Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Pengorbanan Marsinah dan Perjuangan Buruh

Mukani
· Diperbarui 30 April 2026

Peringatan hari buruh internasional 1 Mei 2026 agak spesial. Menurut rencana, hari Sabtu (2/5) nanti, Presiden RI akan meresmikan monumen, rumah singgah dan Museum Marsinah di Desa Nglundo Kecamatan Sukomoro Nganjuk. Persiapan diklaim sudah sepenuhnya tinggal menunggu pelaksanaan.

Tonggak Sejarah

Marsinah ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh Presiden RI tanggal 10 November 2025 kemarin. Penobatan itu dilakukan di Istana Merdeka Jakarta berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/2025 tanggal 6 November 2025. Marsinah menjadi pahlawan nasional termuda dari provinsi Jawa Timur.

Spesifikasi perjuangan Marsinah juga menjadi karakter tersendiri. Komitmen kuat untuk mengangkat kesejahteraan kaum buruh menjadi ciri khas yang menyebabkan pemberian anugerah pahlawan nasional. Terlebih latar belakangnya yang dari kalangan biasa menjadi penganugerahan tersebut lebih istimewa.

Nama Marsinah, sebelum dibunuh, menjelma sebagai bentuk perlawanan konkrit terhadap rezim Orde Baru di bidang perburuhan. Kebebasan berekspresi untuk menyampaikan aspirasi dibungkam sedemikian rupa. Meski ketika itu Marsinah berjuang untuk kaumnya memperoleh upah yang lebih layak.

Marsinah dinyatakan hilang tanggal 5 Mei 1993. Beberapa hari sebelumnya, dia mengkoordinir sesama kaum buruh pabrik arloji PT Catur Putra Surya yang berlokasi di Porong Sidoarjo untuk melakukan unjuk rasa demi menuntut kenaikan upah. Dia meninggal dunia tanggal 8 Mei 1993.

Tidak heran jika kemudian penghilangan paksa nyawa Marsinah ini menjadi atensi di dunia internasional. Pembunuhan ini dicatat oleh International Labour Organization (ILO) dengan nomor 1773. Tidak heran jika kemudian di tahun 1993 itu juga, nama Marsinah diberi penghargaan Yap Thiam Hien.

Meski Marsinah meninggal dunia di usia sangat muda 24 tahun, perempuan kelahiran 10 April 1969 ini akan selalu dikenang setiap peringatan hari buruh tiba. Anak kedua dari pasangan Astin dan Sumini ini diakui Menteri Sosial Saifullah Yusuf (2025) sebagai simbol keberanian yang sederhana tetapi menggetarkan dan mengguncangkan hati nurani. Bahwa keringat manusia harus diberi upah yang sesuai. Meskipun dengan keberanian itu Marsinah harus kehilangan nyawa.

Anjuk Ladang

Komitmen perjuangan anti penindasan sudah ditunjukkan jauh hari oleh leluhur warga Nganjuk, kampung halaman Marsinah.  Dalam prasasti Anjuk Ladang yang ditemukan, warga desa situ membantu Raja Mpu Sindok dari serangan ekspansif pasukan Melayu (Sriwijaya). Mpu Sindok sendiri adalah raja Kerajaan Medang (Mataram Kuno) yang memindahkan ibu kota kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Prasasti itu berangka tahun 859 Saka bertepatan sekitar bulan Maret/April 937 M. Di dalamnya ditetapkan bahwa Anjuk Ladang sebagai tanah Sima (perdikan) yang bebas dari pungutan pajak kerajaan. Prasati yang sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta ini juga menandai pendirian tugu kemenangan (Jayastambha) yang kini dikenal sebagai Candi Lor di Kecamatan Loceret Nganjuk.

Hal ini menunjukkan warga Nganjuk sudah menunjukkan kontribusi positifnya yang konkrit dalam melawan bentuk penindasan. Apa yang dilakukan Marsinah sebagai perlawanan kepada penguasa tirani saat itu merupakan perjuangan heroik dalam upaya nyata mewujudkan kesejahteraan kaum buruh. Meskipun pengorbanan Marsinah itu tetap harus diteruskan perjuangannya. Tidak sekedar berhenti setelah Marsinah ditetapkan sebagai pahlawan nasional dari kaum buruh.

Pengorbanan Marsinah harus diinterpretasikan sebagai tonggak awal dalam memperjuangkan kaum buruh di Indonesia. Nilai-nilai yang diperjuangkan Marsinah harus tetap dibelajarkan dan dijaga untuk dilestarikan para generasi penerus. Karakter pantang menyerah dalam berjuang menjadi unsur terpenting yang harus diteladani dari perempuan pemberani bernama Marsinah.

Bagi pemerintah daerah setempat, lokasi ditemukannya pertama kali jenasah Marsinah di Dusun Jegog Kecataman Wilangan juga tidak boleh dilupakan. Keberadaannya harus tetap dirawat sebagai bagian penting dari perjuangan Marsinah. Dipandang perlu adanya penanda resmi yang permanen bahwa gubug di pinggir hutan itu sebagai lokasi penting dari sejarah hidup Marsinah. Misalnya adalah pendirian patung perjuangan Marsinah, sebagaimana yang telah berdiri di Desa Nglundo.

Agenda penting kedua adalah kesinambungan sebagai bentuk pengingat terhadap nilai kepeloporan Marsinah. Dipandang perlu Pemkab Nganjuk menggelar rangkaian kegiatan selama waktu tertentu untuk menandai kelahiran atau kejuangan Marsinah. Misalnya adalah “Pendak Marsinah” yang digelar setiap tanggal 8 Mei, sebagai hari ditemukannya jenasah Marsinah. Rangkaian kegiatan bisa berupa seminar, bakti sosial, pameran produk desa, kirab, pengajian atau lainnya.

Kedua upaya itu sebenarnya terbilang mudah bagi pemerintah daerah setempat. Apalagi pengusulan gelar pahlawan nasional kepada Marsinah kemarin juga sudah didukung penuh oleh Pemkab Nganjuk. Terlebih sebagai bentuk meruwat dan merawat berbagai nilai kejuangan yang sudah diteladankan secara nyata sosok pahlawan nasional dari Nganjuk bernama Marsinah. Semoga mewujud.

Penulis : Mukani – Panelis Debat Calon Bupati Nganjuk Tahap Pertama (2024)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer