Jakarta—Rektor Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung sekaligus Ketua Panitia Nasional (PanNas) Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN 2026, Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I., menyampaikan laporan pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2026 dalam rangkaian kegiatan Skoring, Simulasi, Sidang Kelulusan, dan Evaluasi Nasional PMB PTKIN 2026 yang berlangsung pada 26–28 Juni 2026 di The Grand Platinum Hotel Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Laporan tersebut disampaikan di hadapan Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Direktur Jenderal Pendidikan Islam Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag., Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Prof. Dr. phil. Sahiron, M.A., para rektor PTKIN, serta jajaran pokja PMB PTKIN 2026.
Pada sesi laporan, Prof. Abd. Aziz memaparkan capaian penyelenggaraan UM-PTKIN 2026 yang mengusung tema “Transformasi UM-PTKIN: Skala Masif, Inklusivitas Nyata, dan Inovasi Digital.” Ia menyampaikan bahwa UM-PTKIN tahun ini diikuti 92.524 pendaftar, dengan 52.966 peserta dinyatakan lulus atau sekitar 57 persen. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa proses seleksi nasional PTKIN semakin kompetitif sekaligus tetap menjaga kualitas calon mahasiswa yang diterima.
Dari sisi persebaran peserta, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah pendaftar terbanyak sebanyak 9.245 peserta, disusul Jawa Timur sebanyak 8.971 peserta, dan Jawa Tengah sebanyak 7.440 peserta. Sementara itu, peningkatan jumlah peserta dari Sumatera, Sulawesi Selatan hingga Papua menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi keagamaan Islam.
Prof. Abd. Aziz juga menegaskan bahwa penyelenggaraan UM-PTKIN 2026 semakin mencerminkan prinsip pendidikan yang inklusif. Sebanyak 46 peserta penyandang disabilitas dan 20 peserta non-Muslim turut mengikuti seleksi. Selain itu, peserta berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, baik madrasah maupun sekolah umum, sehingga menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap PTKIN. Untuk mendukung penyelenggaraan seleksi yang lebih modern, Panitia Nasional menghadirkan berbagai inovasi, mulai dari layanan ramah difabel, integrasi data nasional, hingga pengembangan layanan digital melalui chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI), simulasi ujian, dan penguatan sistem admisi nasional.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Panitia Nasional PMB PTKIN 2026. Menurutnya, peningkatan jumlah mahasiswa baru melalui jalur SPAN-PTKIN dan UM-PTKIN yang mencapai lebih dari 25% menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap PTKIN.
Ia menegaskan bahwa PTKIN saat ini telah berkembang menjadi perguruan tinggi yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi umum, termasuk dalam pemeringkatan internasional. Untuk mendukung hal tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam tengah melakukan reformasi pengembangan program studi melalui penguatan program akademik, profesi, dan vokasi, sekaligus memperluas kerja sama internasional guna meningkatkan mobilitas dosen, mahasiswa, dan mahasiswa asing di lingkungan PTKIN.
Selain itu, penguatan karakter mahasiswa juga terus dilakukan melalui optimalisasi ma’had sebagai pusat integrasi ilmu keislaman, ilmu pengetahuan, dan pembinaan karakter. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mencetak lulusan PTKIN yang unggul secara akademik sekaligus memiliki kompetensi keagamaan yang kuat.
Dalam kegiatan tersebut, Direktorat PTKI juga memberikan Diktis Award 2026 kepada sejumlah PTKIN atas capaian di bidang pemeringkatan internasional, publikasi ilmiah, transformasi digital, dan tata kelola kelembagaan. Penghargaan diberikan kepada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Raden Intan Lampung, UIN Mataram, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan UIN Alauddin Makassar sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.
Menutup rangkaian kegiatan, Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa PTKIN memiliki dua mandat besar, yakni sebagai institusi pendidikan tinggi sekaligus institusi dakwah. Oleh karena itu, lulusan PTKIN diharapkan mampu menjadi akademisi yang unggul, pendakwah yang mencerahkan, sekaligus pemimpin umat yang berintegritas.
Dalam arahannya, Menteri Agama mengajak seluruh PTKIN melakukan transformasi cara berpikir dalam penyusunan kebijakan. Menurutnya, kebijakan perguruan tinggi tidak boleh lagi didasarkan pada asumsi atau spekulasi, tetapi harus dibangun melalui riset dan data yang valid. Ia menjelaskan bahwa semangat tersebut selaras dengan pesan Al-Qur’an melalui perintah pertama “Iqra’”, yang mengajarkan pentingnya membaca realitas, melakukan observasi, dan menghimpun data sebelum mengambil keputusan.
Selain itu, Menteri Agama menginstruksikan seluruh PTKIN untuk menerapkan standar manajemen mutu internasional (ISO), memperkuat micromanagement, serta meningkatkan tata kelola perguruan tinggi yang profesional, transparan, dan akuntabel. Menurutnya, transformasi tersebut menjadi fondasi penting agar PTKIN semakin adaptif menghadapi tantangan global sekaligus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui kegiatan Skoring, Simulasi, Sidang Kelulusan, dan Evaluasi Nasional PMB PTKIN 2026, Kementerian Agama kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat transformasi pendidikan tinggi keagamaan Islam yang inklusif, adaptif, berbasis data, berdaya saing global, serta mampu melahirkan lulusan yang unggul, berintegritas, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.