Suluk ID – Merawat Islam yang Ramah Kirim Artikel

Dorong Produktivitas Guru Lewat Al, Datangkan Dua Pakar dari Malaysia

Redaksi

Jombang – Dua narasumber didatangkan langsung dari Malaysia dalam Workshop Pemanfaatan Generative Artificial Intellegence (AI) Dalam Peningkatan Produktivitas Guru, Jumat (17/7). Keduanya adalah Prof Keith Thong, Managing Director University Bookstore Malaysia, dan Franklin Styne Iyadurai, Ph.D.

Sejak pagi hingga petang, sebanyak 40 peserta terpilih mengikuti kegiatan. Acara digelar Madrasah Aliyah Unggulan (MAU) KH Abdul Wahab Hasbullah Tambakberas bekerja sama dengan PT Solusi Edukasi Internasional (SEI). Rangkaian kegiatan juga penandatanganan nota kesepahaman tentang program English Learning For School (ELFS).

Kepala MAU Tambakberas, Faizun, menjelaskan bahwa workshop digelar untuk mendukung proses belajar mengajar sehari-hari. “Terutama meningkatkan produktivitas dan kapasitas guru dalam memanfaatkan Generative AI,” ujarnya.

Bayu Setiawan, Business Development Manager PT SEl, menegaskan bahwa kehadiran teknologi modern sama sekali tidak bertujuan untuk menggeser peran pendidik di kelas. “Teknologi tidak akan menggantikan guru, tapi teknologi hadir untuk memperkuat ikhtiar dan membantu kerja para guru,” ujarnya.

Dia menambahkan dalam waktu tiga bulan ke depan akan berjalam kelas sampling ELFS. “Kita perlu mencontoh keteladanan dari KH Wahab Hasbullah, yang selalu berpikir visioner jauh ke depan,” imbuhnya.

Ketua Yayasan Bahrul.Ulum Tambakberas, KH Abdurrozaq Sholeh, mendorong para peserta untuk menjadi orang alim yang relevan dengan zaman. “Acara ini menunjukkan pentingnya bagi seorang yang berilmu (alim) untuk terus adaptif terhadap perkembangan masa,” ujarnya.

Kiai akrab disapa Gus Rozaq ini berharap ilmu yang diperoleh dari workshop ini bisa terus ditularkan kepada para murid. “Kita tidak boleh menutup mata dari kemajuan,” imbuhnya.

Saat menyampaikan materi, Prof Keith Thong melakukan pemetaan tantangan sekolah modern yang harus mampu bergerak lebih cepat dibanding ekspektasi orang tua dan siswa.

“Sekolah harus hadir sebelum mereka bertanya. Ingat, saat ini siswa dan orang tua meneliti sekolah secara diam-diam dan jauh sebelum mereka memutuskan untuk mendaftar,” ujarnya.

Dia lantas menjabarkan bagaimana kecerdasan buatan telah merambah kehidupan sehari-hari. “Mulai dari mobilitas otonom hingga ruang pintar, sehingga ruang kelas pun tidak boleh tertinggal,” imbuhnya.

Menatap tahun 2027-2028, lanjutnya, bahasa Inggris diproyeksikan menjadi mata pelajaran wajib. Maka kesiapan harus dipupuk dari sekarang. “Bahasa Inggris adalah paspor generasi global,” paparnya.

Sedangkan Franklin Styne Iyadurai memberikan sebuah refleksi mendalam sekaligus menggelitik mengenai disrupsi teknologi di ruang kelas.

“Ada kabar baik dan kabar buruk untuk kita semua hari ini terkait AI,” ujarnya.

“Kabar baiknya, AI tidak akan pernah menggantikan peran guru,” katanya. “Namun, kabar buruknya Anda akan segera digantikan oleh guru lain yang menggunakan AI,” ungkapnya disambut senyum para peserta.

Dia menjelaskan bahwa di balik kecanggihan kecerdasan buatan yang mampu mentransformasi metode pengajaran saat ini, terdapat sistem kerja replika biologis yang kuat. “Yaitu jaringan syaraf tiruan (neural networks),” pungkasnya. (sum)

kontributor: Teto Sumarsono, Wakil Kepala.MAU Wahab Hasbullah Tambakberas.

Redaksi
Ditulis oleh

Redaksi

Suluk.id merawat Islam Ramah serta mengajak beragama yang menggembirakan

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Topik Populer