Suluk.ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Siapa, Apa, dan Bagaimana itu Jodoh?

Muchamad Rudi C

Saya masih bertanya-tanya. Bukan tentang siapa jodoh saya, darimana asalnya dan bagaimana rupanya. Tetapi terlebih dahulu tentang bagaimana mendefinisikan jodoh itu. Karena jika jodoh hanya didefinisikan sebagai mereka yang mencapai sebuah jenjang pernikahan, bagaimana jika –naudzubillah– bercerai, atau berpisah karena meninggal dunia, atau bagaimana jika dalam sebuah pernikahan menemukan jodohnya lagi. Artinya seseorang tersebut akan mendapatkan istri atau suami lagi. Bukan nya begitu, jika definisi jodoh hanya sebatas pada mereka yang berhasil masuk ke jenjang pernikahan.

Maka bagaimana seharusnya perjodohan itu. Setelah saya mencari jawaban melalui referensi ataupun diskusi-diskusi kemudian berkontemplasi. Belum saya temukan definisi secara istilah dalam konteks orang atau pernikahan. Namun secara bahasa dalam KBBI diartikan sebagai orang yang cocok menjadi suami atau istri. Kecenderungan saya mendefinisikan jodoh berdasarkan seperti yang disampaikan oleh beliau Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Beliau memberikan nasihat perihal pernikahan. Bahwa Allah menciptakan manusia dengan perjodohan (azwaj). Tidak hanya manusia, bahkan semua makhluk Allah ciptakan dengan sebuah perjodohan. Menikah tidak diwajibkan secara hukum, fiqih maupun syariat. Akan tetapi diwajibkan secara takdir. Karena Allah SWT mentakdirkan makhluknya secara berpasang-pasangan (azwaj).

Manusia menghalalkan hubungan nya melalui sebuah jalur pernikahan. Menikah menjadi proses antara kedua manusia yang diberikan rahmah dan mawaddah. Rahmah diartikan sebagai rasa kasih sayang yang Allah berikan pada seseorang secara umum. Definisi lain rahmah adalah perasaan kasihan, sayang dan welas asih (rahmah) sebagai anugerah yang diberikan pada hamba-Nya. Selanjutnya yang membedakan dengan rahmah, yakni Allah memberikan mawaddah untuk pasangan agar saling tertarik dan mencintai. Mawaddah sendiri, yakni rasa cinta yang membuat satu sama lain tertarik dan lebih khusus dari rahmah. Dengan kata lain mawaddah yakni perasaan cinta dan suka atau tertarik pada lawan jenis muncul di kala usia seseorang masih muda. Rasa yang natural pemberian Allah yang sifatnya biologis. Berkat inilah seorang laki-laki menikahi perempuan dan memberi manfaat kepada pihak yang dicintai.

Satu kata yang masih tidak lepas dari mawaddah wa rahmah dalam surat Ar-Rum ayat 21 yakni sakinah. Menurut Cak Nun, bahwa sakinah merupakan sebuah ketenangan, keseimbangan dan ketepatan hidup diantara pasangan yang harus diperjuangkan. Karena sakinah bukan sesuatu hal yang semata-mata ditakdirkan. Sehingga jika mengacu pada surat Ar Rum ayat 21 menggunakan redaksi litaskunu ilaiha (sakinah adalah sesuatu yang diusahakan atau dituju). Bukan litaskunu fiha (sakinah adalah sesuatu yang sudah ditancapkan atau otomatis ada). Maka logika yang tepat yakni atas mawaddah wa rahmah yang sudah Allah SWT berikan, semoga dapat mengusahakan menuju berpasangan yang sakinah.

Tepat sekali jika sebuah ketenangan dalam rumah tangga menjadi sebuah usaha. Karena semua perbedaan antara satu sama lain pasti ada. Sehingga komunikasi, kompromi dan toleransi menjadi kunci dalam sebuah pernikahan. Kompromi atau toleransi tidak bisa diartikan sebagai siapa yang menang atau kalah. Akan tetapi bagaimana cara agar dapat menerima satu sama lainnya dengan alasan logis yang sudah dikomunikasikan sebelumnya. Dengan begitu sebagai bentuk usaha keras untuk menuju keluarga sakinah.

Tentu kemungkinan besar akan ada tantangan atau cobaan dari berbagai hal yang akan mencoba meruntuhkan keyakinan pasangan. Dari awal pernikahan, bahkan sebelum pernikahan terjadi pasti akan mengalami banyak cobaan. Mungkin dari restu orang tua karena tidak cocok secara adat, tidak sesuai dengan kriteria, atau pikiran ketakutan-ketakutan yang dibayangkan setelah menikah. Sehingga terjadilah overthinking, stress hingga depresi. Maka kembali pada perihal bahwa sakinah nya sebuah pernikahan, mulai dari proses mencari jodoh, pra nikah hingga bertahun-tahun usia pernikahan merupakan sebuah usaha bersama.

Dari referensi dan diskusi yang saya lakukan, tidak secara langsung mendefinisikan apa itu jodoh untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di awal. Begitupun definisi menurut Islam. Namun Rasulullah SAW sebagai panutan umat sudah memberikan tuntunan tentang bagaimana mencari pasangan sebagai usaha menuju sakinah tersebut. Salah satunya pada hadis “Dari Abi Hurairah, ia berkata, Nabi Muhammad bersabda: Perempuan dinikahi karena empat, yaitu harta, kemuliaan nasab, kecantikan, dan agamanya, pilihlah wanita yang taat kepada agamanya, maka kamu akan berbahagia (beruntung).” (HR Al-Bukhari, 7/7).

Selain itu Al Qur’an juga menjelaskan tentang isyarat siapa itu jodoh. Yakni memiliki kesamaan dan kesepadanan (sekufu) terlebih dalam hal pemikiran, tabiat, dan sebagainya. Sebagaimana ayat QS an-Nur ayat 28 jika menginginkan pasangan yang baik, maka menjadi lah baik pula. Selanjutnya diberikan mawaddah dan rahmah yang berpotensi mendatangkan sakinah seperti dijelaskan pada sebelumnya tentang QS. Ar Rum ayat 21.

Sehingga pada intinya jodoh adalah dua orang yang saling Allah SWT berikan mawaddah (rasa suka) dan rahmah, kemudian dengan bekal agama yang baik, memiliki kesamaan dan kesepadanan, serta mempunyai visi untuk belajar mengusahakan menuju pasangan yang sakinah. Perihal tantangan dan cobaan masalah perbedaan pandangan, ekonomi, dan lain sebagainya kemungkinan besar ada. Akan tetapi jika memilih untuk tidak menikah apakah permasalahan tersebut kemungkinan tidak terjadi? Tentu tidak. Karena namanya manusia yang hidup, kita tidak tahu-menahu bagaimana dunia berputar. Seperti hidup pada umumnya pula, semua perlu untuk diusahakan dan memohon kepada Allah SWT sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW serta guru-guru kita semua yang lebih berpengalaman. Tentunya tetap kita niatkan sebagai wujud ibadah lillahi ta’ala. Semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah dan menjauhkan kita dari godaan-godaan yang menyesatkan. Wallahu A’lam.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer