“Buku adalah jendela ilmu,” itulah kata-kata poster yang ditempel di depan kelas 5 SDN Kapu 02 Sebelas tahun silam. Poster itu setiap hari selalu saya lewati dan secara tidak langsung terbaca kala lewat, untuk sekedar masuk kelas atau bermain di area sekolah. Kala itu, tahun 2015, sebenarnya saya belum mengetahui apa tujuan poster itu ditempel. Saya juga tidak tahu kenapa kata-kata itu yang dipajang. Yang saya tahu, kala guru masuk kelas selalu bawa buku, mengajak kita membaca buku, atau setidaknya kipas-kipas dengan buku.
Pak Marlan, wali kelas saya dua tahun di kelas lima dan enam, terkenal dengan ketegasan dan kegarangannya. Momoknya, beliau sering kali menempeleng siswa, atau sekurang-kurangnya memarahi di depan kelas. Begitu ngeri bayangan saya menggambarkan sosok Pak Marlan kala awal duduk di kelas lima. Parahnya saya akan dihadapkan dengan sosok killer dan kejam ini, pikir saya bodoh.
Satu hal yang saya suka dari Pak Marlan adalah ketika sesi cerita dimulai. Beliau sering kali menceritakan pengalamannya. Tentu dengan gaya dan karakteristiknya, baju rapi, selalu bawa sisir, dan sesekali merokok keluar kelas ketika siswa diberinya tugas. Sosok Pak Marlan yang awalnya saya bayangkan kejam dan garang perlahan memudar dengan fakta ini.
Salah satu cerita hidup yang hingga kini saya ingat adalah “Pak Marlan si Kutu Buku”. Kala itu, Pak Marlan menghukum teman kami, Bowo, karena ketahuan tidak menyelesaikan PR Matematika. Bowo disuruh maju dan Pak Marlan mulai bercerita. “Saya ini sangat sedih kalau lihat kalian nggak mau baca, nggak mau mengerjakan PR, kenapa gak dikerjakne ?” Beliau diam kita pun diam.
Suasana hening, Pak Marlan melanjutkan ceritanya. Beliau bercerita bahwa ia adalah kutu buku yang sering membaca buku walau masa kecil dan remajanya terbilang tidak terlalu berpunya. Beliau adalah lulusan Pendidikan dasar S1 di IKIP Tuban (kini UNIROW Tuban). Informasinya kala beliau menjadi mahasiswa, banyak temannya yang takjub dan kagum, bukan karena ganteng dan kaya, tapi karena tulisannya terkesan bagus. Kemampuan itu usut punya usut ternyata datang dari kebiasaan dan habits yang biasa beliau bangun.
Marlan kecil sering membantu orang tuanya di sawah karena yang dimilikinya hanya itu. Namun, keinginan untuk mengubah nasib dengan pendidikan terus terpatri dalam jiwanya. Berbagai buku bacaan dan hasil baca selalu saja ia tulis di pinggir halaman buku (dalam bahasa jawa: plipitan). Karena sering menulis di kertas yang sangat terbatas, kemampuan menulis dengan rapi dan terstruktur akhirnya tercipta secara perlahan. Seingat saya, Pak Marlan sering cerita “Saya belajar minimal dua kali, waktu saya datang dari sekolah dan ketika malam hari”. Cerita ini sering disampaikannya di depan kelas kala salah satu teman kami dihukumnya berdiri.
Sedikit cerita dan gambaran tentang sosok Pak Marlan muda yang berusaha berdiri tegak di bawah bayang pendidikan ini kemudian menjadi salah satu motivasi saya untuk mencintai buku. Selain karena dorongan orang tua saya yang mewajibkan untuk belajar di malam hari bakda maghrib, habits saya untuk membaca buku setelah subuh juga datang dari motivasi belajar yang dilakukan Pak Marlan. Kecintaan Pak Marlan pada buku ini kemudian saya terjemah secara personal, bahwa saya harus memiliki waktu khusus untuk membaca bukan mengerjakan PR ataupun latihan soal di malam hari.
Lama tradisi itu saya lakukan hingga saya menamatkan pendidikan MTs dan MA di Pesantren Manbail Futuh Tuban. Tanpa meninggalkan kebiasaan yang mulai terbangun itu, sejak masuk pesantren saya mulai mengoleksi kitab dan buku bacaan kecil. Saya cari buku bacaan ringan mulai dari Detektif Canon hingga buku yang sedikit berat, misalnya buku karangan Sri Wintala Achmad atau Nadirsyah Hosein. Tradisi ini juga tidak bisa saya tinggalkan pasca dinyatakannya saya diterima di Program Studi Ilmu Hadis UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Saya terus memburu bahan bacaan baik kitab ataupun buku. Hingga di satu titik, saya pernah melakukan review 21 buku dan 7 kitab. Review ini hasil bacaan yang saya khatamkan selama satu tahun. Tentu ini bukan prestasi ataupun pencapaian yang menakjubkan. Ini adalah fakta yang lahir dari kebiasaan kecil dan tumbuh mendewasa seiring berjalannya waktu.
Ada satu keinginan saya untuk bisa menulis rapi seperti tulisan Pak Marlan, tapi agaknya saya tidak bisa mencapainya. Namun, di balik kelemahan seseorang pasti muncul satu anugerah. Hingga saat ini saya memang tidak bisa menulis serapi Pak Marlan, namun atas anugerah Allah Swt saya lewat didikan dosen dan mentor saya seperti Pak Amrullah Ali Moebin, Ustadz Natsir, dan Prof. Ngainun Naim saya berhasil menghasilkan beberapa tulisan yang terbit di jurnal nasional, berita, ataupun buku. Hingga saat ini setidaknya saya bisa konsisten berkarya, meneliti, dan produktif menulis; semuanya dapat dilihat di Goegle Scholar saya.
Sedikit cerita Pak Marlan ini menggugah emosi saya untuk menulis sekelumit kata. Saya sangat bersyukur atas didikan dan semangat yang diberikan, saya berdoa di manapun dan kapan pun semoga beliau senantiasa di bawah lindungan Allah Swt. Pun untuk saya pribadi, saya akan melanjutkan pendidikan S2 di salah satu universitas ternama di Yogyakarta, dan saya bersaksi tidak akan meninggalkan habits yang selama ini terbangun.