Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Memulihkan “Rasa” dalam Ruang Belajar: Refleksi Hardiknas 2026

Redaksi

Sabtu Wage, 2 Mei 2026, bukan sekadar tanggal merah di kalender. Bagi saya pribadi, hari ini memiliki makna ganda yang mendalam: selain sebagai Hari Pendidikan Nasional, hari ini juga merupakan hari lahir putri saya, Kheyran Zelma Emerald Ahardha.

Melihatnya tumbuh adalah melihat masa depan di depan mata. Bagi kita yang berdiri di depan kelas—baik itu ruang kelas sekolah dasar yang riuh maupun aula kuliah yang penuh ambisi—hari ini adalah cermin besar. Pertanyaannya bukan lagi seberapa canggih teknologi yang kita adopsi, melainkan: Sudahkah roh pendidikan benar-benar hadir di sana?

Melampaui Euforia Digital

Beberapa tahun terakhir, kita terjebak dalam perlombaan digitalisasi. Kita bangga dengan platform pembelajaran berbasis AI, sistem manajemen konten yang otomatis, hingga kurikulum yang terus berganti baju. Namun, sebagai guru dan dosen, kita seringkali merasa ada yang hilang di tengah keriuhan itu. Kita memiliki akses tanpa batas pada informasi, namun sepertinya kita semakin miskin akan makna.

Pendidikan bukan sekadar transfer data dari server ke otak siswa. Ki Hadjar Dewantara, Sang Bapak Pendidikan, sejak seabad lalu mengingatkan bahwa pendidikan adalah “tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak”. Kata kuncinya adalah menuntun, bukan sekadar menginstruksikan. Di tahun 2026 ini, tantangan terbesar kita sebagai pendidik bukanlah bersaing dengan algoritma, melainkan mempertahankan sisi kemanusiaan yang tidak bisa digantikan oleh mesin mana pun.

Krisis Koneksi di Era Konektivitas

Sebagai pendidik, kita menyaksikan fenomena yang paradoks. Siswa dan mahasiswa kita sangat terkoneksi secara digital, namun mereka seringkali merasa terisolasi secara emosional. Di sinilah peran guru dan dosen harus bergeser. Kita bukan lagi sumber tunggal kebenaran (the sage on the stage), tetapi kita adalah kurator empati dan kompas moral.

Refleksi Hardiknas kali ini harus menyentuh aspek fundamental: kualitas interaksi. Apakah di kelas kita masih ada ruang untuk kegagalan tanpa rasa malu? Apakah ada ruang untuk pertanyaan yang tidak memiliki jawaban di buku teks? Pendidikan yang memerdekakan adalah pendidikan yang memberikan keberanian pada siswa untuk berpikir berbeda, bukan sekadar menjadi mesin fotokopi ide-ide gurunya.

Memanusiakan Kembali Kurikulum

Seringkali, beban administratif membuat kita, para pendidik, kehilangan gairah. Kita lebih sibuk mengisi borang, memenuhi laporan kinerja, dan mengejar metrik akreditasi daripada mendengarkan kegelisahan batin anak didik kita. Kita terjebak dalam birokratisasi ilmu pengetahuan.

Hardiknas 2026 adalah momentum untuk “pulang” ke jati diri pendidik. Kita perlu menyadari bahwa kurikulum hanyalah alat, bukan tujuan. Tujuan akhir kita adalah membentuk manusia yang beradab—mereka yang tidak hanya pintar secara kognitif, tetapi juga peka secara sosial. Di tengah ancaman krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan polarisasi informasi, dunia tidak butuh lebih banyak orang pintar yang rakus; dunia butuh orang-orang pintar yang memiliki nurani.

Dosen dan Guru sebagai Pemantik Api

Menjadi pendidik di masa sekarang menuntut ketabahan yang luar biasa. Kita harus menjadi pembelajar sepanjang hayat sebelum meminta siswa kita melakukannya. Kita harus memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa kadang-kadang, siswa kita lebih tahu tentang teknologi tertentu, namun kitalah yang harus mengajarkan mereka bagaimana teknologi itu digunakan untuk kebaikan bersama.

Pendidikan adalah proses “ngemong”. Guru di sekolah dasar menyemai benih karakter, sementara dosen di perguruan tinggi menumbuhkembangkan daya kritis agar benih itu menjadi pohon yang kokoh bagi peradaban. Keduanya adalah satu tarikan napas. Tidak ada dikotomi antara pendidikan dasar dan tinggi; keduanya adalah perjalanan panjang membentuk manusia Indonesia yang utuh.

Penutup: Merawat Harapan

Menutup refleksi ini, mari kita menatap wajah-wajah di ruang kelas kita esok hari. Di balik layar laptop atau di balik meja kayu yang mulai usang, ada harapan bangsa yang dititipkan pada pundak kita.

Bagi saya, komitmen ini menjadi lebih personal hari ini. Sembari merayakan ulang tahun Kheyran Zelma Emerald Ahardha, saya teringat bahwa setiap anak didik adalah “Kheyran” bagi orang tuanya masing-masing—permata yang harus dijaga dan dituntun cahayanya.

Hardiknas 2026 harus menjadi titik balik untuk mengembalikan “rasa” dalam pendidikan. Mari kita kurangi kebisingan teknis dan perbanyak dialog yang substantif. Pendidikan adalah tentang menyalakan api, bukan mengisi ember. Dan api itu hanya bisa menyala jika kita, para pendidik, menjaga nyala api dalam diri kita sendiri tetap berkobar.

Penulis : Agus Hariyanto – Guru SMAN Kertosono Nganjuk

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer