebuah perjalanan hidup yang sangat mudah untuk dituliskan.

Beberapa kali beliau meramu kegiatan menjadi sebuah buku catatan perjalanan. Saat melakukan penelitian di luar negeri misalnya atau saat berkunjung ke Baitullah Mekah untuk melaksanakan Umroh menjadi sebuah buku buku berpuluh puluh halaman. Teman saya sendiri juga pernah menjadi saksi bagaimana beliau melakukan kegiatan tulis menulisnya. Tidak melulu dengan menunggu membuka laptop, memangkunya, dan membuka microsoft word. Tetapi dengan cara yang sangat sederhana sekali. Buka gawai, cari aplikasi ColorNote dan mulai menulis untuk beberapa kata bahkan satu judul dalam sekali duduk.

Selain itu, Prof. Naim memang seorang pencatat handal. Saya sendiri melihat dalam beberapa kesempatan, di dalam kegiatannya tidak lepas dari kertas dan bolpoin untuk mencatat poin-poin yang akan dituliskan. Selang beberapa saat sudah jadi sebuah artikel yang diunggah di blog pribadinya.

Saya sendiri melakukan hampir sama dengan beliau. Maka dari itu pekerjaan dan cita-cita saya yang paling murah sebenarnya adalah menulis. Kenapa, karena dulu saya bercita-cita menjadi seorang atlet olahragawan sejak kecil. Saya beberapa kali mengikuti perlombaan atletik seperti lompat jauh, lempar lembing, dan menjadi atlet futsal. Selain menjadi atlet saya mempunyai mimpi menjadi seorang programer, kemudian bergeser menjadi videografer, atau film maker.

Akan tetapi ternyata dari semua hobi dan cita-cita saya tidak terakomodasi dengan baik oleh alat pendukung yang cukup mahal seperti sepatu atlet, les Sekolah Sepak Bola (SSB), device komputer dengan spesifikasi tinggi atau alat-alat produksi video seperti kamera dan antek-anteknya. Maka memilih jalur menulis dengan bermodal smartphone, aplikasi bawaan Google Keep, bahkan room chat Whatsapp dan modal curhatan tipis-tipis sudah menghasilkan beberapa buku ber-ISBN dan jurnal penelitian.

Di awal saya menyampaikan bahwa hampir sama dengan beliau. Perbedaanya Prof. Naim cukup konsisten dalam perihal menulis dan kualitas tulisannya. Sedangkan saya hanya konsisten dalam menulis story Whatsapp dan tulisan ringan yang mudah sekali untuk dihabiskan dalam sekali duduk. Begitupun saya berusaha untuk tetap terus mengikuti orang-orang yang sukses dalam perihal tulis menulis seperti Prof. Naim atau guru-guru dan teman-teman lainnya. Terpenting yang kami dapat dari pengalaman Prof Naim: menulis saja dulu jadi profesor kemudian.

Buku Cahaya Sang Kiai

Sesi terakhir dalam perjalanan spiritual safari intelektual ramadhan 1447 H, LTN MWCNU Diwek berkesempatan menyantap seporsi Nasi Lodho langsung dibawa dari Trenggalek. Satu potong ayam utuh dan kuah santan kuning lodho sudah disiapkan Prof Naim untuk santap berbuka. Setelah selesai melahap hanya menyisakan tulang belulangnya saja, ternyata di dalam sebuah tas oleh-oleh sudah disiapkan beberapa eksemplar buku. Buku berjudul Cahaya Sang Kiai: Meneladani Perjuangan dan Pengabdian Kiai Kampung diserahterimakan sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Prof Naim karena sudah berkenan memberikan kata pengantarnya.

Buku Cahaya Sang Kiai menjadi karya dari teman-teman LTN MWC NU Diwek Jombang yang berisi kisah inspiratif dari 33 tokoh “Kiai Kampung” Kabupaten Jombang. Kurang lebih dalam buku setebal 196 halaman diulas bahwa sosok-sosok Kiai Kampung mempunyai peran dalam membangun peradaban di tingkat paling bawah struktur sosial masyarakat: desa atau kampung. Namun dikatakan “Kampung” bukan berarti mereka yang tidak sekeren dari segi nasab atau perjuangan para Kiai yang terkenal di pandangan publik.

Kiai Kampung yang dicatatkan dalam buku cukup berperan dan berdampak pada masyarakat akar rumput. Jika ada yang mengatakan bahwa Wali dikategorikan Wali Masyhur (terkenal) dan Mastur (tersembunyi). Maka merekalah para Mastur yang memperjuangan agama Allah tapi tidak cukup diketahui publik. Sehingga buku Cahaya Sang Kiai berhasil mencatatkan agar tetap terkenang dan memberikan pelajaran bahwa ada sosok-sosok Kiai yang penting di sekitar masyarakat. Tidak hanya menjadi Kiai, bisa jadi juga seorang Wali.

Disebutkan oleh tim penulis ada beberapa persyaratan yang dapat dituliskan biografinya. Salah satunya mereka yang sudah meninggal dunia. Karena mengutip kelakar guyonan KH. Bisri Mustofa (Gus Mus) “Ada kiai yang sudah hampir jadi wali, tiba-tiba pindah profesi jadi pemimpin tim sukses,”. Kami sambut dengan gelak tawa bersama dan saling menimpali. Suasana hangat dan menambah wawasan, safari intelektual Ramadhan 1447 H harus menjadi catatan yang semoga dapat dikenang serta diteruskan untuk Ramadhan-ramadhan berikutnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer